Jakarta – KH Ma’aruf Amin mengatakan pentingnya pembangunan ekonomi yang kuat adalah salah satu pondasi dalam menyongsong ekonomi Indonesia masa depan. Ekonomi masa depan adalah ekonomi di desa sebagai penyangga yang meluas.
“Ekonomi bangsa yang kuat tentunya tanpa disparietas,” pesan Ma’ruf saat meresmikan Yayasan Dewa Dewi Indonesia di Bidakara, Jakarta Selatan, Senin malam (7/10).
Program pembangunan ekonomi ini adalah bagian pembangunan ditingkat desa, sehingga desa tidak terjadi perpindahan (urbanisasi:red).
“Launching program Dewa Dewi yang merupakan kepanjangan dari desa Wisata, desa Industri dan desa Digital,” ujar Ketua Umum Yayasan Dewa Dewi Dedi Indonesia Heidy M Hidayat pada awak media.
Dewa Dewi adalah fasilitator yang menggagas peningkatan ekonomi di tingkat desa, sekaligus menjadi desa wisata, desa industri dan desa digital.
“Kami mencoba menjadi eksekutor bersama dengan teman-teman yang lain, baik dari pihak BUMN maupun pihak swasta dari fasilitas CSR-nya. Kita memfasilitasi untuk membangun yang memang tepat guna buat masyarakat terutama di desa-desa,” kata Heidy dengan nada tegas.
Sehingga yang sedang ‘viral’ ini memang adalah desa wisata, tapi kami punya satu program desa industri dan desa wisata.
“Kita bangun dulu industrinya, karena akan lebih mudah untuk membangun desa wisata apabila desa industrinya sudah terbangun,” jelas Heidy. Sehingga desa akan menjadi lebih mandiri.
“Untuk ‘pilot project’nya sendiri dalam waktu dekat ini ada tiga lokasi yang akan digarap yakni di Banten ada dua lokasi (Citorek dan Ketumbiri) dan satu ada di Bogor yakni Cisarua,” jelasnya.
Heidy menjelaskan untuk di Banten di desa Citorek saat ini akan dibangun dulu desa wisatanya karena sudah siap untuk dibangun yang nantinya akan dikenal dengan sebutan negeri diatas awan. Kemudian untuk di desa Ketumbiri itu kita akan kembangkan industri gula semut, dimana kita akan membantu mereka dengan pengadaan mesin-mesin produksi untuk gula semut karena selama ini masyarakat disana masih menggunakan cara-cara tradisional.
“Jadi akan kita bangun dengan skala industri dengan memberikan bapak asuhnya dari Mayora atau Garuda. Jadi pola kita nanti akan dibangun otomatis langsung dapat bapak asuh siapa tergantung pada desanya mau berbentuk apa,” tegasnya penuh semangat.
Untuk saat ini, tambah Heidy, kebetulan sudah ada mitra yang bersedia untuk menjadi bapak asuhnya yaitu dari Alfamart, Mayora, Garuda Food dan lain-lain. Itu nanti kita tinggal tanya kepada mereka siapa yang mau jadi bapak asuhnya. Karena industri-industri ini memang dibutuhkan oleh mereka juga.
“Untuk saat ini tidak memikirkan kualifikasi desanya terlebih dahulu, karena yang mau kita bangun adalah industrinya dulu supaya desa tersebut bisa mandiri,” urainya.
Menurut Heidy apabila desa bisa dibangun suatu industri, maka disitu kita akan masuk duluan setelah itu kita bangun desa wisatanya. Cisarua-Bogor yang sudah ada industri namanya ‘Sereh Wangi dan kedepan akan dibangun wisata religi disana.
Banyaknya desa yang berminat dalam mengembangkan desa masing-masing menjadi suatu keterbatasan dalam pengimplementasian. “Untuk awal kita akan memprioritaskan desa mana yang lebih dulu,” tutup Heidy. (BM-AM)
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan