Bengkulu, Beritamerdekaonline.com– Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat dan pelestarian lingkungan, berkebun sayuran organik di rumah mulai menjadi pilihan yang semakin diminati. Tidak hanya menghasilkan bahan pangan yang lebih sehat, aktivitas tersebut juga dinilai mampu memperkuat ketahanan pangan keluarga sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan pangan dari luar.

‎Dari Pekarangan ke Meja Makan, Gerakan Berkebun Organik Dorong Kemandirian Pangan Keluarga.


‎Pesan tersebut mengemuka dalam Workshop Berkebun Sayur Organik bertajuk “Bersama Mewujudkan Gaya Hidup Sehat dan Lestari dari Rumah Sendiri” yang diselenggarakan Petani Organik Mandiri dalam rangkaian ECO FEST di Atrium Bencoolen Mall, Sabtu (6/6/2026).

‎Berbeda dari sekadar pelatihan bercocok tanam, kegiatan ini menekankan pentingnya perubahan pola pikir masyarakat terhadap pemanfaatan ruang di sekitar rumah. Pekarangan yang selama ini dianggap tidak produktif didorong untuk menjadi sumber pangan keluarga yang sehat, murah, dan berkelanjutan.

‎Pemateri dari Petani Organik Mandiri, Azwar Anas yang pengurus BPD HIPMI Bengkulu, mengatakan bahwa masih banyak masyarakat yang beranggapan berkebun membutuhkan lahan luas dan biaya besar. Padahal, dengan memanfaatkan ruang terbatas seperti halaman rumah, teras, bahkan sudut-sudut kecil di lingkungan tempat tinggal, warga tetap dapat menanam berbagai jenis sayuran untuk kebutuhan sehari-hari.

‎“Tujuan utama kami adalah mengubah cara pandang masyarakat. Berkebun tidak harus dilakukan di lahan yang luas. Dengan ruang yang terbatas sekalipun, keluarga tetap bisa menghasilkan sayuran sehat untuk konsumsi sendiri,” ujarnya.

‎Dalam workshop tersebut, peserta mendapatkan materi mengenai teknik berkebun di lahan sempit, pembuatan media tanam organik, hingga pengenalan berbagai penyakit tanaman beserta metode pengendalian yang ramah lingkungan.

‎Menurut Anas, kemampuan memproduksi pangan sendiri di rumah memiliki banyak manfaat. Selain menghemat pengeluaran rumah tangga, keluarga juga dapat memastikan kualitas sayuran yang dikonsumsi karena bebas dari penggunaan bahan kimia berlebihan.

‎Salah satu inovasi yang diperkenalkan kepada peserta adalah konsep sayur box, yaitu sistem bercocok tanam praktis yang dirancang khusus bagi masyarakat perkotaan. Melalui metode tersebut, warga tidak perlu menyiapkan lahan khusus karena media tanam dan bibit sudah tersedia dalam satu paket.

‎“Konsep ini dibuat agar masyarakat lebih mudah memulai berkebun. Mereka tinggal merawat tanaman hingga panen. Prinsipnya sederhana, beli sekali dan dapat dipanen berkali-kali,” jelasnya.

‎Tidak hanya fokus pada produksi pangan, kegiatan ini juga mengajarkan pengelolaan sampah rumah tangga melalui pembuatan kompos organik. Limbah dapur, rumput, dan daun kering dapat diolah kembali menjadi pupuk alami yang bermanfaat bagi tanaman sekaligus mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir.

‎Selama pelaksanaan ECO FEST, Petani Organik Mandiri juga menyediakan berbagai bibit tanaman organik seperti cabai, tomat, terong, kangkung, seledri, dan daun bawang. Antusiasme pengunjung menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap pertanian rumah tangga terus meningkat.

‎Melalui edukasi tersebut, Petani Organik Mandiri berharap gerakan menanam sayuran di rumah tidak hanya menjadi tren sesaat, tetapi berkembang menjadi budaya baru yang mendukung kesehatan keluarga, menjaga lingkungan, dan memperkuat kemandirian pangan masyarakat dari tingkat rumah tangga.