SEMARANG, Berita Merdeka Online – Senyum Rina Dewi tak pernah lepas sejak kabar itu datang. Di usianya yang ke-44 tahun, aparatur sipil negara (ASN) di lingkungan Pemkot Semarang itu akhirnya mendapat kepastian berangkat haji tahun 2026—sebuah kabar yang telah ia nantikan selama 13 tahun.
Perjalanan menuju Tanah Suci bagi Rina bukan sekadar soal waktu, tetapi tentang komitmen hidup. Sejak awal menikah, ia dan suami telah sepakat menempatkan ibadah haji sebagai prioritas utama, bahkan sebelum memikirkan hal-hal lain.
“Dari awal kami memang ingin haji dulu. Itu yang kami pegang sampai sekarang,” tuturnya.
Keputusan itu mereka wujudkan dengan mendaftar haji reguler pada Januari 2013, saat masih tinggal di Blora. Saat itu, Rina baru memulai karier sebagai ASN. Ia tak pernah menyangka, perjalanan panjang yang dimulai di awal masa pengabdiannya itu baru akan berujung lebih dari satu dekade kemudian.
Waktu berjalan, kehidupan pun berubah. Rina kemudian mutasi ke Kota Semarang mengikuti suaminya yang bekerja di tingkat provinsi. Namun satu hal tak pernah berubah: keinginan untuk menunaikan rukun Islam kelima.
Selama bertahun-tahun, ia hanya bisa memantau antrean melalui aplikasi. Jadwal keberangkatan terus bergeser—maju, lalu mundur lagi. Bahkan sempat tertera ia baru akan berangkat pada 2028.
Hingga suatu hari di November 2025, sebuah kabar tak terduga datang dari Puskesmas di Blora: ia diminta menjalani pemeriksaan kesehatan sebagai syarat keberangkatan haji 2026.
“Awalnya saya tidak percaya. Di aplikasi masih 2028. Tapi setelah kami koordinasi, ternyata benar kami masuk kuota 2026,” katanya, dengan nada takjub.
Percepatan itu terjadi karena adanya tambahan kuota serta sejumlah jamaah yang batal berangkat. Dari situlah, antrean panjang yang ia jalani perlahan bergerak maju—membawanya lebih dekat ke Tanah Suci.
Bagi Rina, penantian 13 tahun bukan sekadar angka. Itu adalah proses belajar bersabar, menjaga niat, dan memupuk harapan.
Kini, menjelang keberangkatan, rasa syukur menjadi hal yang paling ia rasakan. Terlebih, ia dan suami masih diberi kesehatan.
“Yang penting kami berangkat dalam kondisi sehat, belum merepotkan orang lain,” ujarnya.
Namun perjalanan ini bukan hanya tentang dirinya. Rina juga memikirkan jamaah lain dalam kelompoknya, terutama mereka yang sudah lanjut usia.
Ia bercerita, banyak di antara jamaah yang akan berangkat bersamanya tidak bisa membaca atau menulis, bahkan tidak membawa telepon genggam. Tak jarang, keluarga mereka menitipkan pesan melalui Rina.
“Nanti kalau ada kabar dari keluarga mereka, biasanya lewat saya. Jadi saya ingin bisa membantu sebisa mungkin,” ungkapnya.
Baginya, ibadah haji bukan hanya soal ritual pribadi, tetapi juga kesempatan untuk berbagi dan saling menjaga.
Di rumah, doa terus mengalir. Ibu mertuanya yang berusia 73 tahun menjadi salah satu sumber kekuatan batin. Harapan sederhana pun dipanjatkan: agar perjalanan itu berjalan lancar, sehat, dan penuh berkah.
Pada Kamis, 30 April 2026 mendatang, Rina akan berangkat bersama jamaah lain dari Kota Semarang. Sebelum menuju embarkasi Solo, mereka akan dilepas secara resmi dalam sebuah prosesi di Islamic Center.
Langkahnya kini semakin dekat. Setelah 13 tahun menunggu, panggilan itu akhirnya datang.
Dan bagi Rina, perjalanan ini bukanlah akhir dari penantian—melainkan awal dari sebuah perjalanan spiritual yang telah lama ia jaga dalam hati.
“Sesuai pesan ibu Walikota Semarang. Bismillah selain beribadah kami ingin menjadi duta kebaikan di tanah suci,” imbuhnya.(day)




Tinggalkan Balasan