SEMARANG, Berita Merdeka Online – Pemilihan Umum (Pemilu) merupakan bagian penting dari budaya negara demokrasi. Namun, pragmatisme masyarakat dalam memandang politik telah menyebabkan meningkatnya biaya politik. Hal ini menjadi keprihatinan tersendiri bagi Casytha Arriwi Kathmandu, SE., M.Fin.

Senator muda perwakilan Jawa Tengah ini menilai persoalan tersebut sebagai pekerjaan rumah (PR) bagi para pemuda sebagai generasi penerus bangsa.

“Anak-anak muda saat ini memiliki porsi yang besar untuk terlibat aktif di politik, baik sebagai pemilih maupun peserta pemilu. Mereka masuk ketika biaya politik sangat tinggi, ini menjadi keprihatinan kita semua,” ujarnya.

Anggota DPD RI asal Sukoharjo ini menyampaikan hal tersebut usai kegiatan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan bersama DPD KNPI Kota Semarang di Waroeng Kaligarong, Semarang Tengah, Kota Semarang, Minggu (19/5/2024) siang.

“Melalui keaktifan berorganisasi, kita bisa memberikan masukan dan mengedukasi masyarakat agar lebih menekankan pada kualitas calon legislatif. Kesadaran ini harus ditanamkan pada anak-anak muda untuk lebih memperhatikan kualitas atau kapasitas calon legislatif, apakah mampu membawa tatanan masyarakat menjadi lebih baik, tanpa mengandalkan money politics,” jelasnya.

Menurutnya, lingkungan yang pragmatis memberikan pengaruh signifikan terhadap pola pikir generasi muda tentang politik. Selain itu, ia juga menilai kebijakan pemerintah memiliki dampak yang sama.

“Desain sistem dari atas memang seperti itu. Kebijakannya, seperti BLT, menyebabkan masyarakat lebih bergantung pada bantuan. Jadi, ketergantungan masyarakat kepada negara sangat tinggi,” paparnya.

Casytha lebih memilih bantuan yang bersifat stimulan agar masyarakat berupaya mandiri, berbeda dengan BLT yang dinilainya melemahkan semangat kerja masyarakat karena mengandalkan bantuan.

“Saya lebih memilih padat karya. Kita diberi bantuan pekerjaan dan nantinya mendapatkan upah. Ini akan menumbuhkan kemandirian. Tapi kalau BLT, akhirnya membuat mindset mendapatkan uang dengan mudah,” urainya.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua DPD KNPI Jawa Tengah ini juga menjawab pertanyaan Ketua DPK KNPI Kecamatan Candisari, Hartono, tentang isu lingkungan, yaitu pengolahan limbah rumah tangga dan ketahanan pangan melalui budidaya maggot (jenis belatung).

Hartono menyatakan bahwa setiap rumah harus bisa menghasilkan sesuatu yang berharga dari limbah rumah tangga. Selain itu, bagi warga yang memiliki lokasi, bisa membuat program ketahanan pangan berupa budidaya maggot yang diintegrasikan dengan pembesaran lele dan ayam petelur.

“Bibit maggot setelah menetas makan kotoran ayam, dan nantinya maggot menjadi pakan ayam dan lele. Polanya membentuk rantai makanan. Sebagian maggot juga disikluskan agar bertelur kembali. Ini saya beri nama program Bakti Negeri,” kata Hartono.

Casytha menilai gagasan pengolahan limbah rumah tangga dan budidaya maggot yang diintegrasikan dengan lele dan ayam petelur sangat menarik. Meskipun mencari lokasi yang tepat di perkotaan seperti Semarang agak sulit, ia yakin masih ada kawasan pertanian atau pedesaan di pinggiran kota Semarang. Selain itu, menurutnya, Pemkot Semarang akan menerima gagasan tersebut.

“Saya yakin jika diajukan ke Pemkot, mereka akan menerima. Masih ada daerah pedesaan di sini. Pemkot Semarang juga punya lahan yang mungkin bisa digunakan untuk kegiatan ini. Jadi perlu dikomunikasikan dengan baik,” tuturnya. (lim)