YOGYAKARTA, BERITAMERDEKAONLINE.COM – Biji nyamplung (Calophyllum inophyllum L.) dan biji jarak (Jatropha curcas L.) merupakan dua tanaman asli Indonesia yang memiliki potensi besar sebagai sumber energi terbarukan. Kedua tanaman ini dapat menghasilkan minyak yang dapat digunakan sebagai bahan bakar biodiesel, bioavtur, dan bahan bakar nabati lainnya.

Berikut adalah perbandingan potensi kedua tanaman tersebut:

KARAKTERISTIK BIJI NYAMPLUNG BIJI JARAK
Produktivitas 20 Ton/Ha/Tahun 15-20 Ton/Ha/Tahun
Kadar Minyak 50-73% 40-60%
Ketahanan Tahan terhadap hama dan penyakit Dapat ditanam di berbagai jenis lahan
Potensi Ekonomi Tinggi Tinggi

Komposisi asam lemak biji nyamplung dan biji jarak

ASAM LEMAK BIJI NYAMPLUNG BIJI JARAK
Asam oleat (C18:1) 30-40% 25-35%
Asam linoleat (C18:2) 25-35% 20-30%
Asam palmitat (C16:0) 20-30% 20-30%
Asam stearat (C18:0) 5-10% 5-10%
Asam lemak lainnya 0-5% 0-5%

Sumber:https://www.researchgate.net/publication/346495567_UJI_KARAKTERISTIK_BIODIESEL_DARI_MINYAK_BIJI_NYAMPLUNG_DENGAN_PROSES_ESTERIFIKASI-TRANSESTERIFIKASI_DENGAN_KATALIS_KOH

baca juga : Tanaman Nyamplung, Potensi Energi Terbarukan Yang Belum Dimanfaatkan Secara Maksimal – Berita Merdeka Online

Namun Biji nyamplung memiliki beberapa kelemahan dibandingkan biji jarak sebagai bahan baku biodiesel, yaitu:

  1. Harga yang lebih mahal

Biji nyamplung memiliki harga yang lebih mahal daripada biji jarak. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:

  1. Budidaya biji nyamplung masih relatif baru di Indonesia, sehingga belum terintegrasi dengan baik.
  2. Budidaya biji nyamplung membutuhkan lahan yang lebih luas dari pada biji jarak.
  3. Budidaya biji nyamplung membutuhkan waktu yang lebih lama dari pada biji jarak.

baca juga : Tahukah Anda, Bisnis Biji Pohon Nyamplung Bisa Hasilkan Uang ? – Berita Merdeka Online

2. Proses pengolahan yang lebih rumit

Proses pengolahan biji nyamplung untuk menghasilkan biodiesel juga lebih rumit daripada biji jarak. Hal ini disebabkan oleh kandungan asam linoleatnya yang lebih tinggi. Asam linoleat merupakan asam lemak tak jenuh ganda yang memiliki titik didih yang lebih rendah daripada asam lemak jenuh. Oleh karena itu, proses pengolahan biji nyamplung membutuhkan suhu yang lebih tinggi dan waktu yang lebih lama.

Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya-upaya untuk mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut. Upaya-upaya tersebut dapat berupa:

01. Meningkatkan produktivitas budidaya biji nyamplung, yaitu:

A. Melakukan penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan varietas biji nyamplung yang lebih produktif.

B. Melakukan budi daya biji nyamplung di lahan-lahan yang subur dan memiliki iklim yang sesuai.

C. Melakukan budi daya biji nyamplung secara intensif.

02. Menyederhanakan proses pengolahan biji nyamplung. Yaitu:

  1. Melakukan penelitian dan pengembangan untuk menghasilkan metode pengolahan biji nyamplung yang lebih efisien.
  2. Menggunakan teknologi yang lebih modern dalam proses pengolahan biji nyamplung.
Ilustrasi tanaman jarak (Ricinus communis L). Bijinya mengandung minyak hampir 50 persen yang banyak digunakan di beragam industri. Namun, biji dan daun jarak juga punya manfaat untuk kesehatan.
Foto Tanaman Jarak

Dengan mengatasi kelemahan-kelemahan tersebut, maka pengembangan biodiesel berbahan baku biji nyamplung dapat lebih optimal.

baca juga : Manfaat Biji Pohon Nyamplung, dan Peluang Transaksi di Bursa Karbon – Berita Merdeka Online

Berdasarkan perbandingan kandungan minyak, produktivitas, komposisi asam lemak, dan karakteristik fisiko-kimia, dapat disimpulkan bahwa biji nyamplung memiliki keunggulan dibandingkan biji jarak sebagai bahan baku biodiesel. Dengan mempertimbangkan faktor-faktor tersebut, maka biji nyamplung dapat menjadi alternatif yang lebih baik daripada biji jarak sebagai bahan baku biodiesel di Indonesia.

Penulis : Arya Ariyanto, S.E., MMPar


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.