Lombok, NTB, Beritamerdekaonline.com — Pebisnis muda Giffari Naufal Arisma Putra, yang sebelumnya telah resmi vakum dari dunia bisnis pada 7 April 2025, menyampaikan kecaman keras terhadap serangan militer Israel ke wilayah Gaza (Palestina) yang terus menelan banyak korban sipil. Sebelumnya, Giffari dikenal sebagai Pendiri dan CEO PT Lifeat News Indonesia (Life at News), perusahaan yang bergerak di bidang media, sekaligus menjabat sebagai pemimpin redaksi media tersebut.

Melalui pernyataan terbukanya, Giffari menyerukan penghentian segala bentuk kekerasan dan mengajak semua pihak untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan di tengah konflik yang tak kunjung mereda.
Giffari menegaskan bahwa kekerasan bersenjata terhadap warga sipil tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun. Ia menyerukan kepada masyarakat internasional untuk lebih aktif mendorong terciptanya gencatan senjata serta penyelesaian damai atas konflik yang terus berlangsung.
“Kekerasan terhadap warga sipil tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun, dan kita tidak boleh menutup mata terhadap penderitaan rakyat Gaza. Dunia tidak boleh tinggal diam melihat penderitaan yang terjadi di sana. Ini bukan soal politik semata ini soal kemanusiaan,” ujar Giffari dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (12/04/2025).
Sebagai pemuda yang aktif di bidang bisnis dan media, Giffari juga menyerukan kepada masyarakat internasional, khususnya generasi muda Indonesia, untuk peduli terhadap krisis kemanusiaan global. Ia mengajak berbagai pihak untuk menunjukkan solidaritas, baik dalam bentuk dukungan moral, penyebaran informasi, maupun bantuan kemanusiaan.
Giffari menambahkan bahwa suara pemuda sangat dibutuhkan untuk mendorong perubahan dan mengawal keadilan di tengah dunia yang semakin kompleks dan penuh konflik.
“Kita semua punya tanggung jawab moral untuk tidak diam. Suara kita mungkin kecil, tapi jika dikumpulkan, bisa menjadi kekuatan yang berarti,” kata Giffari.
Ia juga mengingatkan bahwa apabila Palestina terus diserang tanpa henti oleh Israel, maka hal tersebut berpotensi menimbulkan kekacauan yang lebih luas secara global. Menurutnya, konflik yang awalnya hanya melibatkan dua pihak dapat berkembang menjadi ketegangan yang lebih besar dan menyebar ke berbagai wilayah.
“Kalau Israel terus menyerang Palestina tanpa henti, itu pasti akan menimbulkan kekacauan di dunia. Yang awalnya hanya Israel dan Palestina yang berkonflik, bisa saja menyebar ke mana-mana,” ujarnya.
Giffari juga menyoroti bahwa serangan Israel terjadi tanpa mempertimbangkan waktu dan tempat, termasuk saat umat Islam tengah merayakan hari raya Idulfitri. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk tidak adanya toleransi dan empati terhadap umat Muslim.
“Saya kira Israel perlu memikirkan tempat dan waktu untuk menyerang. Karena mereka kembali melancarkan serangan saat saudara-saudara Muslim kita di Palestina sedang merayakan hari raya Idulfitri. Itu sungguh tidak menunjukkan rasa toleransi dan empati,” kata Giffari.
Menurutnya, penderitaan yang terjadi di Gaza saat ini mencerminkan kegagalan dunia dalam melindungi hak-hak dasar manusia. Ia menyayangkan sikap sebagian pihak yang memilih bungkam, seolah-olah tragedi yang menimpa warga sipil di sana bukan persoalan mendesak.
“Kita hidup di era informasi yang serba cepat, tapi mengapa hati manusia menjadi lambat untuk merespons penderitaan? Ada banyak suara yang bisa terdengar, tapi terlalu sedikit yang benar-benar peduli,” ungkapnya.
Giffari menilai bahwa solidaritas internasional tidak boleh berhenti pada kutukan dan doa semata. Menurutnya, dibutuhkan langkah nyata dan keberanian moral untuk menentang ketidakadilan, bahkan jika hal itu membuat seseorang berbeda dari arus umum. Bagi Giffari, kemanusiaan bukan sekadar wacana, melainkan prinsip yang harus diperjuangkan kapan pun dan di mana pun ia dilanggar.
Ia juga menyinggung pentingnya peran media dan pendidikan dalam membangun kesadaran kolektif, terutama di kalangan generasi muda. Media, katanya, tidak hanya bertugas menyampaikan informasi tentang apa yang terjadi di Palestina, tetapi juga menjadi ruang untuk menampilkan kepedulian dan menyuarakan keberpihakan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Dalam pandangannya, generasi saat ini tidak boleh tumbuh menjadi kelompok yang hanya peduli pada urusan pribadi, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap penderitaan orang lain.
“Tugas generasi kita bukan hanya mencari sukses untuk diri sendiri, tapi juga memastikan bahwa dunia yang kita warisi tidak terus-menerus diwarnai kekerasan, penindasan, dan ketimpangan,” jelasnya.
Sebagai pendiri dan pemimpin di perusahaan serta organisasi, Giffari percaya bahwa kepemimpinan hari ini harus diiringi keberanian untuk bersuara dan berpihak pada yang benar. Ia berharap pernyataannya ini bukan hanya menjadi respons sesaat, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap tragedi kemanusiaan adalah tanggung jawab bersama.
Lebih lanjut, Giffari menyatakan komitmennya untuk terus menggunakan platform bisnis dan medianya sebagai ruang untuk menyuarakan kepedulian, membela korban ketidakadilan, serta mendorong masyarakat agar lebih aktif dalam gerakan kemanusiaan lintas negara.
“Selama masih ada satu anak yang menangis karena kehilangan keluarganya akibat perang, maka perjuangan kita sebagai manusia belum selesai. Diam berarti membiarkan luka itu menganga lebih lebar,” jelasnya.
Giffari menambahkan bahwa dirinya sudah habis kesabaran dan merasa cukup dengan diam selama ini melihat kekerasan yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina. Ia mengatakan bahwa selama ini ia memilih untuk diam sambil memperhatikan situasi dan kondisi konflik antara kedua negara tersebut. Namun, saat ini Giffari menegaskan bahwa dirinya tidak akan terdiam lagi.
“Selama ini sudah cukup saya diam, dan kesabaran saya sudah habis melihat Israel menyerang Palestina terus-menerus dan memakan banyak korban. Selama ini saya lama berdiam diri sambil melihat situasi dan kondisi keduanya. Namun sekarang, saya tidak akan tinggal diam lagi,” tutupnya.
Lalu, Siapa Giffari Naufal Arisma Putra ? Berikut Profil Singkatnya
Profil Singkat Giffari Naufal Arisma Putra
Dikutip dari LinkedIn miliknya, Giffari Naufal Arisma Putra adalah seorang pengusaha media asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Ia merupakan pendiri sekaligus menjabat sebagai CEO Life at News dan pemimpin redaksi Life at News.
Giffari pernah menempuh pendidikan sekolah dasar di SD Negeri 1 Kuripan (2013-2019), dan melanjutkan sekolah menengah pertama di MTs Negeri 1 Lombok Barat (2019-2022) serta sekolah menengah atas di SMA Negeri 1 Mataram (2022-2025). Saat ini, ia akan segera lulus SMA dan melanjutkan pendidikan ke Pendidikan Tinggi (S1).
Dikutip dari berbagai sumber, Giffari merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Giffari dilahirkan di Kota Mataram, NTB pada hari Minggu, 2 Juli 2006, dari pasangan Munawir Haris (Ayah) dan Baiq Halimah (Ibu). Giffari memiliki dua saudara kandung yaitu, Rizky Akbar Pratama (Kakak) dan Ahmad Zayyat Mirza (Adik).
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan