GAZA, BERITAMERDEKAONLINE.COM –  Mohammed al-Amasi, seorang pemuda Palestina yang tinggal di Gaza, bersama lima rekannya berinisiatif meluncurkan program pendidikan sambil bermain. Guna membantu meringankan tekanan mental anak-anak penyintas perang di daerah kantong yang dilanda konflik tersebut.

Kelompok relawan itu setiap hari mengunjungi sekolah-sekolah yang beralih fungsi menjadi pusat-pusat pengungsian, satu demi satu di seantero Gaza. Ini untuk menghadirkan tawa dan permainan bagi anak-anak pengungsi dan keluarga mereka.

“Anak-anak biasanya yang paling terkena dampak perang. Belum lagi sebagian besar dari mereka belum pulih dari guncangan psikologis yang dihadapi dalam perang-perang sebelumnya,” kata Al-Amasi kepada Xinhua, Minggu (12/11/2023).

Menggambar, mendongeng, bernyanyi, bermain dengan badut, dan bercerita adalah sebagian dari beberapa kegiatan. Ini yang bertujuan untuk membantu anak-anak mengatasi rasa takut dan cemas di tengah kekacauan dan kehilangan.

“Perang ini adalah yang terburuk dari semuanya, tidak hanya untuk anak-anak tetapi juga untuk orang dewasa. Serangan Israel memusnahkan seluruh keluarga,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa mereka menyaksikan anak-anak yang selamat terjebak dalam pikiran dan ketakutan yang berkepanjangan tentang kematian. Apalagi selama ini mereka telah lolos dari serangan.

Konflik berdarah antara Hamas dan Israel sejak 7 Oktober 2023 telah menjerumuskan lebih dari 2,3 juta warga di Gaza ke dalam krisis kemanusiaan. Di mana dengan akses ke makanan dan air yang sangat terbatas, tidak ada bahan bakar untuk listrik, dan kehancuran total sistem kesehatan. (INT)


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.