Jakarta, Beritamerdekonline.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat signifikan pada akhir perdagangan Jumat (12/9). IHSG naik 1,37 persen atau bertambah 106,16 poin ke posisi 7.854,06. Kenaikan tersebut didorong oleh sentimen eksternal maupun domestik yang disambut positif oleh pelaku pasar.
Salah satu faktor utama yang menopang penguatan bursa adalah meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), akan memangkas suku bunga acuannya pada pertemuan pekan depan. Berdasarkan konsensus, The Fed diperkirakan menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 4,0 persen hingga 4,25 persen dari level saat ini 4,25 persen hingga 4,50 persen. Antisipasi ini menimbulkan optimisme bahwa likuiditas global akan membaik, sehingga pasar keuangan negara berkembang termasuk Indonesia berpotensi menerima aliran modal masuk.
Dari dalam negeri, sentimen positif muncul setelah pemerintah mulai menyalurkan kas negara yang sebelumnya ditempatkan di Bank Indonesia ke lima bank milik negara. Dana senilai Rp200 triliun tersebut dialokasikan guna memperkuat likuiditas perbankan. Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) masing-masing memperoleh tambahan likuiditas Rp55 triliun. Sementara itu, Bank Tabungan Negara (BBTN) menerima Rp25 triliun, dan Bank Syariah Indonesia (BRIS) memperoleh Rp10 triliun.
Kebijakan ini dinilai memberikan ruang lebih besar bagi bank-bank tersebut untuk menyalurkan kredit, sekaligus mendukung pemulihan ekonomi nasional pada paruh kedua tahun 2025. Meski demikian, secara mingguan IHSG masih mencatat pelemahan tipis 0,17 persen, mencerminkan adanya aksi ambil untung yang mewarnai perdagangan.
Pada pekan depan, perhatian investor global tertuju pada hasil rapat The Fed yang akan berlangsung 16–17 September waktu Amerika Serikat. Sementara itu, dari sisi domestik, investor menunggu keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada tanggal yang sama. Mayoritas analis memperkirakan Bank Indonesia masih akan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5 persen, sejalan dengan kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian global.
Dari sisi teknikal, sejumlah indikator mengisyaratkan peluang kelanjutan penguatan IHSG. Indikator Stochastic Relative Strength Index (Stochastic RSI) menunjukkan sinyal pembalikan arah (reversal), sedangkan kemiringan negatif (negative slope) pada Moving Average Convergence Divergence (MACD) mulai menyempit. Penutupan IHSG di atas rata-rata pergerakan 20 hari (MA20) juga memperkuat potensi penguatan lebih lanjut.
Dengan kondisi tersebut, laporan Phintraco Sekuritas Research IHSG diproyeksikan berpeluang menguji area resisten pada level 7.980 hingga 8.020 pada pekan depan. Saham-saham yang direkomendasikan untuk dicermati antara lain Vale Indonesia (INCO), Bank Mandiri (BMRI), Timah (TINS), Krakatau Steel (KRAS), Sariguna Primatirta (CLEO), serta Bank Syariah Indonesia (BRIS).
Sumber : Phintraco Sekuritas Research

Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


Tinggalkan Balasan