SEMARANG, Berita Merdeka Online – Wisuda di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo kali ini membawa cerita inspiratif yang tak terlupakan. Salah satu wisudawan yang mencuri perhatian adalah Muhammad Amin Hambali, seorang tunanetra penuh semangat dari Desa Jlumpang, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang.
Meski memiliki keterbatasan penglihatan, Amin sapaan akrab Muhammad Amin Hambali tak pernah mundur dari impian dan terus berkarya di tengah segala tantangan.
Ia menamatkan studi di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi, membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang bagi semangat dan prestasi.
Sejak awal kuliah, Amin aktif menulis dan meraih berbagai prestasi. Ia pernah menjuarai lomba cerpen dengan kategori tulisan paling menyentuh, dan mendapatkan posisi kedua sebagai tulisan favorit pembaca.
Bakat menulisnya dituangkan dalam berbagai karya yang terbit di cerpen, buletin, hingga situs web LPM Missi. Lewat ketekunan, ia menunjukkan bahwa keistimewaan dalam berkomunikasi dapat dicapai oleh siapa pun, tak peduli batasan fisik yang dimiliki.
Berbekal beasiswa dari Sahabat Mata, Amin memilih Program Studi KPI yang membuka peluang bagi mahasiswa difabel di UIN Walisongo.
Kemampuannya terus berkembang, dan dengan semangat pantang menyerah, Amin berhasil menyusun skripsi bertajuk “Website Kartunet.com sebagai Media Difabel Netra dalam Mengekspresikan Diri Lewat Karya Tulis Bermuatan Islam.”
Melalui skripsi ini, ia berharap dapat menginspirasi sesama difabel untuk lebih percaya diri dalam berkarya.
Awalnya, Amin tertarik mempelajari psikologi demi memahami pola pikir manusia. Namun, seiring berjalannya waktu, ia menyadari betapa pentingnya ilmu komunikasi dalam berinteraksi dan menyampaikan gagasan.
“Belajar tentang komunikasi memberi saya kemampuan untuk menyampaikan perasaan dan pikiran secara lebih efektif,” ujar Amin saat diwawancarai usai wisuda yang berlangsung di Auditorium Kampus 3, Sabtu (2/11/2024), bersama 557 wisudawan lainnya.
Sebagai difabel, perjalanan Amin tak selalu mudah. Tantangan terbesar adalah menavigasi lingkungan kampus yang terkadang tidak ramah bagi tunanetra.
Masa-masa paling menantang terjadi saat ia mengerjakan tugas akhir. Saat teman-teman sibuk dengan proyek masing-masing, Amin merasakan kesulitan dalam mencari referensi dan mengakses informasi.
“Teknologi memang membantu, tapi tetap saja, kadang saya merasa terisolasi,” kenangnya.
Namun, momen paling membekas bagi Amin terjadi saat Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK). Di kegiatan itu, ia menemukan dukungan dan kehangatan dari teman-temannya, pengalaman yang mengubah pandangannya tentang interaksi sosial.
“Perasaan diterima itu sangat berarti bagi saya, serasa menemukan keluarga di antara mereka,” ujarnya.
Usai meraih gelar sarjana, Amin berencana mengabdikan diri untuk mendampingi orang tua yang sudah lanjut usia dan melanjutkan passion-nya dalam menulis.
Ia memiliki impian untuk menyelesaikan novel yang selama ini tertunda. Melalui perjalanannya yang penuh tantangan ini, Amin telah menjadi sosok inspiratif yang mengingatkan mahasiswa lain untuk terus bertanya pada diri sendiri,
“Apa alasan kita berkuliah, dan siapa yang berharap kita sukses?”
“Motivasi terbaik datang dari dalam diri. Ingatlah orang-orang yang selalu berharap dan berdoa untuk keberhasilan kita,” tutupnya. (lim)




Tinggalkan Balasan