Kepahiang, Beritamerdekaonline.com – Sebanyak 16 orang yang terdiri dari 14 siswa, satu guru, dan satu penjaga sekolah di SD Negeri 18 Kepahiang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (4/6/2026). Menindaklanjuti kejadian tersebut, jajaran Polres Kepahiang bersama Dinas Kesehatan, pihak puskesmas, sekolah, serta penyelenggara program bergerak cepat melakukan penanganan dan pemantauan terhadap para penerima manfaat.

Ketua Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas (HMD-Gemas) Wilayah Regional Bengkulu, Wehelmi Ade Tarigan, S.H., M.M., menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin terburu-buru menyimpulkan penyebab kejadian tersebut sebagai keracunan makanan.

“Tidak ada keracunan. Kalau memang keracunan, seharusnya penerima manfaat di sekolah lain juga mengalami hal yang sama. Namun faktanya tidak ada, hanya terjadi di SD Negeri 18 Kepahiang. Kami tidak ingin menyalahkan siapa pun,” ujar Wehelmi.
Ia juga berharap adanya komunikasi yang lebih baik antara orang tua, pihak sekolah, dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terkait kondisi kesehatan anak, khususnya apabila memiliki riwayat alergi terhadap makanan tertentu.
“Harapan kami, apabila ada anak yang memiliki alergi makanan, mohon disampaikan kepada pihak sekolah atau SPPG agar dapat menjadi perhatian bersama dalam penyediaan makanan bergizi,” tambahnya.
Sementara itu, berdasarkan informasi dari pihak puskesmas, keluhan yang dialami para siswa diduga mengarah pada indikasi atau gejala alergi terhadap telur. Beberapa gejala yang dilaporkan antara lain gatal-gatal dan muntah setelah mengonsumsi makanan yang disajikan dalam program tersebut.
Petugas kesehatan yang melakukan pemeriksaan langsung terhadap para siswa menyebutkan bahwa kondisi sebagian besar pasien relatif stabil dan telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur. Bahkan, sejumlah siswa yang sebelumnya menjalani observasi telah diperbolehkan pulang karena kondisi kesehatannya membaik.
Polres Kepahiang bersama instansi terkait terus melakukan pendalaman guna memastikan penyebab pasti kejadian tersebut. Kapolres Kepahiang telah menginstruksikan seluruh jajaran untuk mengambil langkah cepat dan terukur, mulai dari berkoordinasi dengan fasilitas kesehatan, mengumpulkan keterangan dari pihak sekolah dan penyelenggara program, hingga memonitor perkembangan situasi di lapangan.
Kabid Humas Polda Bengkulu, Kombes Pol. Ihsan Nur, S.I.K., menyampaikan bahwa penanganan kasus ini dilakukan secara profesional, transparan, dan melibatkan seluruh instansi yang memiliki kewenangan.
“Polda Bengkulu melalui Polres Kepahiang saat ini terus melakukan monitoring dan pendalaman terhadap kejadian tersebut. Kami mengutamakan keselamatan dan kesehatan para siswa serta memastikan seluruh proses penanganan berjalan dengan cepat dan tepat. Untuk penyebab pasti kejadian ini, kami masih menunggu hasil pemeriksaan medis dan uji laboratorium dari pihak yang berwenang,” ujar Ihsan Nur.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak berspekulasi mengenai penyebab kejadian sebelum hasil resmi dari pemeriksaan laboratorium diumumkan kepada publik.
Saat ini, sampel makanan yang dikonsumsi para siswa telah diamankan dan sedang menjalani proses pengujian laboratorium oleh instansi terkait. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan penyebab kejadian secara objektif berdasarkan fakta ilmiah.
Polda Bengkulu mengajak masyarakat, khususnya para orang tua siswa, untuk tetap tenang dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi. Informasi resmi diharapkan hanya berasal dari instansi berwenang guna menghindari kesalahpahaman dan penyebaran informasi yang tidak akurat.
Polda Bengkulu bersama pemerintah daerah, Dinas Kesehatan, BPOM, serta seluruh pemangku kepentingan terkait akan terus mengawal perkembangan kasus ini dan menyampaikan informasi secara terbuka kepada masyarakat hingga hasil pemeriksaan laboratorium selesai dan penyebab kejadian dapat dipastikan.




Tinggalkan Balasan