Oleh : Welni Setiawati Bako merupakan Mahasiswi UIN Sultanah Nahrasyiah Lhokseumawe
Membayar Adat Simfoni Rasa dalam Ikatan Dua Keluarga
Beritamerdekaonline.com – Di balik gemerlap pesta pernikahan, terselip sebuah nyanyian lama yang terus bergema dari generasi ke generasi. Bagi masyarakat Sidikalang, pernikahan bukan sekadar menyatukan dua hati, melainkan menjalin dua akar menjadi satu pohon kehidupan yang kokoh. Tradisi “Membayar Adat” hadir layaknya jembatan emas yang menghubungkan dua keluarga dalam satu harmoni.Masda Lipah Maha menggambarkan tradisi ini sebagai puncak gunung dalam rangkaian adattinggi, sakral, dan penuh makna.

Tradisi ini ibarat mahkota dalam pesta pernikahan di Sidikalang,Prosesi ini berlangsung setelah pesta usai, ketika gema musik mulai mereda, namun makna justru semakin menguat. Pihak keluarga perempuan disambut baik,khususnya paman (tulang) yang berdiri sebagai tiang penyangga dalam adat.Pemberian uang kepada paman bukan sekadar transaksi, melainkan ungkapan terima kasih yang dibungkus dalam simbol. Seolah-olah, setiap lembar uang menjadi bahasa yang berbicara tentang penghormatan dan kasih sayang.
Setelah itu, doa-doa mengalir seperti air yang menyejukkan, mengiringi langkah pengantin menuju bahtera rumah tangga. Harapan dipanjatkan agar kehidupan mereka kelak tenang seperti danau dan kuat seperti batu karang.Suasana semakin hidup dengan manortor tarian adat yang bukan sekadar gerak tubuh, melainkan dialog jiwa antar keluarga. Dalam setiap langkah kaki dan ayunan tangan, tersirat pesan persatuan.
Barang-barang yang dibawa pun bukan benda biasa. Ayam melambangkan kehidupan, tikar sebagai tempat berpijak, ulos sebagai pelindung hangat, dan uang sebagai pengikat tanggung jawab. Semua saling bertukar, seperti dua sungai yang akhirnya bermuara menjadi satu.Tradisi ini melibatkan banyak pihak, bagaikan anyaman yang saling menguatkan satu sama lain. Tidak ada yang berdiri sendiri, karena setiap individu adalah benang dalam kain kebersamaan.
Makna dari “Membayar Adat” pun dalam seperti sumur yang tak pernah kering. Tradisi ini dipercaya membuka pintu rezeki dan memperkenalkan kedua keluarga agar tidak lagi asing, melainkan menjadi satu dalam rasa dan tujuan. Tradisi ini seperti pintu gerbang menuju kehidupan baru yang penuh berkah, Di tengah arus modernisasi yang deras seperti ombak, tradisi ini tetap berdiri tegak seperti batu karang.
Meski alat musik berubah dari gendang menjadi kibot, jiwa tradisi tetap bernapas dalam setiap prosesi.Yang paling menenangkan, generasi muda masih menggenggam erat warisan ini. Mereka tidak membiarkan tradisi hanyut ditelan zaman, melainkan menjaganya seperti menjaga nyala api agar tetap menyala. Tradisi ini adalah jejak langkah nenek moyang yang tidak boleh hilang tertiup angin.
Tradisi “Membayar Adat” bukan sekadar rangkaian acara, melainkan denyut nadi yang menjaga kehidupan budaya tetap bernapas. Di dalamnya, nilai-nilai luhur bersemi seperti bunga yang tak lekang oleh musim, menghadirkan kehangatan dalam setiap ikatan keluarga. Selama masih ada hati yang merawatnya, tradisi ini akan terus menyala seperti api yang tak padam menghangatkan, menyatukan, dan menerangi perjalanan generasi yang akan datang.
Sumber: Masdalifa Maha, 51 tahun _ warga desa Sidikalang, Kab. Dairi.




Tinggalkan Balasan