SEMARANG, Berita Merdeka Online – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Semarang memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana dengan melibatkan relawan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.
Sebanyak 16 kampus berpartisipasi dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Posko dan Simulasi Tanggap Darurat Bencana (TDB) Korps Sukarela (KSR) yang digelar selama tiga hari, 16–18 Oktober 2026.
Kegiatan yang berlangsung di Bumi Perkemahan Harda Walika, Kelurahan Jatirejo, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, tersebut menjadi langkah strategis untuk menambah kekuatan personel sekaligus meningkatkan kemampuan relawan dalam merespons situasi darurat.
Kepala Bidang Penanggulangan Bencana, Anggota, dan Relawan PMI Kota Semarang, Wiwit Rijanto, SH, MH, mengatakan, pelibatan mahasiswa berawal dari pengamatannya terhadap gerak cepat relawan KSR Universitas Semarang (USM) dalam membantu penanganan kebencanaan.
Menurut Wiwit, kemampuan dan semangat relawan mahasiswa tersebut perlu dikembangkan lebih luas agar tidak hanya terpusat di satu perguruan tinggi.
“Awalnya saya melihat teman-teman relawan dari UKM KSR USM yang gerak cepat. Saya ingin semangat itu juga dimiliki perguruan tinggi lainnya di Kota Semarang,” ujarnya saat penutupan kegiatan, Minggu (18/10/2026) sore.
Ia menjelaskan, PMI Kota Semarang membutuhkan tambahan personel yang siap diterjunkan ketika terjadi bencana.
Melalui kegiatan tersebut, relawan dari berbagai kampus diharapkan dapat menjadi kekuatan pendukung dalam operasi kemanusiaan.
Dari kegiatan ini, PMI menargetkan terbentuknya kekuatan relawan sekitar 170 orang yang dapat dipersiapkan untuk membantu penanganan bencana di Kota Semarang.
Kesiapsiagaan tersebut tidak hanya difokuskan pada musim hujan, ketika ancaman banjir dan bencana lainnya meningkat, tetapi juga pada musim kemarau.
Salah satu kebutuhan yang menjadi perhatian adalah distribusi air bersih bagi masyarakat terdampak kekeringan.
Wiwit mengungkapkan, keterbatasan sarana masih menjadi tantangan bagi PMI Kota Semarang.
Saat ini, PMI baru memiliki satu mobil tangki air untuk mendukung distribusi air bersih.
“Kami mengupayakan agar ke depan bisa memiliki dua atau tiga mobil tangki. Kami berharap ada dukungan dari pemerintah kota maupun perusahaan sehingga pelayanan kepada masyarakat bisa lebih maksimal,” katanya.
Menurut dia, penambahan armada perlu diimbangi dengan kesiapan personel.
Sebab, ketersediaan kendaraan dan perlengkapan saja tidak cukup apabila jumlah relawan yang siap diterjunkan masih terbatas.
Karena itu, keterlibatan mahasiswa diharapkan dapat memperkuat kapasitas PMI dalam memberikan bantuan secara cepat dan terkoordinasi ketika masyarakat membutuhkan pertolongan.
Perkuat Kemampuan Operasional Posko 24 Jam
Selain menambah personel, Bimtek TDB juga membekali peserta dengan berbagai materi teknis penanggulangan bencana.
Materi tersebut meliputi manajemen relawan, pengelolaan posko, asesmen kebutuhan di lokasi bencana, serta koordinasi antarpihak dalam operasi kemanusiaan.
Peserta juga mendapatkan pemahaman mengenai mekanisme kerja posko siaga 24 jam, termasuk penerimaan informasi dari masyarakat, pengolahan data dan informasi kebencanaan, hingga pengerahan personel ke lokasi kejadian.

Wiwit menuturkan, keberadaan posko memiliki peran penting sebagai pusat koordinasi.
Informasi yang diterima harus dikelola dengan baik agar relawan yang ditugaskan dapat bergerak sesuai kebutuhan di lapangan.
“Dari posko inilah informasi kebencanaan diterima dan diteruskan kepada personel yang akan turun membantu. Karena itu, koordinasi dan kesiapan relawan harus benar-benar diperhatikan,” jelasnya.
Ia mengakui, materi yang diberikan selama tiga hari terbilang padat.
Pasalnya, rangkaian pembelajaran tersebut mencakup berbagai kompetensi manajemen kebencanaan yang dalam skema lebih panjang dapat membutuhkan waktu hingga sekitar 120 jam atau satu bulan.
Meski demikian, Wiwit mengapresiasi antusiasme peserta yang dinilai mampu mengikuti rangkaian kegiatan dengan baik.
Dalam pelaksanaan tugas di lapangan, PMI Kota Semarang juga memperkuat koordinasi dengan pemangku kepentingan lain, termasuk Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) dan layanan darurat 112.
Wiwit menjelaskan, PMI dan Damkar memiliki peran berbeda tetapi saling melengkapi ketika terjadi kebakaran.
Damkar berfokus pada penanganan api, sedangkan PMI memberikan dukungan kemanusiaan kepada orang-orang yang terdampak maupun personel yang membutuhkan bantuan.
Ia menyebutkan, koordinasi tersebut telah menjadi bagian dari kesepakatan kerja di posko PMI Kota Semarang.
Ketika laporan kebakaran ditindaklanjuti melalui layanan 112 dan petugas Damkar diterjunkan, PMI juga disiapkan untuk memberikan dukungan sesuai kebutuhan.
“Damkar menangani apinya, sedangkan kami menangani aspek kemanusiaannya. Karena itu, ketika terjadi kebakaran dan diperlukan bantuan, PMI harus siap hadir,” ungkapnya.
Melalui Bimtek Posko dan Simulasi TDB ini, PMI Kota Semarang berharap relawan mahasiswa tidak sekadar memiliki pengetahuan kebencanaan, tetapi juga siap menjalankan tugas secara disiplin, terkoordinasi, dan responsif.
Wiwit menegaskan, kesiapan menghadapi bencana harus dibangun sepanjang waktu, tanpa bergantung pada musim.
Dengan dukungan relawan perguruan tinggi dan sinergi lintas instansi, PMI berharap pelayanan kemanusiaan kepada masyarakat Kota Semarang dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.
Editor: Mualim
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan