Penulis: Malvika Khairunnisa Mahasiswi Universits Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Beritamerdekaonline.com – Dalam pandangan Islam, ilmu tidak pernah berdiri sendiri. Ilmu selalu memiliki tujuan, nilai, dan arah moral yang jelas. Filsafat menyebut wilayah ini sebagai Aksiologi, yaitu cabang ilmu pengetahuan. Jika dalam paradigma Barat modern ilmu sering disebut netral—bebas dari pertimbangan moral atau agama, maka Islam menolak pandangan itu. Dalam Islam, ilmu bukanlah alat kosong, melainkan Amanah dari Allah yang harus digunakan untuk kemaslahatan manusia dan alam semesta.

Dr. Salamuddin dalam Filsafat Sains Islam menjelaskan bahwa setiap cabang Filsafat—ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi, harus berpijak pada tauhid sebagai sumber nilai tertinggi. Tauhid bukan hanya pengakuan bahwa Allah Maha Esa, tetapi juga landasan moral bahwa segala bentuk pengetahuan harus mengarah pada pengesaan-Nya. Karena itu, pengembangan ilmu dalam Islam tidk boleh terlepas dari nilai ketuhanan. Ilmu yang benar bukan hanya yang rasional dan logis, melainkan juga yang membawa manusia semakin dekat kepada Allah dan sesamanya.
Mulyadhi Kertanegara dalam Essentials of Islamic Epitemology menulis bahwa ilmu ibarat cahaya, sementara kebodohan ibarat kegelapan. Namun cahaya yang lahir dari Epistemologi modern sering kali redup, karena hanya menerangi sisi material dan rasional kehidupan, tnpa menyentuh dimnensi spiritual manusia. Epistemologi Barat menjadikan akal dan pengalaman inderawi sebagai sumber utama pengetahuan sementara Islam menmbahkan satu dimensi penting: hati (qalb). Dalam pandangan Islam hati yang bersih mampu menngkap kebenaran yang tidak dapat dijangkau oleh rasio semata. Karena itu, seorang ilmuwan harus menjaga kejernihan batinnya agar ilmunya idak menjadi sumber kesombongan, melinkan jalan menuju kebijaksanaan.
Sejarah peradaban Islam memberi contoh yang nyata tentng kesatuan ilmu dan nilai. Para filsuf dan ilmuwan Islm klsik seperti al-Farabi, Ibn Sina, al-Ghazali dan Ibn Rushd mengembangkan ilmu pengetahuan dengan landasan spiritual yang kuat. Dalam History of Islamic Philosophy yang disunting oleh Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman, ditegskan bahwa para pemikir Muslim tidak pernah memimsahkan ntara akal dan wahyu.
Wahyu menjadi sumber inspirasi intelektual dan moral, sementara akal berfungsi sebagai alat untuk memahami tanda-tanda Tuhan di alam. Dengan pendekatan ini, ilmu tidak menimbulkan pertentangan dengan agama, justru menjadi bagian dari ibadah.
Namun, ketika modernitas datang dengan semangat sekularisasi, ilmu mulai kehilangan ruhnya. Sains modern dibangun di atas pandangan bahwa alam semesta hanyalah mekanisme material tanpa makna spiritual. Akibatnya, manusia modern hidup dalam kelimpahan teknologi, tetapi miskin nilai. Haidar Bagir dalam Buku Saku Filsafat Islam menyebut keadaan ini sebagai krisis makna: manusia tahu banyak hal, tetapi tidak tahu untuk apa pengetahuannya digunakan. Ilmu yang seharusnya membebaskan justru bisa menjadi alat perusakan, baik terhadap alam maupun terhadap kemanusiaan sendiri. Tragedi lingkungan, peperangan, dan ketimpangan sosial adalah bukti nyata ilmu yang tercerabut dari akar moralnya.
Islam menawarkan jalan lain. Dalam paradigma aksiologis Islam, ilmu diarahkan untuk mencapai maslahah—kemaslahatan yang meliputi seluruh ciptaan. Tujuan akhir dari setiap ilmu adalah mengabdi kepada Allah dan menghadirkan kebaikan di dunia. Prinsip ini termaktub dalam banyak ayat Al-Qur’an, salah satunya QS. Al-Mujadilah [58]: 11, yang menyebut bahwa Allah akan meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu beberapa derajat. Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu yang bernilai hanyalah ilmu yang disertai iman dan tanggung jawab moral.
Etika ilmuwan dan penuntut ilmu menjadi bagian penting dari aksiologi Islam. Seorang ilmuwan tidak hanya dituntut untuk cerdas, tetapi juga berakhlak. Menurut Salamuddin, ada beberapa prinsip etika ilmuwan: pertama, niat yang ikhlas semata-mata karena Allah. Ilmu yang dicari untuk kepentingan dunia semata akan kehilangan keberkahannya. Kedua, kerendahan hati dan penghormatan kepada guru, karena ilmu dalam Islam bukan sekadar transfer informasi, tetapi juga transmisi nilai. Ketiga, tanggung jawab sosial—ilmu harus membawa manfaat, bukan kerusakan. Keempat, kejujuran dan integritas, sebab memanipulasi data atau mencuri karya orang lain berarti mengkhianati amanah ilmu. Kelima, menjaga keseimbangan antara akal dan hati, agar pengetahuan yang diperoleh tidak kering dari nilai kemanusiaan.
Etika seperti ini juga sejalan dengan pemikiran al-Ghazali. Ia menegaskan bahwa ilmu yang tidak melahirkan amal adalah kesia-siaan. Pengetahuan sejati ialah yang mampu menumbuhkan kebaikan dan mendorong manusia berbuat adil. Dalam kerangka ini, seorang ilmuwan tidak hanya bertanggung jawab kepada lembaga akademik atau sponsor risetnya, tetapi terutama kepada Tuhan yang menjadi sumber segala ilmu.
Mulyadhi Kertanegara menambahkan bahwa Islamisasi pengetahuan bukan berarti menolak sains modern, tetapi menyucikan orientasinya. Sains modern dapat diterima selama ia tidak menyalahi prinsip moral Islam. Misalnya, teknologi kedokteran boleh dikembangkan sejauh tidak melanggar nilai kehidupan dan kemanusiaan; riset lingkungan harus diarahkan pada pelestarian ciptaan, bukan eksploitasi; dan kemajuan ekonomi harus berjalan seiring dengan keadilan sosial. Dengan menanamkan nilai-nilai ilahiah, ilmu menjadi jalan bagi pembangunan peradaban yang berkelanjutan.
Sementara itu, Mayang Mustika Dewi dalam artikelnya Teori Kebenaran Berdasarkan Perspektif Filsafat dan Sains Islam mengingatkan bahwa kebenaran dalam Islam tidak hanya bersifat empiris atau rasional, melainkan juga transendental. Kebenaran hakiki bersumber dari Allah, dan sains hanyalah sarana untuk mendekati kebenaran itu. Artinya, sains dan filsafat tidak boleh berdiri di luar nilai-nilai wahyu. Dalam konteks ini, aksiologi Islam berfungsi sebagai pagar agar ilmu tidak menyeleweng dari tujuan aslinya: membawa kebahagiaan dunia dan akhirat.
Melihat kenyataan zaman sekarang, pemikiran aksiologis Islam terasa semakin relevan. Dunia modern tengah dilanda kekosongan spiritual dan krisis etika. Kemajuan teknologi tidak selalu diiringi oleh kemajuan moral. Kita melihat ilmu digunakan untuk menciptakan senjata pemusnah massal, menyebarkan hoaks, atau mengeksploitasi sumber daya alam tanpa batas. Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan antara kemajuan material dan kemuliaan moral. Dalam istilah Al-Qur’an, keseimbangan ini disebut mizan, yaitu harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Aksiologi Islam menegaskan bahwa ilmu adalah ibadah. Mempelajarinya berarti mengenal ciptaan Allah; mengajarkannya berarti menebar rahmat; dan mengamalkannya berarti menegakkan keadilan. Tanpa nilai ini, ilmu kehilangan jiwa. Karena itu, peradaban Islam tidak cukup dibangun di atas laboratorium dan perpustakaan semata, tetapi juga di atas masjid dan hati yang tunduk. Dalam dunia yang semakin maju secara teknologi, panggilan untuk menghidupkan kembali dimensi moral ilmu menjadi semakin mendesak.
Dengan mengembalikan ilmu kepada nilai-nilai ilahiah, Islam sesungguhnya menawarkan model peradaban yang utuh: rasional, etis, dan spiritual sekaligus. Aksiologi Islam mengingatkan kita bahwa pengetahuan bukanlah akhir, melainkan sarana menuju kebijaksanaan dan ketundukan kepada Sang Pencipta. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang menghidupkan hati, memuliakan manusia, dan menjaga bumi sebagai amanah. Maka, tugas setiap penuntut ilmu adalah menjadikan pengetahuannya sebagai cahaya yang menuntun, bukan api yang membakar.
Sebagaimana dikatakan oleh Seyyed Hossein Nasr, filsafat Islam bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi tradisi hidup yang terus menantang manusia modern agar menyeimbangkan rasio dan ruh. Ketika ilmu kembali menyatu dengan nilai, saat itulah peradaban akan menemukan keseimbangannya. Sebab di balik setiap penemuan, ada tanggung jawab; di balik setiap kebenaran ilmiah, ada kebenaran moral; dan di balik setiap ilmu, ada cahaya Tuhan yang menuntun manusia menuju makna hidup yang sesungguhnya.
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.


Tinggalkan Balasan