SEMARANG, Berita Merdeka Online – Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Kesehatan (Dinkes), menegaskan bahwa perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) masih menjadi pekerjaan rumah (PR) terbesar dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat.
Hal itu disampaikan Kadinkes Kota Semarang, M. Abdul Hakam, seusai Rapat Kerja Kesehatan (Rakerkes) Kota Semarang dengan tema Sinergi Komunikasi, Integrasi Program dan Kolaborasi Lintas Sektor Berbasis Peta Resiko Kesehatan Menuju Semarang Semakin Sehat, yang digelar di Hotel Harris pada 23-24 September 2025.
Menurut Hakam, sejumlah tantangan kesehatan saat ini semakin kompleks, mulai dari dampak perubahan iklim ekstrem, tingginya mobilitas masyarakat, hingga keragaman masalah kesehatan dari balita hingga lansia.
“Masalahnya masih ada di PHBS. Dari TBC, diare, semua bermula dari pola hidup yang belum sehat,” ujarnya, Selasa (23/9).
Hakam menjelaskan, Dinkes bersama lintas sektor akan mengedepankan strategi komunikasi baru agar program kesehatan benar-benar menyentuh masyarakat di tingkat bawah. Pihaknya kini bahkan mampu memetakan kerentanan hingga level RW, bukan hanya kelurahan.
“Dengan data tersebut, kita bisa menentukan intervensi yang tepat agar wilayah tidak menjadi zona merah penyakit,” paparnya.
Selain penyakit menular, perhatian juga diarahkan pada anemia pada perempuan usia produktif, obesitas, hingga perilaku merokok anak yang berdampak jangka panjang pada kualitas kesehatan reproduksi.
Hakam menekankan pentingnya deteksi dini, misalnya mencatat wanita dengan menstruasi lebih dari tujuh hari atau anak yang mulai menunjukkan tanda obesitas.
Isu kesehatan mental juga menjadi sorotan. Hakam menyebut generasi muda kini rentan terhadap depresi dan kecemasan akibat perubahan era dan tingginya penggunaan gawai.
“Kesehatan mental anak-anak kita berbeda dengan zaman dulu. Kasus depresi dan anxiety ada, meski tidak banyak, tapi trennya meningkat,” jelasnya.
Ia menambahkan, layanan kesehatan mental kini difokuskan di RSUD Mijen dengan dukungan tenaga spesialis kedokteran jiwa.
Pemkot berharap seluruh stakeholder, mulai camat, lurah, hingga RT/RW, dapat berperan aktif menggerakkan potensi yang ada.
“Kalau masyarakat berperan aktif, Kota Semarang bisa sehat walafiat. Kalau sehat, otomatis produktif, dan pada akhirnya akan membuat Semarang semakin hebat,” tandasnya.
Semarang itu, PJ Sekda Kota Semarang, Budi Prakosa menjelaskan masalah kesehatan yang menjadi fokus nasional dan Pemkot Semarang, salah satunya adalah pengentasan stunting.
“Karena ini kan menyangkut generasi penerus, harus disiapkan mulai dari kandungan, balita dan usia dini dari sisi intervensi stunting,” ujarnya.
Disisi lain, masalah kesehatan anak juga menjadi sorotan, seperti TBC pada anak, juga kesehatan mental untuk menyiapkan generasi Indonesia Emas. Dirinya meminta agar perangkat kelurahan, kecamatan dan semua komponen untuk terjun ke masyarakat.
“Perlu peran aktif dari seluruh komponen masyarakat dan seluruh komponen pegawai ini untuk terjun ke sana dan, seluruh sumber daya harus kita pastikan tidak ada satu orang yang tidak termonitor berkaitan dengan masalah kesehatan,” pungkasnya.(day)
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan