YOGYAKARTA, BERITAMERDEKAONLINE.COM –Praktik prostitusi online ternyata mengkhawatirkan. Untuk mendapatkan pelanggan, wanita pekerja seks komersial (PSK) manawarkan dirinya secara online dengan memanfaatkan fitur aplikasi MiChat. Aplikasi MiChat menjadi salah satu aplikasi yang sering digunakan untuk bisnis prostitusi online.

Saat ini berdasarkan hasil investigasi jurnalis, ditemukan beberapa hotel kelas melati menjadi lokasi terjadinya transaksi prostitusi. Informasi dari sumber dipercaya menyampaikan, bahwa pekerja seks komersial marak bertengger di hotel-hotel kelas melati. Salah satu pelaku PSK mengakuinya, kepada awak media ini.

“Ya saya sudah tiga minggu di hotel ini mas, disini lebih gampang, kalau bertamu ya kamar sudah ready,” kata salah seorang PSK yang meminta namanya tidak dicantumkan, Sabtu (25/11/2023).

Selama beberapa minggu, PSK ini stay di hotel kelas melati tersebut. Bisa memakan waktu cukup lama, tergantung situasi.

“Kadang bisa sampai satu bulan mas, tergantung tamunya banyak dan hotelnya nggak tau kalau saya BO,” ujarnya.

Mengenai tarif jasa seks komersial, dirinya membandrol harga mulai tiga ratus ribu hingga tujuh ratus ribu rupiah.

“Mulai tiga sampai tujuh ratus mas. Nanti biaya hotel, kan sudah termasuk didalamnya,” sambungnya.

Resepsionis hotel saat dipertanyakan mengenai kehadiran PSK yang melalukan Open BO atau booking out atau booking online, mengaku tidak tahu, namun menaruh curiga.

“Ya kita gak tau soal itu mas, hanya saja memang mencurigakanlah. Karena teman dia (Red-PSK) selalu tukar setiap masuk kamar. Semuanya pria yang menjadi temannya atau tamu, kalau benar dia melakukan prostitusi, kami juga akan usir. Disini bukan tempat BO mas,” kata salah seorang staf hotel melati.

Lebih lanjut katanya, setiap seorang penginap misalkan seorang wanita, khusus pelaku PSK tentu terlihat dari segi berpakaian atau penampilannya.

“Dari penampilan saya bisa lihat dia itu PSK atau nggak, karena kalau dia wisatawan tidak mungkin penampilannya demikian, karena seperti PSK pada umumnya yang penampilannya nyentrik dan seksi,” ungkapnya.

Menurut pengamat sosial ekonomi Yogyakarta, Arya Ariyanto, S.E., M.MPar,  faktor-faktor yang menyebabkan maraknya prostitusi dapat bervariasi, termasuk ketidaksetaraan ekonomi, ketidakstabilan sosial, dan kurangnya akses terhadap pendidikan.

“Terkadang, keberadaan jaringan kriminal, kemiskinan, dan pelecehan seksual juga dapat menjadi penyebab. Upaya untuk mengatasi prostitusi harus mencakup pemecahan masalah mendasar, seperti ketidaksetaraan dan kemiskinan, selain juga penegakan hukum yang ketat,” kata Arya yang juga dosen di salah satu universitas itu, Minggu (26/11/2023).

Langkah-langkah untuk menangani prostitusi katanya, melibatkan pendekatan komprehensif yang mencakup berbagai bidang. Beberapa langkah yang dapat diambil meliputi: penegak hukum, pendidikan dan kesadaran, dukungan sosial, pencegahan kemiskinan, kolaborasi dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), perlindungan korban, ketahanan sosial, peran komunitas.

“Penegakan Hukum, berupaya meningkatkan upaya penegakan hukum untuk mengidentifikasi dan menindak pelaku prostitusi serta jaringan kriminal terkait. Pendidikan dan kesadaran, yakni melakukan kampanye pendidikan dan kesadaran untuk menginformasikan masyarakat tentang dampak negatif prostitusi dan mengurangi permintaan, dukungan sosial yakni menyediakan dukungan sosial bagi individu yang terlibat dalam prostitusi, termasuk layanan rehabilitasi, konseling, dan pelatihan keterampilan,” urainya.

“Pencegahan kemiskinan, mengatasi akar penyebab prostitusi dengan upaya untuk mengurangi kemiskinan, memberikan peluang pendidikan, dan meningkatkan akses pekerjaan yang layak, kolaborasi dengan LSM adalah bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi non-pemerintah untuk meningkatkan upaya penanganan prostitusi,” ungkapnya.

“Perlindungan Korban, adalah menyediakan perlindungan yang memadai bagi korban prostitusi, termasuk pemulihan fisik dan psikologis, ketahanan sosial, yakni membangun ketahanan sosial dalam masyarakat untuk mencegah eksploitasi dan meningkatkan pemahaman tentang hak asasi manusia dan peran komunitas, mendorong partisipasi aktif komunitas dalam mengatasi permasalahan prostitusi, termasuk melibatkan pemimpin agama dan tokoh masyarakat,” sambungnya.

Arya menambahkan, langkah-langkah ini harus diterapkan secara bersamaan untuk mencapai dampak yang signifikan, dalam mengurangi atau menghilangkan prostitusi dan dampak negatifnya.

“Jadi upaya atau langkah ini menurut saya, yang dilakukan secara bersamaan. Agar ada dampak yang singnifikan, untuk mengurangi prostitusi serta dampak negatifnya. Disamping penindakan, upaya penyelesaian atau pencegahan yang menjadi prioritas dilakukan,” pungkasnya. (SP/TIM)


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.