SEMARANG, Berita Merdeka Online – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang terus menunjukkan komitmennya untuk mewujudkan kota metropolitan yang maju, layak huni, dan berkelanjutan. Salah satu fokus utama adalah pengendalian banjir, yang menjadi tantangan besar di tengah urbanisasi pesat dan perubahan iklim.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Semarang, Budi Prakosa, menyatakan bahwa pengendalian banjir merupakan pilar utama pembangunan.

Proyek ini dirancang secara kolaboratif antara Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Pemerintah Pusat melalui National Urban Flood Resilience Project (NUFReP).

“Proyek pengendalian banjir Plamongan Hijau tidak hanya sekadar infrastruktur teknis, tetapi juga solusi berkelanjutan untuk mengurangi risiko banjir yang kerap melanda wilayah perkotaan,” tutur Budiono Prakosa.

Budiono mengatakan, sejumlah inisiatif strategis telah dirancang oleh Pemkot Semarang untuk menangani banjir, antara lain pembangunan Kolam Retensi Plamongan Hijau yang memiliki kapasitas penyimpanan 500.000 meter kubik untuk menampung limpasan hujan dan mengurangi genangan.

“Optimalisasi Sistem Pompa Air dengan menambah unit pompa berkekuatan total 2.500 liter per detik di wilayah rawan banjir seperti Semarang Utara dan Timur. Kemudian pembangunan Bendung Kanal Banjir Barat, yang akan meningkatkan kapasitas saluran hingga 30% untuk mengurangi genangan di kawasan strategis,” terangnya.

Selanjutnya, Rehabilitasi Drainase Perkotaan dengan anggaran Rp1,8 triliun untuk memastikan sistem drainase yang modern dan efisien.

Ia menuturkan, bahwa dampak dari inisiatif ini sangat signifikan, terutama dalam mengurangi kerugian akibat banjir.

Pemkot Semarang Mantapkan Pengendalian Banjir Menuju Kota Berkelanjutan 2025
Salah satu penanganan luapan air berupa pembuatan bronjong pada bibir sungai di perumahan Dinar Semarang.

Dampak Ekonomi dan Sosial

Data Dinas Pekerjaan Umum menunjukkan bahwa banjir pada 2024 menyebabkan kerugian hingga Rp850 miliar, meliputi kerusakan infrastruktur, hilangnya produktivitas kerja, dan penurunan kualitas hidup masyarakat. Proyek pengendalian banjir ini diharapkan mampu mengurangi dampak banjir hingga 70% dan mempercepat pemulihan ekonomi.

“Proyek ini akan meminimalkan dampak banjir hingga 70% dan mempercepat pemulihan aktivitas ekonomi masyarakat,” kata Hernowo Budi Luhur, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Kota Semarang.

Kolaborasi sebagai Kunci Keberhasilan

Sementara itu, Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, menekankan pentingnya kolaborasi dalam pelaksanaan proyek ini.

“Semarang adalah rumah kita bersama. Upaya pengendalian banjir membutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat,” ujar Mbak Ita.

Langkah ini merupakan bagian dari 30 proyek strategis yang ditargetkan selesai pada 2025. Dengan pendekatan holistik, Semarang diharapkan menjadi kota yang tangguh, ramah lingkungan, dan nyaman untuk dihuni.

“Semangat #BergerakBersama akan membawa Semarang menjadi pelopor pembangunan berkelanjutan di Indonesia,” tandas Mbak Ita.

Langkah ini tidak hanya menciptakan kota yang lebih aman dari banjir, tetapi juga memastikan keberlanjutan pembangunan di masa depan.(day)