Oleh : Muhammad Syukur Mandar
(Mantan Wakil Ketua Pemenangan Pemilu DPD Golkar Malut)
Di ujung tanduk, kata pembuka yang tepat dialamatkan pada Partai Golkar Malut, atau bahasa elegan adalah dalam kondisi emergency Partai Golkar Malut. Rasanya sudah waktunya dan tepat kiranya jika Musda Partai Golkar Provinsi Maluku Utara yang sudah dua kali ditunda dan direncanakan pada tanggal 16-17 Maret 2019, adalah wadah yang tepat bagi Golkar untuk melakukan relaksasi dan reflekasi atas apa yang selama ini dialaminya.
Tulisan ini secara objektif, saya sajikan sebagai buah dari gagasan pembaharuan bagi Partai Golkar Maluku Utara, yang sudah kurang lebih 15 tahun, dalam tiga periode pemilu mengalami Sindrom Asperger, gejala autism dimana penderitanya memiliki kesulitan dalam berkomunikasi dengan lingkungannya, sehingga akibatnya daya terimanya menurun dari waktu kewaktu. Para penderita sindrom Asperger sering kesulitan memahami ironi dan sarkasme, sindrom ini memang temua seorang dokter yang menyatakan bahwa otak pengguna sindrom ini bekerja berbeda dengan orang lain. Perumpamaan sindrom Asperger pada penyakit Golkar, lebih dipahami sebagai sebuah pola komunikasi dalam internalisasi nilai-nilai kepartaian oleh pengelola kebijakan partai. Penting betul isi pikiran dan cara berkomunikasi siapapun dalam mengelola Lembaga yang mengelola kepentingan banyak orang atau kepentingan public, meskipun bersifat vested interest (kepentingan golongan).
Partai Politik pada dasarnya lembaga public, oleh karena partai politik diatur sebagai Lembaga formal dan sekaligus sebagai satu satunya instrument politik dalam menyeleksi calon anggota legislatif dan calon kepala negara serta kepala daerah. Tentu keberdaannya dan tatakelolanya memerlukan suatu mekanisme dan metabolisme yang sehat didalamnya. Musda adalah mekanisme penyehatan partai, berperan tidak hanya instrument pengambilan keputusan, melainkan juga Musda menjadi alat ukur keberhasilan. Sehingga setiap hendak digelar, harus terbaca lengkap rekam jejak kepemimpinan sebelumnya yang menjalankan amanah musda sebelumnya. Yang dibaca adalah sejauhmana tingkat capaian yang diperoleh, dan indikatornya adalah pemilu legislatif dan pemilihan kepala daerah.
Partai Golkar Maluku Utara dalam kurun waktu kurang lebih 15 tahun, terserang sindrom keluarga, penguasaannya, tata kelolanya dan perannya terlilit habis oleh kepentingan keluarga. Publik Maluku Utara memahami irisan posisi politik Golkar Maluku Utara sangat kuat dan dilekatkan dengan imej sinkronem dari AHM sebutan Ahmad Hidayat Mus. Pada konteks ini sesungguhnya saya tidak menyoal adanya dominasi keluarga siapapun terhadap Golkar, melainkan hanya menyebutkan bahwa realitasnya Golkar Malut masih kuat dominasi keluarga Mus.
Dalam suatu dialektika politik, bukan barang baru bagi perpolitikan Indonesia, dan bukan pula hanya suasana dalam golkar semata, melainkan dibanyak tempat, kita juga hadapi soal yang sama. Bagi saya, tak sepatutnya menyerang keluarga, sebab sudah mutlak menjadi hak politik siapapun dan dijamin oleh UUD 1945, untuk berserikat dan berkumpul berdasarkan hak pilih dan politiknya masing-masing. Bahasa lainnya tak ada larangan bagi keluarga manapun untuk menghuni atau menguasai partai politik manapun. Sebab hal itu menjadi suatu keniscayaan dalam berpolitik.
Lalu apa yang menjadi soal, ketika partai politik yang Lembaga public didominasi oleh kekuatan suatu keluarga, yang menyebabkan instrument partai sebagai pilar demokrasi bagi banyak orang tidak bekerja alias macet. Pada titik inilah debat ilmiah kita diharapkan menjadi narasi yang objektif yang mengemuka. Sebab cara pandang menjadi penting, apalagi terkait pembaharuan dalam suatu gagasan dan narasi besar.
Golkar adalah partai dinamis, rasa dinamis di Golkar hampir berbeda dengan partai lainnya. Oleh karena sifat interaksinya dinamis, maka Golkar harus Peka pada setiap polarisasi yang terjadi, apalagi dalam lingkup gerakan partai yang tidak memberi ruang lahirnya gerakan-gerakan pembaharuan yang membuat rakyat bersimpati. Dari sinilah saya ingin memulai meletakkan musda Golkar sebagai pintu besar Pembaharuan Golkar Maluku Utara sebagaimana judul tulisan diatas.
Gagal pimpin adalah realitas nyata yang harus diakui oleh Alien Mus dalam masa kepemimpinannya yang hendak berakhir ditanggal 16-17 Maret 2019 nanti, dalam terminologi politik keluarga saya menggunakan istilah Alien Mus adalah penerus/pewaris lanjutan dari kepemimpinan Ahmad Hidayat Mus. Faktor penyebabnya nyata, hilangkan posisi Ketua DPRD Provinsi Maluku Utara dan jatuh ketangan PDIP, hilangnya jabatan Ketua DPRD Kota Ternate, Kabupaten Halmahera Selatan, Halmahera Timur, Halmahera Utara, Sula Kepulawan, Kota Tidore Kepulawan, dan Kabupaten Morotai, dan kalahnya dalam pilkada Gubernur Maluku Utara tahun 2017, kemudian bergesernya perolehan suara partai Golkar untuk DPR Dapil Maluku Utara digantikan oleh PDIP adalah fakta-fakta empirik. Irisan ini sangat hipotik, bukan sekedar anomaly biasa, melainkan rusaknya penyangga utama partai Golkar yaitu dipimpin dengan cara -cara terbuka, elegan, bebas konflik dan kepentingan Keluarga, menjadi rumah besar bagi tokoh tokoh lokal.
Bahwa musda jelas harus menjadi wadah relaksasi bagi Golkar Maluku Utara, sebab jika gagal Musda menginjeksi virus nepotisme dan heroiknya politik keluarga dalam Golkar yang sudah berlangsung lama, akan membuat Golkar tidak saja hilang marwah kepartaiannya, melainkan akan habis secara perlahan ditelan oleh kerasnya persaingan pemilu. Pada dimensi ini, hemat saya langkah apresiatif yang penting adalah DPP Partai Golkar dengan berbagai agenda besar kedepan, yakni focus pembenahan struktur dan penyatukan potensi kader dan tokoh Golkar untuk memenangkan ketua umum Airlangga Hartarto sebagai Calon Presiden adalah suatu keharusan bagi kita semua. Maka penting tentunya bagi siapapun, harus melihat pembaharuan dan perubahan kepemimpinan di Golkar pada umumnya dan khususnya pada Golkar Maluku Utara adalah suatu kebutuhan mendasar.
Catatan penutupnya adalah saya ingin menyampaikan bahwa Golkar Maluku Utara nyaris tak ada lagi Tokoh Mumpuni, yang dapat dipercaya sebagai nakoda baru, kecuali Edy Langkara Bupati Halmahera Tengah, satu satunya kader Partai yang berada pada semua lini strategis masyarakat dan mampu berkomunikasi secara dimanis dengan berbagai kekuatan. Sosok Edy Langkara adalah penetrasi baru bagi kebangkitan kekuatan Golkar, sehingga tak salah dalam hemat saya, jika ada aroma Ketua Umum Airlangga Hartarto Mendukung dan Meminta Edy Langkara Untuk membenahi Golkar Maluku Utara.
Pikiran soal edy sebagai nakoda baru akan dianggap subjektif, sebab penekanannya lebih pada soal orang, untuk membangun suatu narasi objektif, saya ingin menarik beberapa kesimpulan kecil dari beberapa Tokoh Golkar yang ada di Maluku Utara, dalam ukuran yang realistis kita petakan sebagai suatu prasyarat kepemimpinan, saya ingin melihat Ketua DPD Halmahera Utara yang juga Bupati Halmahera Utara, toh Golkar kalah Pemilu dan gagal menjadi pemenang di Halmahera Utara dari demokrat. Ada Benny Laos yang juga ketua Wakil Ketua DPD Golkar Maluku Utara, toh Golkar Gagal mempertahankan posisinya sebagai ketua DPRD di Pulau Morotai. Sebaliknya, Alien Mus, yang basis besarnya adalah Kabupaten kepulauan Sula, juga kehilangan posisi sebagai ketua DPRD, pada soal itu saja indicator tidak cukup, ketika kita bicara soal kepemimpinan. Sebab yang utama adalah kemampuan personal dan gaya komunikasi yang lentur, sifat ingin berkorban, adalah faktor faktor lain yang harus ada dalam diri seorang pemimpin. Sebaliknya faktanya Edi Langkara dalam kepemimpinanya dia mampu merubah angka kemenangan Golkar Halmahera Tengan hampir dua ratus persen dan merebut posisi ketua DPRD dari PDIP di Kab. Halmahera Tengah.
Saya percaya bahwa kita semua kader Golkar ingin Golkar Maluku Utara melakukan pembaharuan dalam pola dan metode kepemimpinan. Sebab kebutuhan merubah partai adalah kita bicara soal capaian kedepan. Jika Golkar gagal melakukan improfisasi secara optimal dalam Musda ini, maka hemat saya, energid an potensi kekuatan besar Golkar akan perlahan habis seperti yang sedang diderita Golkar Malut saat ini. semoga DPP Partai Golkar mampu memberikan resolusi terbaik dalam pembaharuan kepemimpinan Golkar Malut.
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan