Oleh: Sopy Khadijah
Beritamerdekaonline.com – Di tengah laju pesatnya kemajuan teknologi dan sains, manusia kini dihadapkan pada persoalan besar, kehilangan arah moral. Ilmu pengetahuan memang berhasil menciptakan kemudahan luar biasa, dari kecerdasan buatan hingga eksplorasi luar angkasa, namun di balik itu semua muncul tanda tanya besar apakah kemajuan ini benar-benar membawa kebaikan bagi manusia?

Krisis etika global, penyalahgunaan teknologi, hingga rusaknya lingkungan menunjukkan bahwa ilmu sering kali berjalan tanpa kendali moral. Di sinilah aksiologi Islam, yakni kajian tentang nilai dan tujuan ilmu dalam pandangan Islam, menjadi sangat relevan untuk kita renungkan kembali.
ILmu dalam Pandangan Islam Tidak Netral dan Bebas Nilai
Bagi Islam, ilmu tidak pernah berdiri netral. Setiap ilmu memiliki arah, tanggung jawab, dan tujuan. Islam menolak pandangan sekuler yang memisahkan ilmu dari nilai. Sebab dalam Islam, ilmu selalu terikat dengan iman dan amal.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).
Hadis ini bukan hanya dorongan untuk menuntut ilmu, tetapi juga menegaskan bahwa mencari ilmu adalah ibadah. Maka, ilmu yang tidak membawa manfaat atau bahkan menimbulkan kerusakan sejatinya telah keluar dari nilai ibadah itu sendiri.
Al-Qur’ an juga mengingatkan:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra: 36).
Ayat ini mengajarkan bahwa ilmu menuntut tanggung jawab moral dan spiritual. Artinya, manusia tidak boleh menggunakan ilmunya untuk hal-hal yang merusak kemanusiaan atau melanggar keadilan.
Aksiologi Islam Ilmu Harus Mengaruh Pada Kemaslahatan
Dalam pandangan Islam, ilmu memiliki tujuan yang jelas mengantarkan manusia kepada kebahagiaan dunia dan akhirat (al-falah). Ilmu tidak hanya untuk mencari keuntungan ekonomi atau prestise sosial, tetapi juga untuk mewujudkan kemaslahatan dan keadilan.
Ada beberapa prinsip penting dalamAksiologi Islam:
1. Tauhid (Keesaan Allah)
Semua ilmu bersumber dari Allah dan harus digunakan untuk kebaikan. Prinsip tauhid menuntun manusia agar tidak sombong atas pengetahuannya dan tidak menggunakannya untuk keserakahan.
2. Amanah dan Tanggung Jawab
Ilmu adalah amanah. Seorang ilmuwan, peneliti, maupun pelajar wajib memastikan bahwa pengetahuannya tidak disalahgunakan untuk merusak kehidupan.
3. Keadilan dan Kemaslahatan
Ilmu harus membawa keadilan sosial dan manfaat bagi banyak orang. Pengetahuan yang hanya memperkaya segelintir orang tetapi menindas yang lain jelas bertentangan dengan nilai Islam.
4. Etika dalam Pencarian Ilmu
Dalam Islam, proses mencari ilmu tidak boleh dilakukan dengan cara curang, menipu, atau menjatuhkan orang lain. Ilmu yang diperoleh tanpa kejujuran tidak akan membawa berkah.
5. Keselarasan Akal dan Wahyu
Islam sangat menghargai akal, tetapi akal harus berjalan seiring dengan wahyu. Keduanya saling melengkapi: wahyu memberi arah, akal memberi penalaran.
Ketika Ilmu Kehilangan Moral
Perkembangan teknologi modern telah membawa perubahan besar, tetapi juga menghadirkan dilema. Kecerdasan buatan yang diciptakan untuk memudahkan manusia, misalnya, bisa menjadi ancaman jika dipakai untuk manipulasi informasi atau perang siber. Penemuan bioteknologi bisa menyelamatkan nyawa, tetapi juga bisa disalahgunakan untuk eksperimen yang merendahkan martabat manusia.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ilmu tanpa nilai moral hanya akan melahirkan krisis kemanusiaan. Manusia menjadi semakin pandai, tetapi kehilangan kebijaksanaan. Inilah yang oleh banyak pemikir Muslim disebut sebagai krisis aksiologi , ketika pengetahuan kehilangan arah etik dan spiritualnya.
Aksiologi Islam hadir untuk mengembalikan keseimbangan itu. Islam tidak menolak kemajuan, tetapi menegaskan bahwa kemajuan harus diarahkan untuk meningkatkan martabat manusia dan mendekatkan diri kepada Allah.
Belajar dari Masa Keemasan Islam
Sejarah mencatat, pada masa keemasan Islam (abad ke-8 hingga ke-13 M), nilai-nilai aksiologi Islam melahirkan peradaban besar yang menginspirasi dunia. Para ilmuwan seperti Al-Kindi, Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Al-Ghazali tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki visi moral dan spiritual yang kuat.
Mereka memandang penelitian dan penemuan sebagai bagian dari ibadah. Sains bagi mereka bukan sekadar penjelasan tentang alam, melainkan cara untuk memahami kebesaran Sang Pencipta.
Inilah yang membedakan peradaban Islam dari banyak peradaban lain: kemajuan ilmu yang berpijak pada moralitas dan tauhid.
Menghidupkan Kembali Arah Ilmu yang Bernilai
Kini, saat dunia bergerak semakin cepat, umat Islam dihadapkan pada tantangan besar untuk mengembalikan ruh aksiologis dalam setiap aspek ilmu dan teknologi. Kita membutuhkan generasi ilmuwan yang bukan hanya cerdas, tetapi juga berakhlak; bukan hanya mampu mencipta, tetapi juga memahami dampak dari ciptaannya.
Universitas, lembaga riset, dan sekolah Islam perlu menanamkan kembali prinsip bahwa menuntut ilmu bukan sekadar mengejar nilai atau gelar, melainkan bagian dari ibadah yang memiliki tanggung jawab sosial dan spiritual.
Kemajuan sejati adalah ketika teknologi dan sains mampu menghadirkan kemanusiaan, keadilan, dan keseimbangan alam. Bukan ketika ilmu membuat manusia kehilangan arah, tapi ketika ia menjadikan manusia semakin dekat dengan Tuhannya.
Penutup
Aksiologi Islam mengingatkan kita bahwa ilmu bukan hanya urusan akal, tapi juga urusan hati. Ilmu yang tidak dibingkai oleh moralitas akan kehilangan makna, sementara ilmu yang dibimbing oleh nilai-nilai Islam akan menjadi cahaya yang menerangi zaman.
“Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan memahamkannya tentang agama.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka, tugas kita hari ini bukan sekadar menjadi manusia pintar, tetapi manusia bijak, yang memanfaatkan ilmu untuk kemaslahatan, menjaga kedamaian, dan menebarkan rahmat bagi semesta.




Tinggalkan Balasan