Bengkulu, Beritamerdekaonline.com — Perjalanan hidup Kapolda Bengkulu Irjen Pol. Mardiyono, S.I.K., M.Si., adalah kisah tentang bagaimana kerja keras, keikhlasan, dan keyakinan mampu menembus batas keterbatasan. Lahir dari keluarga sederhana dan tumbuh dalam kondisi serba kekurangan, siapa sangka kini ia memimpin ribuan anggota kepolisian di Bumi Raflesia dan menjadi inspirasi banyak orang.

Bukan keberuntungan yang membawanya ke posisi sekarang, melainkan perjuangan panjang yang dimulai dari rumah berukuran 3×5 meter, tempat ia tinggal bersama nenek dan empat adiknya setelah sang ibunda wafat saat ia berusia empat tahun.
“Dulu nenek saya bekerja sebagai tukang cuci dengan upah Rp500 per hari. Dari uang itu dibagi untuk beli deterjen, beras, dan kebutuhan harian. Kalau tak ada makanan, ya saya sekalian saja puasa Senin–Kamis,” kenangnya dalam Podcast Inspirasi yang digelar di ruang kerjanya, Rabu (12/11/2025).
Sejak usia tujuh tahun, Mardiyono kecil telah bekerja membantu ekonomi keluarga—menjual bubur, membersihkan rumah tetangga, hingga menjadi petugas kebersihan pasar dengan upah Rp700 per bulan. Namun, satu hal yang tidak pernah ia tinggalkan adalah sekolah.
“Saya sering dimarahi guru bukan karena malas, tapi karena menunggak uang sekolah. Pernah wali kelas saya datang ke rumah, lalu membantu agar saya bisa ikut ujian,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Cita-citanya menjadi polisi tumbuh saat duduk di bangku SMA, berkat motivasi dari seniornya, Agus Andrianto, yang kini menjabat Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan. Sejak itu, ia menyiapkan diri dengan disiplin penuh—baik fisik, akademik, maupun mental.
“Menjadi polisi itu tidak perlu biaya, tapi butuh tekad dan kejujuran,” tegasnya.
Kini, setelah puluhan tahun berdinas dan menorehkan berbagai prestasi, Irjen Pol. Mardiyono tetap menapak bumi. Ia melanjutkan semangat perjuangan masa kecilnya dengan menyalurkan kepedulian kepada masyarakat lewat program sosial yang berdampak nyata.
Salah satunya Program SRIDURI (Setiap Hari Dua Ribu), di mana setiap anggota Polri menyumbang Rp2.000 per hari. Dana yang terkumpul digunakan untuk bedah rumah warga tidak mampu, pelayanan kesehatan gratis, dan berbagai kegiatan kemanusiaan.
Hingga kini, program itu telah membangun 63 unit rumah layak huni di seluruh wilayah Bengkulu dengan bantuan Rp50 juta per unit. “Kami tidak hanya membangun rumah, tetapi juga melengkapinya dengan perabot agar siap dihuni,” ujarnya.
Selain SRIDURI, Mardiyono juga menggagas Program Sadesahe (Satu Desa Satu Hektare Jagung), yang mendorong ketahanan pangan berbasis masyarakat desa. Program ini kini tengah dalam tahap penilaian dan diharapkan menjadi model bagi pembangunan ekonomi desa.
“Inisiatif ini sejalan dengan program Kapolri untuk memperkuat ketahanan pangan berbasis komoditas jagung,” jelasnya.
Di akhir kisahnya, Irjen Pol. Mardiyono menyampaikan pesan sederhana, namun penuh makna kepada seluruh anggota Polri di Bengkulu.
“Rawat tempat kamu bekerja, jaga nama baiknya. Mungkin itu tidak membuatmu kaya, tapi di situlah sumber kehidupanmu.”
Kisah hidupnya menjadi bukti nyata bahwa jabatan tidak hanya diukur dari pangkat dan bintang di pundak, tetapi dari kerendahan hati dan keinginan untuk terus memberi makna bagi sesama.




Tinggalkan Balasan