Oleh: Moulina Fitri
‎Narasumber: Yusni Mubarak
‎Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe


Beritamerdekaonline.com – Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup masyarakat, banyak tradisi lokal yang mulai jarang dilakukan. Sebagian hanya tinggal cerita dari orang tua kepada anak-anaknya. Namun, di beberapa daerah Aceh, masih ada satu tradisi yang tetap dijaga hingga sekarang, yaitu Khanduri Blang. Tradisi ini berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat petani. Khanduri Blang bukan hanya acara makan bersama, tetapi juga menjadi bentuk rasa syukur, doa bersama, dan simbol persatuan warga sebelum turun ke sawah.

Moulina Fitri adalah
‎Mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe.


‎Bagi masyarakat Aceh, sawah bukan sekadar tempat bekerja untuk mencari penghasilan. Sawah adalah sumber kehidupan yang harus dihormati dan dijaga. Karena itulah, sebelum musim tanam dimulai, masyarakat mengadakan Khanduri Blang sebagai permohonan kepada Allah SWT agar tanaman tumbuh subur, dijauhkan dari hama, dan menghasilkan panen yang baik.

‎Menurut hasil wawancara saya dengan Pak Mubarak, salah satu tokoh masyarakat di desa, Khanduri Blang sudah dilakukan sejak zaman dahulu dan diwariskan turun-temurun. “Tradisi ini sudah ada sejak masa nenek moyang kami. Tujuannya bukan hanya berdoa, tetapi juga menyatukan petani supaya kompak saat mulai menanam,” ujarnya.

‎Pelaksanaan Khanduri Blang biasanya dilakukan di area persawahan, balai desa, atau meunasah. Sebelum acara dimulai, warga bergotong royong menyiapkan tempat dan perlengkapan. Kaum laki-laki biasanya membantu memasak lauk secara bersama-sama di lokasi kenduri, sedangkan masyarakat membawa nasi dari rumah masing-masing. Setelah semua siap, tokoh agama memimpin doa bersama. Dalam doa tersebut, masyarakat memohon keselamatan, kelancaran kerja di sawah, serta hasil panen yang melimpah.

‎Suasana saat Khanduri Blang terasa hangat dan penuh kebersamaan. Warga duduk bersama tanpa membedakan status sosial. Kaya maupun sederhana, tua maupun muda, semuanya berkumpul dalam satu tempat. Setelah doa selesai, nasi yang dibawa dari rumah disantap bersama lauk yang telah dimasak di lokasi kenduri. Momen inilah yang membuat hubungan antarmasyarakat menjadi semakin erat.
‎Menurut Pak Mubarak, nilai utama dari Khanduri Blang adalah persatuan masyarakat. “Saat kenduri, semua orang berkumpul. Tidak ada perbedaan, semuanya sama-sama datang untuk berdoa dan menjaga kebersamaan,” katanya.

‎Selain memiliki nilai kebersamaan, Khanduri Blang juga mengandung nilai religius yang kuat. Tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Aceh selalu mengaitkan usaha dengan doa. Mereka percaya bahwa kerja keras di sawah harus disertai permohonan kepada Tuhan agar hasilnya berkah. Nilai seperti ini penting untuk dijaga, terutama di zaman sekarang ketika banyak orang hanya berfokus pada hasil tanpa mengingat nilai spiritual.

‎Khanduri Blang juga memiliki nilai gotong royong. Dalam persiapan acara, warga saling membantu tanpa pamrih. Ada yang membersihkan lokasi, memasang tenda sederhana, menata tempat duduk, hingga memasak lauk secara bersama-sama. Semangat kerja sama seperti ini menjadi kekuatan masyarakat desa yang patut dipertahankan.

‎Tidak hanya itu, tradisi ini juga berfungsi sebagai tempat musyawarah para petani. Dalam kesempatan tersebut, warga sering membicarakan jadwal tanam bersama, pembagian air irigasi, kondisi sawah, hingga cara menghadapi serangan hama. Dengan adanya musyawarah, petani dapat bekerja lebih teratur dan saling mendukung satu sama lain. Hal ini membuktikan bahwa Khanduri Blang bukan sekadar upacara adat, tetapi juga bagian dari sistem sosial masyarakat pertanian.

‎Menurut Pak Mubarak, musyawarah dalam Khanduri Blang sangat penting karena sawah milik warga saling berhubungan. “Kalau jadwal tanam tidak sama, nanti hama mudah berpindah. Karena itu biasanya dibicarakan bersama agar serempak,” jelasnya.
‎Di tengah modernisasi, keberadaan Khanduri Blang menghadapi tantangan. Sebagian generasi muda mulai kurang mengenal tradisi ini karena lebih tertarik pada budaya luar atau kesibukan masing-masing. Ada pula yang menganggap tradisi seperti ini sudah tidak penting lagi. Padahal, jika diteliti lebih dalam, Khanduri Blang menyimpan banyak nilai kehidupan yang masih relevan hingga sekarang.

‎Tradisi ini mengajarkan bahwa keberhasilan tidak bisa dicapai sendiri. Dibutuhkan kerja sama, komunikasi, dan saling peduli antaranggota masyarakat. Selain itu, Khanduri Blang juga mengingatkan manusia untuk selalu bersyukur atas nikmat alam yang diberikan Tuhan.

‎Menurut saya, Khanduri Blang merupakan warisan budaya yang sangat berharga bagi masyarakat Aceh. Tradisi ini tidak hanya berkaitan dengan pertanian, tetapi juga membentuk karakter masyarakat yang religius, kompak, dan peduli sesama. Jika tradisi ini hilang, maka hilang pula salah satu identitas budaya daerah.

‎Karena itu, generasi muda perlu dilibatkan dalam setiap pelaksanaan Khanduri Blang. Mereka dapat belajar langsung tentang makna tradisi, nilai kebersamaan, dan pentingnya menjaga budaya lokal. Sekolah, keluarga, dan masyarakat juga perlu bekerja sama mengenalkan tradisi ini kepada anak-anak sejak dini.

‎Pada akhirnya, Khanduri Blang bukan hanya acara seremonial tahunan. Tradisi ini adalah cermin kehidupan masyarakat Aceh yang menjunjung tinggi doa, persatuan, dan kerja keras. Di tengah perubahan zaman, Khanduri Blang tetap menjadi bukti bahwa budaya lokal mampu bertahan dan memberi pelajaran berharga bagi masa depan.