SEMARANG, Berita Merdeka Online – Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) IV/Diponegoro, Letnan Kolonel Inf Andi Soelistiyo, menanggapi beredarnya foto kendaraan roda empat yang menggunakan Plat Dinas TNI AD dengan Nomor Registrasi Kodam IV/Diponegoro, serta dugaan keterlibatan aparat TNI dalam konflik hutan adat Papua yang melibatkan bos tambang Nicholas Nyoto Saputro, sekaligus pemilik koperasi Bahana Lintas Nusantara di Salatiga.
“Hasil pengecekan kami sementara ada indikasi penggunaan plat nomor kendaraan dinas oleh oknum masyarakat tersebut adalah tanpa seijin atau sepengetahuan dari Kodam IV/Diponegoro,” terang Letkol Inf Andi, saat dikonfirmasi pada Selasa (25/6/2024).
Pada foto-foto yang beredar, didalam garasi kantor BLN di Jalan Merdeka Selatan No 54, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga, terdapat mobil-mobil yang berplat TNI AD serta dikawal beberapa anggota TNI.
Mobil-mobil yang ada didalam garasi tersebut, bermerk Toyota Alphard, Mitsubishi Xpander dan Hyundai Palisade.
“Dan di seluruh satuan Kodam IV/Diponegoro untuk kendaraan dinas kami tidak memiliki kendaraan dengan Jenis Hyundai Palisade dan Toyota Alphard,” tandas Andi.
Andi menegaskan bahwa sampai saat ini Kodam IV/Diponegoro sedang mendalami hal tersebut untuk mengumpulkam keterangan berkaitan dengan permasalahan penggunaan Plat Dinas oleh Nicholas Nyoto Saputro.
“Demikian mas saya sampaikan sebagai statemen,” pungkas Kapendam.
Viralnya penggunaan plat TNI itu berawal dari konflik hutan adat di Kampung Sawe Suma, Distrik Unurum Guay, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Dimana pada hari itu beberapa warga Papua mendatangi kantor BLN untuk menemui Nicholas Nyoto Prasetyo.
Bahkan Alvares Guarino selaku kuasa hukum masyarakat adat menduga dalam konflik tersebut diduga ada keterlibatan oknum TNI.
Oknum TNI tersebut diduga membekingi bos tambang asal Salatiga bernama Nicholas Nyoto Prasetyo pemilik PT Bahana Lintas Nusantara (BLN) dan juga menjadi investor beberapa perusahaan di bawah payung Nusantara Grup.
Perusahaan tersebut berpusat di Sidorejo Kota Salatiga, namun saat ini perusahaan yang dipimpin Nicholas sedang berkonflik dengan masyarakat adat papua karena upaya tambang emas ilegal di hutan adat.
Oleh sebab itu, Nicholas yang dikenal dekat dengan beberapa petinggi TNI kemudian memanfaatkan kedekatannya untuk mengerahkan aparat. Bahkan di rumah Nicholas terdapat beberapa mobil berplat hijau milik korps TNI.
Sebagai informasi, konflik antara warga Kampung Sawe Suma, Distrik Unurum Guay, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua bermula saat Investor Tambang asal Salatiga Nicholas Nyoto Prasetyo sekaligus pemilik koperasi Bahana Lintas Nusantara di Salatiga, berniat untuk investasi untuk pembukaan tambang emas.
Setelah melalui serangkaian survei dan pembicaraan dengan ketua adat, pada 20 Februari 2024 terjadi kerjasama sistem bagi hasil. Namun pihak perusahaan justru membabat hutan tanpa ijin terlebih dahulu. Dan hingga saat ini, pembayaran kompensasi itu belum juga tidak dilakukan.
Ketua adat Sawe Suma menginginkan investor tambang tersebut bertanggungjawab atas hutan adat yang rusak setelah adanya pembukaan lahan.(day)
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan