MERANGIN, Berita Merdeka Online Harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar subsidi di sejumlah wilayah pedesaan Kabupaten Merangin, Jambi, dilaporkan mencapai Rp570.000 per galon dengan kapasitas rata-rata sekitar 33 liter. Kondisi tersebut dikeluhkan para pelaku usaha yang bergantung pada kendaraan operasional berbahan bakar solar.

Berdasarkan hasil pantauan di lapangan, tingginya harga solar subsidi terjadi terutama di daerah yang berjarak cukup jauh dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Salah satu lokasi yang disebut mengalami kondisi tersebut adalah Desa Tanjung Benuang C1, Kecamatan Pamenang Selatan, Kabupaten Merangin.

Salah seorang pelaku usaha pengangkutan kelapa sawit mengaku tidak memiliki banyak pilihan selain membeli solar dengan harga yang jauh di atas harga eceran resmi.

Aktivitas pengisian dan distribusi BBM solar subsidi yang digunakan untuk operasional kendaraan angkut hasil perkebunan di Kabupaten Merangin.

Menurutnya, kebutuhan operasional kendaraan angkut membuat mereka harus tetap membeli BBM meskipun harga yang ditawarkan mencapai Rp570.000 per galon.

“Jika tidak membeli, kendaraan operasional kami tidak bisa berjalan. Aktivitas pengangkutan hasil perkebunan tentu akan terganggu,” ujarnya.

Kenaikan harga solar juga berdampak pada meningkatnya biaya transportasi hasil perkebunan kelapa sawit. Para pengusaha angkutan mengaku harus menyesuaikan tarif jasa agar dapat menutupi biaya operasional yang terus meningkat.

Sebelumnya, biaya angkut hasil panen sawit berada di kisaran Rp200.000 per ton. Namun saat ini tarif tersebut disebut meningkat hingga lebih dari Rp400.000 per ton.

Selain biaya BBM, pelaku usaha juga harus menanggung berbagai kebutuhan operasional lainnya, termasuk biaya tenaga kerja dan aktivitas bongkar muat di lapangan.

Tingginya harga jual solar subsidi di tingkat pengecer dinilai dapat membuka peluang praktik pelangsiran atau distribusi yang tidak sesuai ketentuan. Padahal, BBM bersubsidi merupakan program pemerintah yang diperuntukkan bagi masyarakat yang berhak dan pengguna tertentu sesuai regulasi yang berlaku.

Masyarakat berharap pemerintah, instansi terkait, dan aparat pengawas dapat meningkatkan pengawasan terhadap distribusi BBM subsidi agar ketersediaan dan harga tetap terkendali hingga ke wilayah pelosok.

Masyarakat yang tinggal jauh dari SPBU berharap harga solar dapat kembali stabil sehingga tidak semakin membebani aktivitas ekonomi di pedesaan.

Mereka menilai tingginya biaya bahan bakar berpengaruh langsung terhadap sektor transportasi, distribusi hasil perkebunan, serta biaya kebutuhan sehari-hari masyarakat.

“Kami berharap harga BBM kembali normal agar masyarakat desa yang jauh dari SPBU tidak terbebani seperti sekarang,” ungkap salah seorang warga.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai tingginya harga solar subsidi yang beredar di sejumlah wilayah pedesaan Kabupaten Merangin.

Penulis Moh Basori.