Beritamerdekaonline.com, Lebong – Kesabaran warga Kabupaten Lebong kian menipis. Ruas Jalan Talang Ratu, Kecamatan Rimbo Pengadang, yang merupakan jalur vital penghubung Lebong–Rejang Lebong, kini benar-benar amblas dan nyaris tak bisa dilalui. Ironisnya, hingga Jumat pagi (8/5/2026), belum terlihat langkah konkret penanganan darurat.

Jika kondisi ini terus dibiarkan selama dua hingga tiga hari ke depan, ancamannya bukan lagi sekadar kemacetan—melainkan kelumpuhan total ekonomi Lebong.
Jalan ini bukan jalur biasa. Inilah urat nadi pergerakan barang, akses utama warga menuju Curup, sekaligus jalur tercepat distribusi kebutuhan pokok. Ketika akses ini terputus, maka yang ikut terhenti adalah denyut ekonomi masyarakat.
“Kalau ini tidak diperbaiki cepat, Lebong bisa lumpuh. Ini akses utama kami. Tidak ada pilihan lain,” ujar Edi seorang warga setempat dengan nada geram.
Di lapangan, situasinya kian mengkhawatirkan. Jalan yang amblas total membuat kendaraan roda dua maupun roda empat kesulitan melintas. Para sopir angkutan terpaksa memutar jauh, bahkan memilih menghentikan perjalanan demi keselamatan.
“Kalau dipaksakan lewat, itu sama saja cari celaka. Apalagi malam hari gelap, penerangan tidak ada. Tinggal tunggu korban saja kalau lambat ditangani,” kata Andi seorang pengendara.
Dampak domino mulai terasa. Distribusi kebutuhan pokok tersendat, pelaku usaha kecil menjerit, dan ancaman kenaikan harga barang di depan mata. Masyarakat kini tidak hanya menghadapi jalan rusak, tapi juga bayang-bayang krisis ekonomi lokal.
Yang membuat warga semakin kecewa, hingga kini penanganan masih sebatas harapan. Belum ada jembatan darurat, belum ada alat berat yang bekerja nyata di lokasi.
Di tengah minimnya kehadiran pemerintah, justru warga bersama Babinkamtibmas Ade Prima Jang Jaya yang turun langsung. Mereka berjaga siang malam, mengatur lalu lintas secara swadaya agar akses tetap bisa dilalui bergantian.
“Kami hanya bisa bantu sebisa kami. Tapi ini jalan provinsi, harusnya ada tindakan cepat. Kami imbau pengendara ekstra hati-hati,” tegasnya.
Situasi ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah dan provinsi. Ketika akses vital dibiarkan rusak berhari-hari tanpa kepastian, yang dipertaruhkan bukan hanya infrastruktur—tetapi juga kehidupan ekonomi ribuan warga.
Jika tidak ada tindakan cepat dalam waktu dekat, maka bukan tidak mungkin Lebong benar-benar akan “terisolasi” dan lumpuh secara ekonomi.




Tinggalkan Balasan