Merangin, BeritaMerdekaOnlin.Com — Bagi sebagian kalangan masyarakat, kegiatan penambang emas tanpa ijin (peti) di Merangin di benci, Pasalnya di anggap merusak alam dan mencemari lingkungan, Begitu juga dengan para aparat penegak hukum kegiatan peti bisa di jerat dengan UU minerba, dan sudah sangat jelas sanksi hukumnya.
Tetapi berbeda jauh dengan sejumlah kalangan masyarakat, yang merasakan betapa sulitnya untuk tetap bertahan hidup di tengah naiknya harga BBM, membuat harga sembako makin tinggi, desakan kebutuhan ekonomi keluarga yang tidak bisa di tunda membuat aktivitas peti jadi pilihan untuk bertahan hidup.
“Saya tidak ada pilihan untuk ikut bekerja sebagai penambang peti, meskipun bagi kalangan orang kerjaan kami melanggar hukum, Tapi desakan ekonomi membuat kami harus tetap bertahan hidup untuk anak-anak terus sekolah” Ungkap Saimin salah satu pekerja tambang emas ilegal di kecamatan Pamenang.
Diakuinya bukan hanya resiko di tangkap aparat penegak hukum, tetapi resiko yang lebih besar juga terus mengintai, seperti longsornya lokasi tambang yang bisa merenggut nyawa.
“belum lagi resiko lokasi tersebut ada isinya emas atau tidak, kadang kita juga merasa takut jika kena razia aparat penegak hukum, belum lagi resiko bisa longsornya lokasi tambang, tapi kami tidak ada pilihan untuk tidak bekerja sebab bagi kami, yang kerja di sektor tambang emas ilegal, Pagi hari kerja sore sudah tau hasilnya ” ujarnya lagi.
Sementara dilokasi bukan hanya warga yang ikut mengais rejeki, namun ada saja oknum aparat dan oknum lainya yang datang untuk bisa mencari rejeki juga, dengan menemui pemilik mesin.
“Sudah jadi rahasia umumlah kalau Peti di benci, peti di puji dan memberi rejeki. Sebab bukan hanya oknum aparat dan oknum lainya yang dapat rejeki dari pemilik mesin. Tetapi banyak warga yang nyari rejeki lewat mendulang sisa bekas tambang” ucapnya.
Belum lagi soal penjualan bahan bakar minyak bersubsidi yang dengan mudah di dapatkan pemilik mesin. Sebab minyak bisa datang sewaktu waktu dan yang jual juga merupakan oknum aparat berbaju “dinas”.
“Pokoknya semua sudah ikut andilah dengan aktivitas peti di Merangin,Sebab hubungan simbiosis mutualisme masih terus terjadi” tutupnya.
Penulis : Moh Basori
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan