Manna, Beritamerdekaonline.com – Balai Bahasa Provinsi Bengkulu, di bawah naungan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, resmi memulai rangkaian program tahun anggaran 2026. Langkah awal ini ditandai dengan pelaksanaan kegiatan Peningkatan Kemahiran Berbahasa Indonesia (PKBI) bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Terbina Literasi di Kabupaten Bengkulu Selatan.

Bertempat di Aula SMAN 5 Bengkulu Selatan, kegiatan ini diikuti oleh sedikitnya 50 peserta yang terdiri atas 25 guru dan 25 tenaga kependidikan. Para peserta merupakan perwakilan dari 25 sekolah yang masuk dalam kategori Asesmen Nasional (AN) Literasi K-1 dan K-2. Fokus utama kegiatan ini adalah memperkuat fondasi kebahasaan di lingkungan sekolah guna menciptakan ekosistem literasi yang lebih berkualitas.
Acara ini dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bengkulu Selatan, Lusi Wijaya, M.Pd. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya peran guru sebagai teladan dalam berbahasa. Ia memberikan apresiasi tinggi kepada Balai Bahasa Provinsi Bengkulu yang telah proaktif memfasilitasi para tenaga pendidik di wilayahnya.
“Kami sangat mengapresiasi upaya Balai Bahasa Provinsi Bengkulu dalam memfasilitasi guru-guru kita. Kegiatan ini akan berdampak sangat positif, terutama dalam meningkatkan efektivitas proses komunikasi pembelajaran antara guru dan siswa di sekolah. Kemahiran berbahasa adalah kunci utama dalam penyampaian ilmu pengetahuan,” ujar Lusi Wijaya dalam pidatonya.
Program PKBI ini tidak hanya sekadar formalitas, melainkan upaya sistematis untuk meningkatkan sikap positif pendidik terhadap bahasa nasional. Selain itu, kegiatan ini bertujuan memutakhirkan penggunaan bahasa Indonesia dalam ranah pendidikan, baik dalam konteks profesional formal maupun komunikasi sehari-hari di lingkungan sekolah.
Guna memastikan kualitas pelatihan, Balai Bahasa Provinsi Bengkulu menghadirkan jajaran Widyabasa ahli. Hellen Astria, M.Pd. (Widyabasa Ahli Muda), mengawali sesi dengan pemaparan mendalam mengenai Ejaan dan Kalimat dalam Bahasa Indonesia. Materi ini krusial mengingat seringnya terjadi kekeliruan struktural dalam penulisan dokumen resmi sekolah.
Selanjutnya, Resy Novalia, M.Pd. (Widyabasa Ahli Pertama), membedah teknik penyusunan Paragraf dalam Bahasa Indonesia yang kohesif dan koheren. Sesi terakhir diisi oleh Melda Herlita, S.Pd. (Widyabasa Ahli Pertama), yang memaparkan materi mengenai Bentuk dan Pilihan Kata (Diksi), yang bertujuan agar para pendidik mampu memilih kata yang tepat sesuai dengan situasi komunikasi yang dihadapi.
Keunikan dari program ini adalah sifatnya yang berkelanjutan. Setelah pemaparan materi, para peserta akan menjalani tahap pendampingan intensif. Sebagai tolok ukur keberhasilan, peserta akan mengikuti tes akhir untuk membandingkan tingkat kemahiran mereka sebelum dan sesudah pelatihan. Sebagai bentuk penghargaan, seluruh peserta diberikan fasilitas gratis untuk mengikuti Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) Adaptif.

Tinggalkan Balasan