Bengkulu, Beritamerdekaonline.com – Di tengah awan mendung ketidakpastian geopolitik yang menyelimuti peta ekonomi dunia, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu mengambil langkah proaktif dengan menyelenggarakan Sarasehan Perekonomian Bengkulu. Forum strategis bertajuk “Sinergi Moneter dan Fiskal: Menjaga Stabilitas Aktivitas Produksi dan Distribusi di Tengah Tekanan Geopolitik Global Menuju Ekonomi Bengkulu yang Berkelanjutan” ini digelar di Hotel Santika, Kamis (09/4/2026), sebagai wadah sinkronisasi kebijakan demi menjaga denyut nadi ekonomi Bumi Merah Putih.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Muhammad Irfan Octama, dalam paparan prospektifnya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Bengkulu pada triwulan I 2026 akan bertengger di kisaran 4,47 hingga 5,03 persen secara tahunan (year on year).
“Angka ini menunjukkan optimisme yang terukur, meski Irfan memberikan catatan kritis mengenai potensi perlambatan,” ujarnya.
Faktor krusial yang perlu diwaspadai adalah penurunan transfer ke daerah sebesar 20,38 persen serta pemulihan sektor pertambangan yang belum sepenuhnya mencapai titik akselerasi ideal. Tantangan ini menuntut kewaspadaan tinggi agar momentum pertumbuhan tetap terjaga pada jalurnya.
Dari sisi stabilitas harga, Bengkulu menunjukkan performa yang cukup impresif. Inflasi provinsi pada Maret 2026 tercatat sebesar 2,85 persen, jauh lebih terkendali dibandingkan rata-rata inflasi nasional yang menyentuh 3,48 persen.
Namun, disparitas antarwilayah masih terlihat jelas; Kabupaten Mukomuko mencatat inflasi tertinggi sebesar 3,83 persen, sementara Kota Bengkulu relatif lebih stabil di angka 2,52 persen. Di sisi lain, modernisasi transaksi keuangan terus menunjukkan tren positif. Hingga November 2025, digitalisasi melalui QRIS telah merambah 267.952 pengguna dengan dukungan 229.532 merchant, menandakan adaptasi masyarakat terhadap sistem pembayaran nirkontak semakin masif.
Mewakili Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu, RA Denni menegaskan bahwa struktur ekonomi daerah masih sangat bergantung pada sektor agraris dan perdagangan. Kelapa sawit dan kopi tetap menjadi tulang punggung yang menopang pertumbuhan tahun 2025 sebesar 4,82 persen.
”Angka ini merupakan peningkatan dari tahun sebelumnya dan bersaing ketat dengan rata-rata pertumbuhan Sumatra. Pemerintah daerah pun berkomitmen mengoptimalkan program strategis, mulai dari cetak sawah hingga penguatan UMKM, guna membentengi ekonomi lokal dari fluktuasi eksternal,” ujarnya.
Namun, kewaspadaan tetap menjadi kata kunci. Kepala Departemen Riset Industri dan Regional Bank Mandiri, Dendi Ramdani, mengingatkan adanya risiko eskalasi konflik Iran-Israel. Dalam skenario terburuk, jika ketegangan berubah menjadi perang terbuka yang mengganggu produksi minyak OPEC, harga minyak dunia diprediksi bisa meroket hingga 132 dolar AS per barel. Lonjakan ini tentu akan memberikan tekanan inflasi global yang hebat. Meski demikian, sektor-sektor seperti telekomunikasi, kesehatan, dan hilirisasi manufaktur diyakini tetap prospektif untuk menjadi bantalan ekonomi yang mampu menahan guncangan eksternal tersebut, memastikan Bengkulu tetap tangguh menuju pertumbuhan yang berkelanjutan.
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


Tinggalkan Balasan