SEMARANG, Berita Merdeka Online — Dewan Koperasi Wilayah (Dekopinwil) Jawa Tengah menggelar pengukuhan pengurus periode 2025-2030 sekaligus rapat kerja (raker) di Wisma Perdamaian, Kota Semarang, Selasa (14/4/2026).
Agenda ini menjadi momentum penting untuk memperkuat arah gerakan koperasi di tengah tantangan ekonomi global.
Ketua Dekopinwil Jateng, Sri Hartini, menegaskan bahwa dinamika ekonomi saat ini semakin kompleks.
Persaingan global, percepatan teknologi, serta kesenjangan ekonomi masih menjadi tantangan nyata.
Karena itu, raker ini tidak sekadar agenda seremonial, melainkan titik awal konsolidasi koperasi agar mampu menjawab kebutuhan ekonomi masa depan.
Ia menekankan bahwa koperasi merupakan gerakan rakyat sekaligus alat perjuangan masyarakat kecil.
Menurutnya, koperasi juga menjadi jalan menuju kemandirian ekonomi dan mencerminkan jati diri ekonomi nasional.
Dekopinwil Jateng pun berkomitmen memperkuat koperasi agar tampil sebagai kekuatan ekonomi rakyat yang modern dan kompetitif.
Sri Hartini juga mengapresiasi perhatian pemerintah pusat terhadap pengembangan koperasi.
Ia menyebut, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, koperasi menempati posisi strategis sebagai pilar penggerak ekonomi hingga tingkat desa.
Tantangan dan Arah Strategis Koperasi
Meski demikian, Sri Hartini mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi.
Di antaranya penguatan kelembagaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, akses permodalan, serta adaptasi terhadap digitalisasi ekonomi.

Melalui raker 2026, Dekopinwil Jateng merumuskan sejumlah fokus strategis.
Program tersebut meliputi penguatan kelembagaan koperasi, peningkatan kapasitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan, serta perluasan akses pembiayaan melalui kemitraan dengan lembaga keuangan.
Selain itu, pihaknya mendorong percepatan digitalisasi koperasi agar mampu mengikuti perkembangan ekonomi global.
Sinergi dengan sektor pertanian, perdagangan, industri, perikanan, dan UMKM juga menjadi prioritas untuk memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai lumbung pangan nasional.
Sri Hartini turut mengapresiasi dukungan Bank Jateng yang membantu pembiayaan akta pendirian koperasi di seluruh wilayah Jawa Tengah, sehingga pembentukan koperasi semakin merata.
Pemerintah Dorong Koperasi Lebih Produktif
Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menilai Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi paling progresif dalam pengembangan koperasi, khususnya dalam percepatan pembentukan badan hukum Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Menurutnya, koperasi tidak boleh berhenti pada aspek legalitas, tetapi harus berkembang menjadi badan usaha yang aktif dan produktif.
Ia menekankan pentingnya sinergi antara gerakan koperasi daerah dengan kebijakan pemerintah pusat.
Ferry juga mendorong koperasi untuk memperkuat peran dalam mendukung UMKM.
Produk-produk lokal, kata dia, perlu melalui proses kurasi, inkubasi, hingga pembiayaan agar dapat masuk ke gerai koperasi desa dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Selain itu, koperasi didorong terlibat dalam produksi kebutuhan sehari-hari seperti produk kebersihan dan pangan olahan.
Langkah ini dinilai mampu menggerakkan industri kecil sekaligus memperkuat ekonomi berbasis komunitas.
Koperasi Jadi Solusi Ekonomi Masyarakat
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, meminta kepengurusan baru Dekopinwil mampu menghadirkan perubahan nyata.
Ia menegaskan koperasi harus menjadi simpul penguatan ekonomi kerakyatan, bukan sekadar organisasi formal.
Menurutnya, koperasi perlu berperan sebagai pusat pendampingan bagi pelaku usaha mikro yang jumlahnya mencapai jutaan unit di Jawa Tengah.
Ia juga menekankan pentingnya koperasi dalam membantu UMKM naik kelas.
Selain itu, koperasi harus terbuka bagi masyarakat luas dan mampu menjawab persoalan riil, termasuk praktik pinjaman online ilegal dan rentenir.
Dengan koperasi yang aktif, masyarakat diharapkan memiliki alternatif pembiayaan yang lebih aman dan terjangkau.
Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah, saat ini terdapat 19.022 koperasi aktif dengan lebih dari 6,8 juta anggota.
Total aset mencapai Rp60,13 triliun, dengan volume usaha Rp43,78 triliun dan sisa hasil usaha yang dibagikan kepada anggota sebesar Rp1,16 triliun.
Penguatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih juga terus berjalan.
Dari 8.523 unit yang ditargetkan, sekitar 75,8 persen telah beroperasi, dan sebagian telah memiliki gerai fisik.
Pemerintah daerah berharap koperasi desa/kelurahan dapat berkembang menjadi pusat distribusi logistik sekaligus penggerak ekonomi desa.
Dekopinwil Jateng pun didorong mengambil peran strategis dalam penguatan SDM, digitalisasi, jaringan usaha, serta advokasi perlindungan koperasi.
“Koperasi harus menjadi gerakan bersama untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan ekonomi,” tegas Ahmad Luthfi. (liem)




Tinggalkan Balasan