SEMARANG, Berita Merdeka Online – Jika beberapa tahun lalu warga Mulyorejo di Kota Pekalongan terbiasa hidup berdampingan dengan air rob, kini mereka bisa menghirup lega.

Setiap kali air laut meninggi, jalanan desa tak lagi berubah menjadi sungai kecil yang menghalangi aktivitas.

Perubahan terasa nyata setelah kawasan tersebut dipagari deretan parapet beton yang memisahkan gelombang pasang dengan ruang hidup masyarakat.

Tanggul yang membentang menyusuri Sungai Bremi–Meduri itu tak hanya menjadi batas fisik, melainkan wujud hadirnya negara.

Pembangunannya dilakukan bertahap sejak 2021, dan pada 2025 progres melanjutkan 733 meter sehingga total rencana sepanjang 2.333 meter dapat semakin mendekati rampung.

Desa Mulyorejo, Tegaldowo, dan Karangjompo yang dulu menjadi gambaran kerentanan rob, kini bertransformasi menjadi desa yang lebih layak huni.

Kepala Desa Mulyorejo, Samroni, menyebut bahwa ketenangan psikologis warga juga ikut berubah.

“Setelah tanggul berdiri, masyarakat tidak lagi berjaga setiap malam saat pasang laut. Jalanan aman dan anak-anak sekolah tidak terhambat genangan,” tuturnya.

Cerita serupa mengenai perubahan akibat infrastruktur air muncul dari Kendal, tepatnya di Desa Triharjo, Kecamatan Gemuh.

Sebuah embung yang sebelumnya hampir tak berfungsi, kini berdiri sebagai sumber kehidupan setelah revitalisasi.

Dengan kapasitas tampung sekitar 11.400 meter kubik, embung tersebut mampu mengairi sekitar 25 hektare sawah yang dulunya sering dibiarkan kosong saat kemarau.

Seorang petani, Matori, membagikan kisah sederhana namun mengena. “Dulu kami bertani sambil berjudi. Kalau hujan turun, bisa panen.

Kalau kemarau datang, tanah pecah dan kami merugi. Sekarang, air tidak lagi menjadi teka-teki,” ujarnya sambil tersenyum.

Kepala Dinas Pusdataru Jawa Tengah, Henggar Budi Anggoro, menjelaskan bahwa pembangunan pengairan selama 2025 bukanlah sederet angka proyek, melainkan strategi besar mempertahankan ketahanan pangan dan kenyamanan hidup masyarakat.

Selain pembangunan embung baru dan revitalisasi, terdapat 14 penanganan daerah aliran sungai (DAS) di kawasan-kawasan prioritas seperti Pemali, Bodri, Kutho, dan Blorong.

Di Demak, tepatnya di Desa Dukuh Lengkong, pendekatan teknologi juga diterapkan.

Pemerintah provinsi menyiapkan Pompa Air Tenaga Surya (PATS) berkapasitas 2 x 125 liter per detik sebagai solusi jangka panjang untuk mengurangi genangan di permukiman ber-elevasi rendah.

Sistem pompanya bersifat hibrida – memanfaatkan panel surya ketika cuaca mendukung dan listrik konvensional saat perlu cadangan daya.

Peresmian pengoperasian dijadwalkan berlangsung akhir tahun 2025 sesuai instruksi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.

Tak hanya infrastruktur fisik, pemerintah juga merencanakan penguatan mitigasi dengan menambah 15 unit pompa mobile berkapasitas 250 liter per detik untuk disiagakan pada musim penghujan 2026.

Namun, Henggar mengingatkan bahwa pengendalian air bukan sekadar urusan alat atau bangunan.

“Air adalah siklus, sehingga harus diimbangi perilaku masyarakat. Penanaman pohon, menjaga saluran irigasi, mencegah sampah masuk sungai—itu semua menentukan,” tegasnya.

Perubahan yang terjadi di Kota Pekalongan, Kendal, dan Sayung bukan hanya hasil konstruksi semata.

Ia adalah pergeseran cara pandang warga: dari yang sebelumnya menerima nasib, kini tumbuh harapan untuk masa depan. Air, yang dahulu menjadi ancaman, kini perlahan kembali menjadi berkah.

 

Editor: Mualim