BANTUL, Berita Merdeka Online — Komunitas Seni Budaya Profetik (Kosbatik) kembali menggelar Kajian dan Apresiasi Seni Sabtu Malam Ahad Wage (Samawa) ke-20 pada Sabtu malam (26/4), di Padepokan Santri An ‘Amta, Jalan Kinanti 63, Area Persawahan Karanggayam, Bantul Kota.

Pada edisi kali ini, Kosbatik mengangkat tema “Ngenger: Dari Komunikasi Antarbudaya Menuju Transformasi Ideologi” dengan menghadirkan Anang Masduki, Ph.D., dosen Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta sekaligus alumnus School of Journalism and Communication, Shanghai University, China, sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Anang Masduki membahas dinamika sosial-budaya di Ponorogo pascakemerdekaan hingga era 1960-an.

Ia menyoroti tajamnya ketegangan antara kelompok komunis dan kelompok Islam, khususnya yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah—dua organisasi yang saat itu bergabung dalam Partai Masyumi.

Anang menuturkan, pada 1948, di salah satu wilayah Ponorogo, terjadi pembunuhan terhadap dua bersaudara dari keluarga Masyumi. Tragedi serupa kembali terjadi pada tahun 1960-an, menimpa keturunan keluarga tersebut.

“Alih-alih membalas dengan kekerasan, keluarga korban memilih jalan berbeda, yaitu mengirimkan anak-anak Muslim setempat untuk ngenger kepada kerabat atau kenalan priyayi kaya di Ngawi—yang sebagian besar merupakan warga Muhammadiyah,” ungkapnya.

Anak-anak tersebut membantu pekerjaan rumah tangga pada pagi dan sore hari, sementara siang harinya mereka bersekolah.

“Strategi ngenger ini tidak hanya mengubah nasib sosial-ekonomi mereka—banyak yang kelak diangkat menjadi pegawai negeri—tetapi juga membawa transformasi ideologis,” tuturnya.

Kosbatik menggelar Kajian dan Apresiasi Seni Sabtu Malam Ahad Wage (Samawa) ke-20 di Padepokan Santri An ‘Amta, Bantul, Sabtu (26/4).(Foto Ist)

Di bawah asuhan keluarga Muhammadiyah, mereka meninggalkan praktik-praktik takhayul, bid’ah, dan khurafat.

Sekembalinya ke kampung halaman, mereka turut memperkuat gerakan sosial-keagamaan Muhammadiyah di wilayah asal mereka.

“Ini contoh transformasi ideologi yang sangat soft, sangat halus,” ujar Anang.

Acara Samawa #20 ini juga dihadiri berbagai tokoh lintas latar belakang, antara lain Daim Rahardjo (tokoh NU), Mahyudin Almudra (Kepala Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu), serta sejumlah sastrawan dan pegiat seni seperti Jabrohim, Mustofa W. Hasyim, dan Syamsu Setiaji.

Suasana malam itu berlangsung hangat dalam semangat pertukaran gagasan, memperlihatkan bagaimana kajian budaya dapat membuka jalan baru bagi pemahaman sejarah, dialog antarbudaya, dan refleksi ideologis.

Acara ditutup dengan pembacaan puisi oleh Syamsu Setiaji, Jabrohim, dan Mustofa W. Hasyim.(day)