Beritamerdekaonline.com, Wonogiri – Pada Minggu, 7 Juli 2024, Desa Tanjungsari, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, menggelar acara Grebek Suro untuk merayakan pergantian Tahun Baru Islam 1446 Hijriah. Acara ini diadakan di Lapangan Desa Tanjungsari dan menampilkan pentas budaya Reyog Ponorogo yang sangat dinantikan oleh masyarakat setempat.
Grebek Suro di Desa Tanjungsari diawali dengan pembacaan doa oleh tokoh masyarakat setempat, dilanjutkan dengan sambutan dari panitia pelaksana. Salah satu panitia, Putut, menyampaikan bahwa acara ini selain untuk menyambut Tahun Baru Hijriah, juga bertujuan untuk menghidupkan kembali UMKM di desa tersebut. Putut juga menekankan pentingnya menjaga dan melestarikan seni budaya, khususnya Reyog Ponorogo, yang selama hampir sepuluh tahun terakhir ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah setempat.
Acara Grebek Suro menampilkan sepuluh grup seni Reyog Ponorogo, salah satunya adalah grup Reyog Jatimergo dari Desa Bundalem, Kecamatan Slogohimo. Penampilan mereka berhasil memukau penonton dan membawa semangat baru bagi pelestarian budaya tradisional di Desa Tanjungsari dan sekitarnya.

Acara ini juga dihadiri oleh Wakil Bupati Wonogiri, Setiyo Sukarno, dan anggota DPRD Wonogiri, H. Tarso. Keduanya diberikan kesempatan untuk memberikan sambutan. Dalam sambutannya, H. Tarso memperkenalkan diri serta menceritakan riwayat pengabdiannya di masyarakat desa. Ia mengungkapkan bahwa dirinya pernah menjabat sebagai Ketua BPD, kemudian sebagai Kepala Desa selama dua tahun, sebelum akhirnya terpilih menjadi anggota DPRD Wonogiri pada tahun 2009 hingga saat ini.
Menjelang masa pensiunnya pada Agustus tahun ini, H. Tarso meminta doa restu dari masyarakat Desa Tanjungsari dan Wonogiri secara umum untuk melanjutkan pengabdiannya dengan mencalonkan diri sebagai Bupati atau Wakil Bupati Wonogiri periode 2024-2029. ”Hal ini disambut hangat oleh masyarakat yang hadir.”
Salah satu tujuan utama dari Grebek Suro adalah untuk menghidupkan kembali UMKM di Desa Tanjungsari dan memberikan ruang bagi para pelaku seni untuk menampilkan karya mereka. Acara ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lain untuk terus melestarikan budaya adiluhung di Indonesia.
Grebek Suro di Desa Tanjungsari dapat dijadikan contoh bagi desa-desa lain dalam melestarikan budaya dan menggerakkan ekonomi lokal. Dengan adanya acara seperti ini, diharapkan seni budaya tradisional seperti Reyog Ponorogo dapat terus hidup dan berkembang, serta memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat.
Selama acara, para pengunjung disuguhi berbagai atraksi budaya yang memukau. Selain Reyog Ponorogo, terdapat juga berbagai penampilan seni lainnya yang menambah kemeriahan acara. Kehadiran sepuluh grup seni Reyog Ponorogo dari berbagai desa menunjukkan antusiasme masyarakat dalam melestarikan budaya tradisional ini.
Dalam sambutannya, Wakil Bupati Setiyo Sukarno mengapresiasi upaya masyarakat Desa Tanjungsari dalam melestarikan budaya dan menggerakkan ekonomi lokal. Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan dan menjadi contoh bagi daerah lain. Sementara itu, H. Tarso dalam sambutannya menekankan pentingnya dukungan masyarakat dalam setiap langkah pengabdiannya. (Adv/Kastomo)
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan