Jakarta, Beritamerdekaonline.com – Ketua Serikat Petani Simalingakar Bersatu (SPSB), Agnes H Sembiring menuturkan saat mempertahankan lahan tanah garapannya di Desa Simalingkar, Pancur Batu, Deli Serdang masih menyisakan kepedihan dan sakit hatinya dengan aparat pemerintah.

“Bagaimana tidak sakit hati, lahan saya yang sudah ditanami dengan aneka sayuran dan bahan pokok seperti jagung dan singkong,” ujar Agnes saat ditemui di Jakarta (28/7/2020).

Dia juga mengisahkan, saat 2017, perempuan ini berjibaku dengan petugas TNI dilahan tanahnya seluas 1,2 hektar. “Saya berdua dengan seorang ibu, maju kedepan buldozer yang akan meratakan tanaman kami. Hanya tinggal selangkah, nyawa kami akan habis dilindas oleh berat itu,” ujarnya.

Kedua perempuan tersebut memberhentikan jalan buldozer, dengan tidur ditengah jalur alat berat tersebut. Sehingga alat berat tersebut memberhentikan tindakan okupasi (penguasaan lahan: red) yang dilakukan aparat negara.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo memerintahkan jajaran kabinet segera menyelesaikan konflik lahan termasuk yang berada di dalam konsesi. Jangan sampai, perusahaan mudah mendapatkan izin, sedang warga yang tinggal di dalam atau sekitar kesulitan. Bahkan, presiden perintahkan, jajaran pemerintahan mencabut konsesi kepada berbagai perusahaan kalau dalam pelaksanaan ada konflik lahan.

Dalam rapat terbatas di Kantor Presiden Jakarta, Jumat (3/5/2019) itu, Jokowi mengatakan, selalu menerima laporan mengenai konflik pertanahan, baik antar masyarakat, masyarakat dengan perusahaan, masyarakat dengan BUMN, maupun dengan instansi pemerintahan.

“Sengketa-sengketa serupa itu tak hanya terjadi di satu-dua tempat, namun tersebar di banyak wilayah. Saya minta segera diselesaikan secepatnya, dituntaskan agar rakyat memiliki kepastian hukum. Ada rasa keadilan,” kata Presiden RI, Joko Widodo.

Tidak ada yang sia-sia, perjuangan yang dilakukan oleh kelompok Petani Simalingkar, Agnes penuh tekad dan terus berjuang bersama teman-temannya. “Perjuangan kami bersama Petani Simalingkar tidak akan surut sampai kapanpun, jika lahan kami masih dikuasai oleh pihak PTPN II. Pupus sudah harapan terhadap pemerintah daerah Sumatera Utara, makanya kami akan berjuang dengan cara apapun, untuk bertemu dengan bapak Presiden Jokowi,” kata Agnes.

Hingga, berita ini diturunkan, ratusan petani SPSB dan STMB saat ini masih berjuang melakukan aksi berjalan kaki dari Lampung menuju Istana Merdeka, Jakarta. (ams)

Editor: (Mitra Pizer)


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.