SOLOK, Beritamerdekaonline — Upaya membangun masyarakat yang tangguh menghadapi bencana sekaligus produktif mengelola lahan pertanian dilakukan STKIP Ahlussunnah Bukittinggi melalui program pengabdian kepada masyarakat di Nagari Gantung Ciri, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.
Program yang berlangsung pada 31 Mei hingga 31 Juli 2026 tersebut memadukan mitigasi tanah longsor dengan penguatan sektor pertanian. Masyarakat tidak hanya diarahkan untuk mengenali risiko bencana di lingkungan tempat tinggal, tetapi juga didorong mengelola lahan secara produktif tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan.
Kegiatan bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat Nagari Gantung Ciri dalam Mitigasi Longsor dan Peningkatan Produksi Pertanian Berbasis Pemetaan Partisipatif dan Pengelolaan Lahan Berkelanjutan” itu melibatkan Pemerintah Nagari Gantung Ciri, kelompok tani, dan Karang Taruna.
Pilihan lokasi program berkaitan dengan karakteristik wilayah Gantung Ciri yang memiliki kawasan perbukitan dan lereng. Kondisi tersebut menuntut pengelolaan lahan yang memperhitungkan potensi gerakan tanah, terutama ketika masyarakat memanfaatkan kawasan tersebut untuk kegiatan pertanian.
Salah satu luaran utama program adalah Peta Partisipatif Lahan Pertanian dan Zona Rawan Longsor Nagari Gantung Ciri. Pemetaan dilakukan dengan melibatkan masyarakat dan kelompok tani untuk mengidentifikasi kondisi lahan serta kawasan yang berpotensi mengalami longsor.
Pendekatan partisipatif tersebut membuat masyarakat tidak sekadar menjadi penerima informasi. Mereka dilibatkan dalam mengenali kondisi wilayahnya sendiri sehingga hasil pemetaan dapat digunakan sebagai salah satu sumber informasi dalam pengelolaan lahan dan peningkatan kesiapsiagaan.
Hasil pemetaan kemudian diperkuat dengan pemasangan papan atau plang peringatan kawasan rawan longsor serta papan informasi mitigasi di Kantor Wali Nagari Gantung Ciri. Media informasi tersebut diharapkan menjadi pengingat bagi masyarakat mengenai pentingnya kewaspadaan terhadap ancaman bencana.
Pada sektor pertanian, tim pengabdian memberikan sejumlah sarana produksi kepada kelompok tani, seperti cangkul, sabit, mesin chainsaw atau senso, pupuk Urea dan Phonska, pestisida, serta rodentisida. Kelompok tani juga mendapatkan bibit mangga, rambutan, dan durian.
Pemberian bibit tanaman buah tidak hanya diarahkan untuk mendukung produktivitas pertanian. Penambahan vegetasi juga menjadi bagian dari pendekatan pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan.
Tim turut menyerahkan Modul Pengelolaan Lahan Berkelanjutan untuk memperkuat pengetahuan masyarakat. Dari sisi kelembagaan, kelompok tani mendapatkan buku administrasi, perangkat administrasi, dan kotak arsip untuk membantu pencatatan data, kegiatan, inventaris, serta penyimpanan dokumen.
Program tersebut juga menghasilkan Buku Panduan Mitigasi Longsor dan Pertanian Berkelanjutan. Panduan itu mengintegrasikan pengetahuan mengenai kesiapsiagaan bencana dengan pengelolaan lahan pertanian. Saat ini, buku tersebut masih dalam proses pengurusan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan pencetakan.
Pelaksanaan program mendapat dukungan Pemerintah Nagari Gantung Ciri di bawah kepemimpinan Wali Nagari Zulhendri, S.Sos. Dukungan tersebut mencakup koordinasi pelaksanaan kegiatan serta pemanfaatan hasil program oleh masyarakat.
Ketua tim pengabdian, Nisye Frisca Andini, S.Pd., M.Pd., bersama anggota Melia Roza, M.Pd., dan Hasmi Novianti, S.Pd., M.Pd., mengintegrasikan mitigasi bencana, pertanian, pemetaan wilayah, dan penguatan kelembagaan dalam satu program.

Keberlanjutan menjadi tantangan berikutnya. Peta, sarana pertanian, bibit, modul, administrasi kelompok, media informasi, dan buku panduan diharapkan tidak berhenti sebagai luaran kegiatan, tetapi menjadi instrumen yang terus digunakan masyarakat untuk menjaga lingkungan, mengurangi risiko longsor, dan meningkatkan produktivitas pertanian Nagari Gantung Ciri. (Ikhsan)
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan