Sumatera Barat, Beritamerdekaonline.com – Suara mesin kendaraan bantuan terdengar lebih jelas dibanding hari-hari sebelumnya. Bagi warga di Lubuk Rayo, Sungai Lareh, Pauh, hingga Asam Pulau, kedatangan rombongan dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (F-PKS) DPR RI bukan sekadar rutinitas penyaluran bantuan biasa. Mereka melihat sendiri bagaimana Sekretaris Jenderal PKS, Muhamad Kholid, turun langsung menyusuri wilayah terdampak banjir bandang dan longsor yang menghantam Sumatera Barat.

Sejak dilepas dari halaman Kantor DPTW PKS Sumbar—dihadiri para tokoh mulai dari Ketua DPW PKS Sumbar Ulyadi hingga Gubernur Sumbar Mahyeldi—rombongan relawan dan pengurus PKS terus bergerak menuju area yang paling membutuhkan pertolongan cepat. Bagi warga, kehadiran mereka membawa harapan baru setelah berhari-hari bergelut dengan puing, lumpur, dan kehilangan.
“Tidak banyak pejabat yang datang sampai ke tempat kami. Tapi hari ini kami lihat sendiri Sekjen PKS turun ke lokasi,” ucap seorang warga di Pauh Dinur, sesaat setelah menerima paket logistik dan obat-obatan.
Di tiap titik kunjungan, Muhamad Kholid memastikan bahwa bantuan tidak berhenti hanya pada seremoni. Ia memeriksa langsung penyaluran logistik, perlengkapan darurat, hingga kebutuhan harian yang sangat dibutuhkan warga pada masa-masa kritis ini.
“Kami ingin memastikan bantuan tepat sasaran. Ini bukan soal nama partai, ini soal kemanusiaan,” ujar Kholid, yang ucapannya membuat banyak warga merasa didengarkan.
Momen paling menguras emosi terjadi ketika Kholid dan Ketua DPW PKS Sumbar, Ulyadi, mengunjungi rumah duka di Koto Tangah. Tangis keluarga pecah saat menceritakan detik-detik banjir bandang merenggut orang tercinta. Di sana, Kholid menyampaikan belasungkawa sekaligus memeluk mereka, memberi penguatan bahwa masyarakat Sumbar tidak menghadapi bencana ini sendirian.
“Sumbar tidak sendiri. Kita bersama,” tegasnya dengan suara yang menenangkan.
Relawan PKS memastikan bahwa pendampingan tidak berhenti pada hari itu saja. Mereka tetap berada di lokasi untuk membantu evakuasi, pemulihan, hingga distribusi lanjutan bagi warga yang masih kesulitan.
Bagi banyak penyintas, kehadiran F-PKS di tengah mereka bukan sekadar kunjungan politik. Itu adalah tanda bahwa di antara kehancuran dan duka, ada tangan yang benar-benar turun bekerja—membawa bantuan, kepedulian, dan secercah harapan untuk bangkit kembali.

Tinggalkan Balasan