Bengkulu, BM – Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Bengkulu menggelar release soal perkembangan ekonomi terkini prospek dan bauran kebijakan di Aula Warung Bambu Kabayan, Kota Bengkulu.

Kepala Tim Advisory Pengembangan Ekonomi KPwBI Bengkulu Rifat Pasha mengatakan pertumbuhan ekonomi di Bengkulu ditriwulan IV 2019 mengalami perlambatan dibandingkan dengan triwulan III 2019.

“Yaitu sebesar 4.79 persen (yoy) dari tahun sebelumnya 4.98 persen. Dari sisi pengeluaran perlambatan tersebut disebabkan hampir di semua komponen kecuali konsumsi rumah tangga yang mampu tumbuh meningkat,” sampainya, Senin (10/2/2020) siang.

Dari sisi lapangan usaha, kata Rifat, perlambatan bersumber dari mayoritas lapangan usaha utama daerah antara lain, pertanian, kehutanan dan perikanan, perdagangan besar dan eceran serta lapangan usaha industri pengolahan.

“Dari sisi lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan pangsa sebesar 27.78 persen hal ini disebabkan belum masuknya musim panen tanaman pangan serta berlangsungnya musim kemarau yang panjang sehingga mengganggu produksi secara umum,” jelasnya.

Perdagangan besar dan eceran pangsa sebesar 15.23 persen hal ini disebabkan melambatnya perdagangan barang tahan lama serta perdagangan besar komoditas utama daerah seperti tanaman pangan, perkebunan dan holtikultura.

“Sedangkan pada industri pengolahan sebesar 6.07 persen hal ini disebabkan oleh ekspor luar negeri belum menguat sebagai dampak menurunnya volume perdagangan global ditengah keterbatasan bahan baku karena gangguan cuaca dan konstruksi dengan pangsa sebesar 5.44 persen disebabkan penyelesaian proyek pembangunan pemerintah dan swasta yang didukung oleh kecenderungan akselerasi realisasi belanja modal diakhir tahun,” tambahnya.

Disisi pengeluaran perekonomian Bengkulu pada konsumsi rumah tangga pangsa sebesar 62.92 persen, investasi pangsa sebesar 44.03 persen, ekspor barang jasa pangsa sebesar 35.03 persen dan konsumsi pemerintah pangsa sebesar 20.68 persen.

“Nah, untuk kondisi inflasi di Bengkulu sendiri pada bulan Desember 2019 sebesar 0.59 persen (mtm) cenderung meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 0.14 persen,” ungkap Rifat.

Capaian ini juga lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata tiga tahun sebelumnya dengan inflasi sebesar 0.54 persen (mtm) maupun terhadap nasional yang mengalami inflasi sebesar 0.34 persen (mtm).

Dengan perkembangan tersebut, inflasi sampai dengan bulan Desember mencapai level 2.91 persen (yoy) lebih tinggi dari level nasional sebesar 2.72 (yoy).

“Mudah-mudahan dari release perkembangan ekonomi di Bengkulu ini bisa menjadi referensi pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan,” harapnya. (BM)


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.