Bengkulu, Berita Merdeka Online — Duka mendalam menyelimuti keluarga besar almarhumah Adelia Maysa, warga asal Desa Kampai, Kecamatan Talo, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu, yang meninggal dunia di Jepang pada Jumat, 7 November 2025. Kabar terakhir menyebutkan, donasi untuk pemulangan jenazah almarhumah telah resmi ditutup, karena biaya yang dibutuhkan telah mencukupi.

Hal tersebut disampaikan oleh Andri Santoso, Ketua Ikatan Keluarga Bengkulu di Jepang (IKBJ), melalui pesan WhatsApp kepada redaksi pada Selasa, 11 November 2025.

“Biaya kepulangan jenazah sudah cukup. Kalaupun ada kekurangan, tidak akan banyak lagi. Kami segenap keluarga mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas bantuan dan kepedulian masyarakat,” ujar Andri.

Sebelumnya, IKBJ membuka donasi untuk membantu proses pemulangan jenazah Adelia ke tanah air. Warga Bengkulu di berbagai daerah turut berpartisipasi dalam penggalangan dana tersebut. Kepedulian publik muncul setelah diketahui bahwa Adelia merupakan korban dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) yang berujung tragis.

“Ketua IKBJ Andri Santoso saat mengumumkan penutupan donasi untuk pemulangan jenazah Adelia Maysa di Jepang.”

Almarhumah meninggal dunia di Seinan Medical Center Hospital, Prefektur Ibaraki, Jepang, setelah tujuh hari berjuang melawan penyakit Meningitis Tuberkulosis (TB). Gadis berusia 23 tahun itu sempat dirawat intensif di ICU sejak 31 Oktober 2025, hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir pada pukul 14.45 Japan Service Time (12.45 WIB).

Andri menjelaskan, Adelia tiba di Jepang tiga tahun lalu melalui salah satu lembaga pelatihan bahasa Jepang (LPK) di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Bersama beberapa peserta lainnya, ia dijanjikan pekerjaan di Jepang dengan iming-iming visa kerja resmi. Namun kenyataannya, mereka hanya memperoleh visa kunjungan (Tanki Taizai) selama tiga bulan dan akhirnya menjadi pekerja ilegal (overstay) setelah visa mereka habis masa berlakunya.

“Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah. Korban seperti Adelia adalah generasi muda yang bermimpi bekerja di luar negeri, tetapi terjebak dalam jaringan human trafficking,” tegas Andri.

Pihak KBRI Tokyo turut membantu proses administrasi dan pemulangan jenazah. Kini, jenazah Adelia telah berada di Tokyo untuk tahap akhir persiapan menuju Indonesia.

“Kami bersama pihak keluarga di Bengkulu terus berkoordinasi. Jenazah rencananya akan dimakamkan di kampung halamannya, Desa Kampai, Kecamatan Talo,” ungkapnya.

Donasi yang terkumpul digunakan untuk menutup biaya rumah sakit dan pemulangan jenazah, yang totalnya mencapai lebih dari Rp200 juta.

Atas kepedulian semua pihak, keluarga besar Adelia menyampaikan rasa terima kasih mendalam.

“Semoga Allah membalas kebaikan seluruh masyarakat yang telah membantu. Kepedulian ini menjadi bukti bahwa kemanusiaan masih hidup di tengah kita,” tutup Andri dengan haru. ***

Editor: Redaksi