Saat ditanya oleh BBC tentang hilangnya nyawa warga sipil dalam serangan udara Israel di Gaza, termasuk jurnalis dan keluarganya, juru bicara IDF Letkol Peter Lerner mengatakan setiap korban jiwa adalah sebuah tragedi.
Rekaman video yang tersebar di media sosial menunjukkan Al-Dahdouh menangis di rumah sakit, sambil memegangi apa yang tampak seperti jenazah putrinya yang berusia tujuh tahun dan berlutut di atas jenazah putranya yang masih remaja. “Tidak ada tempat yang aman sama sekali di Gaza,” katanya.
Al-Dahdouh adalah kepala biro Aljazirah Arab di Gaza dan telah bekerja untuk kantor berita tersebut selama beberapa tahun.
Aljazirah sangat prihatin dengan keselamatan dan kesejahteraan rekan-rekan mereka di Gaza dan meminta pemerintah Israel bertanggung jawab atas keamanan mereka.
“Kami mendesak komunitas internasional untuk campur tangan dan mengakhiri serangan terhadap warga sipil, sehingga menyelamatkan nyawa orang yang tidak bersalah,” kata Aljazirah dalam pernyataannya.
Setidaknya 24 jurnalis telah terbunuh sejauh ini dalam konflik terbaru antara Israel dan Gaza, menurut Komite Perlindungan Jurnalis.
Gaza terus menerus dibombardir militer oleh Israel menyusul serangan mendadak pejuang Hamas pada 7 Oktober.
Kementerian kesehatan yang dikelola Hamas di Gaza mengatakan 7.000 orang tewas di sana. Israel telah memutus pasokan bahan bakar, listrik, dan sebagian besar air ke wilayah tersebut. Sebagian kecil bantuan kini masuk melalui Mesir. (REP)
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan