Bengkulu, Beritamerdekaonline.com – Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia (BNN RI) menegaskan komitmen untuk memperkuat program Desa Bersinar (Bersih Narkoba) sebagai upaya strategis membangun ketahanan masyarakat dari ancaman narkotika yang semakin kompleks. Hal ini disampaikan Sekretaris Utama BNN RI, Irjen Pol. Tantan Sulistyana, S.H., S.I.K., M.M., dalam kegiatan Deklarasi Desa Bersinar yang juga menjadi momentum konsolidasi program lintas kementerian dan lembaga di tingkat desa.

Sekretaris Utama BNN RI, Irjen Pol. Tantan Sulistyana, S.H., S.I.K., M.M.,


‎Dalam sambutannya, Irjen Pol. Tantan menekankan bahwa sinergi dan integrasi lintas sektor merupakan bagian dari implementasi Asta Cita pemerintah, khususnya cita keenam yang berfokus pada pembangunan dari desa serta cita ketujuh mengenai penguatan reformasi politik, hukum, dan birokrasi, termasuk pemberantasan korupsi dan narkoba.

‎“Desa Bersinar menjadi program unggulan BNN di tingkat desa karena memiliki peran strategis sebagai garda terdepan dalam membangun ketahanan masyarakat terhadap narkoba,” ujarnya, pada kegiatan Deklarasi Desa Bersinar dan Festival Bangun Desa Bangun Indonesia Konsolidasi Pemberdayaan Masyarakat dalam rangka gotong royong membangun desa, di Desa Bukit Peninjauan I, Kecamatan Sukaraja, Seluma, Provinsi Bengkulu Bersama Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Indonesia Yandri Susanto, Minggu sore (16/11/2025).

‎Ia memaparkan bahwa peredaran gelap narkotika saat ini bukan hanya isu nasional, tetapi juga tantangan global. Mengacu pada data UNODC (United Nations Office on Drugs and Crime), sepanjang tahun 2024 tercatat 236 ton metamfetamina disita di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara. Sementara World Drug Report 2023 mencatat prevalensi penyalahgunaan narkoba global mencapai 5,8 persen atau setara 296 juta orang.

‎Indonesia sendiri menghadapi situasi yang mengkhawatirkan. Berdasarkan survei prevalensi nasional tahun 2023, jumlah penyalahguna narkoba mencapai 1,73 persen atau sekitar 3,3 juta orang dalam rentang usia 15–64 tahun. Kelompok usia produktif 15–49 tahun menjadi pengguna terbesar.
‎Lebih memprihatinkan, sindikat kini menyasar wilayah perdesaan, termasuk pekerja perkebunan, nelayan, dan pekerja tambang. Kelompok ekonomi lemah hingga ibu rumah tangga kerap dijadikan kurir karena tekanan ekonomi.

‎Melihat kondisi tersebut, BNN menilai desa memiliki posisi vital sebagai unit pemerintahan terdekat dengan masyarakat. Program Desa Bersinar dirancang tidak hanya untuk menciptakan lingkungan bebas narkoba, tetapi juga membangun ketahanan fisik, sosial, dan spiritual masyarakat desa.
‎Program ini meliputi edukasi bahaya narkoba, kampanye pencegahan, pelibatan agen pemulihan melalui Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM), hingga pemberdayaan ekonomi melalui pelatihan vokasional bagi kelompok rentan.

‎BNN juga menekankan pentingnya keberanian masyarakat melaporkan indikasi penyalahgunaan narkoba melalui call center 184 yang beroperasi 24 jam. Identitas pelapor dijamin kerahasiaannya.

‎Merujuk data intelijen BNN, masih terdapat lima kawasan rawan narkoba di Provinsi Bengkulu yang membutuhkan penanganan serius. Irjen Pol. Tantan mengajak pemerintah daerah, TNI–Polri, tokoh masyarakat, tokoh agama, hingga organisasi pemuda untuk berkolaborasi aktif menghidupkan program Desa Bersinar.

‎“Dengan komitmen dan gotong royong, desa dapat menjadi benteng utama dalam mencegah infiltrasi sindikat narkoba dan mewujudkan Indonesia yang bersih dari narkoba,” tegasnya.


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.