‎Bengkulu, Beritamerdekaonline.com – Direktur RSUD M. Yunus, dr. Hery Kurniawan, menegaskan bahwa pihak rumah sakit terus melakukan pembenahan pelayanan demi meningkatkan kenyamanan masyarakat. Berbagai keluhan pasien mulai dari antrean panjang, ruangan panas, hingga kebersihan fasilitas menjadi perhatian serius manajemen rumah sakit.

Direktur RSUD M. Yunus, dr. Hery Kurniawan.


‎Menurut dr. Hery, RSUD M. Yunus memiliki unit pelayanan pengaduan dan informasi yang secara khusus menerima serta menindaklanjuti seluruh masukan dari masyarakat. Setiap keluhan yang masuk disebut menjadi bahan evaluasi untuk perbaikan pelayanan secara bertahap.

‎“Keluhan tentang antrean panjang memang masuk ke kami. Begitu juga soal ruangan rawat inap yang panas maupun kebersihan kamar mandi di poli. Semua itu menjadi perhatian manajemen,” ujar dr. Hery, di ruang kerjanya, Selasa (19/5/2026).

‎Ia menjelaskan, sejumlah perbaikan sudah mulai dilakukan, terutama pada fasilitas rawat inap. Saat ini, layanan rawat inap yang sebelumnya berada di Ruang Melati telah dipindahkan ke Ruang Fatmawati dengan standar fasilitas yang lebih baik.

‎Menurutnya, ruang rawat inap standar di lokasi baru tersebut minimal setara kelas satu. Dalam satu kamar kini rata-rata hanya diisi dua pasien, dilengkapi pendingin ruangan atau AC yang memadai, serta kamar mandi yang telah mengikuti standar dari Kementerian Kesehatan.

‎“Sekarang tidak ada lagi kamar yang diisi tiga sampai empat pasien. Rata-rata dua pasien per kamar dengan fasilitas yang lebih nyaman,” katanya.

‎Selain itu, pihak rumah sakit juga menyiagakan petugas kebersihan untuk menjaga kondisi ruangan dan toilet tetap bersih. Kendati demikian, dr. Hery mengakui masih ada sejumlah fasilitas yang perlu ditingkatkan, khususnya kebersihan toilet di area poli.

‎Ia mengatakan, manajemen bahkan memiliki target agar kebersihan toilet rumah sakit dapat setara dengan fasilitas umum modern yang selalu dibersihkan setelah digunakan.

‎“Kami ingin ke depan toilet rumah sakit benar-benar nyaman. Begitu selesai dipakai, langsung dibersihkan. Memang belum sempurna, tetapi kami bercita-cita ke arah sana,” ujarnya.

‎Terkait keluhan ruangan panas yang sempat ramai diperbincangkan masyarakat, dr. Hery memastikan saat ini seluruh ruangan sudah dipasangi unit AC baru. Ia bahkan mengaku beberapa pasien dan pengunjung justru merasa terlalu dingin setelah pendingin ruangan dioptimalkan.

‎“Sekarang sebagian ruangan malah terlalu dingin menurut beberapa pasien. Tetapi itu menjadi bagian dari penyesuaian pelayanan,” katanya.

‎Sementara itu, mengenai persoalan antrean panjang, dr. Hery menjelaskan kondisi tersebut tidak dapat sepenuhnya dihindari karena rumah sakit pemerintah memiliki kewajiban melayani seluruh masyarakat tanpa pembatasan jumlah pasien.

‎Ia membandingkan kondisi tersebut dengan sejumlah rumah sakit swasta yang dapat membatasi kuota layanan harian sehingga antrean terlihat lebih tertib.

‎“Kalau rumah sakit swasta, misalnya kuotanya 20 pasien, maka pasien ke-21 tidak bisa mendaftar lagi. Sedangkan rumah sakit pemerintah tidak boleh membatasi layanan. Semua masyarakat tetap harus dilayani,” jelasnya.

‎Meski demikian, pihak rumah sakit tetap berupaya mencari solusi agar antrean lebih nyaman bagi masyarakat. Salah satu langkah yang sedang disiapkan ialah penambahan mesin pendaftaran mandiri untuk mempercepat proses registrasi pasien.

‎Selain itu, rumah sakit juga berencana memperluas area tunggu dengan memasang awning atau kanopi di teras belakang instalasi gawat darurat (IGD). Area tersebut nantinya akan dilengkapi blower agar pasien dan keluarga tetap merasa nyaman meskipun menunggu di luar gedung utama.

‎Menurut dr. Hery, penumpukan pasien sering terjadi karena banyak masyarakat datang terlalu pagi meskipun jadwal pelayanan melalui sistem digital sebenarnya sudah ditentukan.

‎Ia mencontohkan, pasien yang mendapat estimasi layanan pukul 10.00 pagi kerap datang sejak pukul 08.00 pagi sehingga ruang tunggu menjadi penuh.

‎“Secara naluri orang sakit memang ingin cepat dilayani. Itu yang kami pahami. Karena itu kami akan berusaha menambah kapasitas ruang tunggu agar masyarakat tetap nyaman,” ujarnya.

‎Hery juga mengimbau masyarakat yang sudah memahami sistem digital BPJS Kesehatan agar datang sesuai jadwal yang tercantum di aplikasi untuk mengurangi penumpukan antrean.

‎Selain pembenahan fasilitas dan sistem antrean, manajemen RSUD M. Yunus juga tengah menyiapkan konsep layanan yang lebih ramah bagi pasien dan keluarga. Ke depan, area poli tidak hanya menjadi tempat menunggu pengobatan, tetapi juga dilengkapi berbagai fasilitas pendukung.

‎Rumah sakit berencana menyediakan kantin sehat hingga area usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjual makanan ringan bagi pengunjung. Namun, keberadaan tenant tersebut tetap harus memperhatikan kebersihan dan tidak mengganggu pelayanan kesehatan.

‎“Kami sudah mulai menerima usulan dari pelaku UMKM. Prinsipnya boleh, selama tidak mengganggu pelayanan dan tetap menjaga kebersihan,” kata dr. Hery.

‎Ia menegaskan bahwa RSUD M. Yunus merupakan wajah layanan kesehatan utama di Provinsi Bengkulu sehingga membutuhkan dukungan seluruh masyarakat untuk terus berkembang menjadi lebih baik.

‎Menurutnya, pembenahan rumah sakit tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan membutuhkan proses bertahap dan komitmen bersama antara manajemen, pegawai, serta masyarakat.

‎“Jangankan masyarakat, saya dan keluarga saya sendiri juga bisa menjadi pasien di sini suatu saat nanti. Karena itu mari kita sama-sama membenahi rumah sakit ini sedikit demi sedikit,” ujarnya.

‎Hery menambahkan, kritik dan keluhan dari masyarakat justru menjadi bagian penting dalam proses peningkatan mutu pelayanan. Ia menilai tidak mungkin rumah sakit besar terbebas sepenuhnya dari keluhan pasien.

‎“Kalau tidak ada komplain, tidak ada evaluasi. Dari keluhan itulah muncul perbaikan pelayanan,” tutupnya.