YOGYAKARTA, BERITA MERDEKA Online – Almarhum Basuki Rahmat dikabarkan meninggal dunia pada peristiwa Rabu (10/4) lalu. Diketahui, Basuki Rahmat melompat dari jembatan Sungai Code, sekira pukul 18.00 WIB. Selang dua hari kemudian pada Jumat (12/4) pagi, warga menemukan sesosok mayat jenis kelamin laki-laki di bawah jembatan Dam Kali Opak Jembatan Kretek I, Dusun Kretek, Parangtritis, Kretek, Bantul. Putera almarhum, Jalung (31) memastikan bahwa temuan mayat tersebut adalah ayah kandungnya.
“Benar memang itu adalah ayah saya mas. Karena sudah diperiksa tim gabungan berdasarkan sidik jarinya di bekas botol minuman mineral dan gelas milik ayah saya,” kata Jalung, Jumat (19/4/2024).
Almarhum kata Jalung, telah dikebumikan pada Kamis (18/4) siang, di Pemakaman Sidikan, Jalan Pramuka, Pandeyan, Umbulharo, Yogyakarta.
“Kemarin baru dikebumikan hari Kamis, sekitar jam 1 siang mas,” ungkapnya.
Jalung juga mengucapkan terima kasih kepada pihak Kepolisian Resor Bantul, Yogyakarta, Basarnas dan Dinas Sosial, atas dukungan dan bantuan yang diberikan dalam upaya pencarian jasad ayahnya.
“Terima kasih saya ucapkan kepada semua pihak seperti kepolisian dari Bantul dan Yogyakarta, Polsek Danurejan dan Dinas Sosial serta Basarnas, yang mendukung pencarian almarhum ayah saya sejak awal hingga pengebumian dilakukan,” beber Jalung.
Almarhum Adalah Sosok Periang Dan Dikenal Gampang Bergaul
Jalung mengenang sosok almarhum, adalah sosok pria yang mudah bergaul dengan siapapun dan mau menolong siapapun.
“Ayah saya orangnya mudah bergaul dengan siapapun. Waktu masih hidup, banyak teman-temannya, suka juga menolong orang,” ungkapnya.
Jalung mengungkapkan, sebelumnya almarhum Basuki menetap di kota Yogyakarta sejak Maret 2024. Namun, akhir-akhir ini, sang ayah terjadi perubahan sikap.
“Ayah saya sejak pertengahan puasa di Yogya. Ya di rumah mbah saya tinggalnya. Tetapi, ada perubahan sikap atau kelakukan ayah saya semenjak merantau dari kota Pekanbaru. Dulu periang, atau gampang diajak bicara, sekarang tiba-tiba pendiam dan saya lihat seperti orang kebingungan.
Bahkan, Jalung menduga, kalau saja almarhum disantet atau diguna-gunai.
“Saya curiga juga mas, namanya nggak seperti itu ayah saya, kok tiba-tiba pendiam orangnya. Kayak orang kebingungan. Saya curiga apa ayah saya digunai ya ? Tapi saya ikhlaskan kepergian ayah,” bebernya.
Jalung menambahkan, almarhum pernah bekerja sebagai guru private dan guide, bahkan sudah pernah pergi ke luar negeri.
“Ayah saya kuasai tiga bahasa, diantaranya ada bahasa Spanyol, Portugis dan Inggris. Semua dari pengalaman atau otodidak. Ayah saya pernah ke negara Zurich, saat menjadi guide wisata. Sebelum kemari, ayah saya merantau di Kota Pekanbaru, dan bekerja sebagai guru private bahasa asing,” pungkasnya. (TIM)
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan