Oleh: Annisa Fitria Jasmine Putri, Meisia Viona Valensia, Rafizah Purnama, Jeanne Darc Noviayanti Manik
Babel – Di negara-negara berkembang termasuk Indonesia tidak dapat dipungkiri bahwa banyak anak yang terpaksa melakukan pekerjaan dikarenakan adanya dorongan ekonomi dalam arti membantu mencari nafkah untuk menopang kebutuhan hidup bagi dirinya sendiri dan keluarga.
Anak-anak dibawah umur belum sepenuhnya mengetahui pengaturan hukum yang harus dipenuhi untuk dapat menjadi pekerja anak, sekalipun anak-anak tersebut mengetahui pengaturan hukumnya mereka memilih untuk mengabaikan pengaturan tersebut dan tidak memenuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku.
Salah satu pekerjaan yang sering dilakukan oleh anak dibawah umur terutama di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung khususnya di Kecamatan Mentok yaitu di sektor pertambangan timah.
Terkendala dalam memenuhi biaya sekolah menyebabkan anak lebih memilih untuk putus sekolah dan tidak melanjutkan sekolah agar tidak menjadi beban bagi orang tua mereka. Kebanyakan anak yang putus sekolah mulai dari SMP/MTs-SMA/SMK/MA.
Namun, dari semua faktor yang ada anak berhenti sekolah karena anak tersebut tidak memiliki niatan untuk melanjutkan sekolah dan lebih memilih untuk melakukan aktivitas pertambangan (melimbang timah).
Anak-anak yang tidak memiliki niatan untuk melanjutkan sekolah ini biasanya terpengaruh oleh lingkungan pergaulan yang bebas.
Bagi anak-anak tersebut, pendidikan adalah suatu hal yang tidak penting, mereka menganggap semua itu akan membuang-buang waktu, uang, serta menguras tenaga dan pikiran, karena tentunya tidak menghasilkan uang.
Oleh karena itu, bekerja adalah pilihan yang tepat bagi mereka. Dengan banyaknya anak yang bekerja di sektor pertambangan timah, muncul beberapa dampak pada diri anak tersebut, diantaranya: Kesehatan Fisik; Secara fisik pekerja anak lebih rentan dibandingkan dengan orang dewasa.
Anak yang bekerja di pertambangan timah sering terpapar sinar matahari dan debu, polusi udara, tempat kerja yang terlalu berisik, serta zat-zat beracun seperti logam berat yang dapat merusak sistem pernapasan, timbulnya alergi, dan masalah pada kulit mereka.
Pekerja anak di tambang rentan terserang penyakit malaria, penyakit paru, gangguan indra pendengaran, penyakit kulit, dan penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh paparan radiasi tinggi dari area pertambangan.
Selain itu, berdampak juga pada fisik anak yang tampak lebih tua dari usia mereka, kulit yang nampak tidak sehat, serta tubuh mereka yang kekurangan gizi.
Psikologi dan Sosial; Pekerja anak yang tidak mendapat kesempatan dalam melakukan kegiatan seperti bermain, sekolah, bersosialisasi dengan teman sebayanya, kurang mendapatkan pendidikan dasar yang diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah kehidupan, kurangnya mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain ataupun ikut berpartisipasi di tengah masyarakat, serta anak tumbuh menjadi pasif dan egois sehingga anak mengalami masalah dalam interaksi dan merasa kurang percaya diri.
Dengan bekerja menjadi penambang di usia muda, anak-anak akan mempunyai pola pikir bahwa lebih baik mencari uang daripada menuntut ilmu.
Pendidikan; Dalam keterlibatan anak-anak di bawah umur pada aktivitas pertambangan tentunya memiliki dampak tersendiri, banyak anak-anak yang putus sekolah karena menjadi pekerja tambang, apalagi saat harga timah sedang naik-naiknya. Sejak kecil anak-anak sekolah sudah sering bermain di area pertambangan.
Selain itu, masih melekatnya tradisi dan adanya keterbatasan ekonomi menyebabkan orangtua sang anak mengambil jalan pintas yaitu dengan memberhentikan sekolahnya dan menganjurkan lebih baik bekerja karena pemikiran orangtua yang sempit terhadap masa depan anaknya.
Dari pengaturan hukum, anak-anak di bawah umur tentu tidak diperbolehkan menjadi pekerja tambang karena prioritas utama mereka yaitu belajar di sekolah.
Keselamatan; Aktivitas pertambangan timah yang dilakukan oleh anak akan mengancam keselamatan diri mereka karena beresiko tinggi mengalami kecelakaan kerja.
Musim penghujan merupakan saat yang rentan terjadinya kecelakaan kerja di area pertambangan. Bahaya tersebut tentunya mengintai para pekerja tambang, baik orang dewasa, terlebih lagi bagi anak-anak dibawah umur.
Terdapat berbagai risiko yang harus dihadapi para penambang dalam melakukan aktivitasnya. Hal tersebut akan lebih mengkhawatirkan ketika anak-anak terlibat di dalamnya.
Seperti yang telah dikemukakan di atas, kegiatan penambangan timah yang dilakukan oleh anak-anak berdampak pada tingginya angka putus sekolah. Hal ini tentunya menjadi hal yang miris karena kehidupan masyarakat penambang timah berputar pada titik yang sama dari generasi ke generasi.
Sementara itu, pekerjaan sebagai penambang timah tidak selalu menjanjikan sebagaimana yang diharapkan.
Segala sesuatu sangat mungkin terjadi, termasuk kemungkinan habisnya sumber daya timah yang ada atau menurunnya harga timah yang kemudian berdampak pada tidak dapat lagi mencukupi perekonomian keluarga.




Tinggalkan Balasan