Muara Teweh, Berita Merdeka Online – Perkumpulan Warga Batara Mandiri Peduli Sosial dan Investasi (PERWABARA) sukses menggelar Simposium Nasional Masyarakat Adat 2025 di Gedung Balai Antang, Muara Teweh, Kabupaten Barito Utara. Acara ini menghadirkan ratusan peserta dari berbagai elemen, mulai dari 63 kepala desa, demang adat, mantir adat, seluruh camat se-Barito Utara, hingga para investor yang beraktivitas di wilayah tersebut. 29 September 2025

Acara dibuka secara resmi oleh Pj Bupati Barito Utara yang diwakili Sekretaris Daerah Drs. Muhlis, yang dalam sambutannya menekankan pentingnya peran masyarakat adat dalam mendukung investasi berkelanjutan. “Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mendorong keterlibatan masyarakat adat dalam setiap aktivitas ekonomi, agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat,” ujarnya.

Ketua Panitia Simposium, Gusti Rahmadijaya, menyampaikan bahwa kegiatan ini lahir dari kolaborasi putra-putri daerah, pemerhati sosial, dan tokoh masyarakat yang peduli dengan masa depan Barito Utara.
“Kami ingin memastikan masyarakat adat tidak hanya menjadi penonton atas hadirnya investasi di daerah ini. Mereka harus menjadi bagian dari proses pembangunan, bersinergi dengan investor, sehingga manfaatnya nyata bagi kesejahteraan bersama,” tegas Gusti.

Ketua PERWABARA, H. Ajidinnor, SH, menegaskan bahwa simposium tahun ini mengangkat tema “Masyarakat Adat Sebagai Pelaku Penting dalam Dunia Investasi.” Menurutnya, tema ini relevan dengan kebutuhan daerah untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian budaya.

“PERWABARA akan selalu mendukung investor yang berkomitmen menjalankan usaha sesuai peraturan. Kita ingin mendorong terciptanya ekosistem investasi yang sehat, saling mendukung antara pengusaha dan masyarakat,” jelas Aji.

Setda Barito Utara, Drs. Muhlis, dalam sambutannya menegaskan bahwa pemerintah akan terus mengawal kegiatan investasi agar sejalan dengan kepentingan masyarakat adat.
“Simposium ini menjadi momentum menyamakan persepsi. Kita sepakati bersama agar ke depan, masyarakat adat dapat meningkatkan perannya dalam ekonomi lokal, sementara investor mendukung perekonomian masyarakat secara berkelanjutan,” katanya.

Simposium menghasilkan rekomendasi penting, di antaranya mendorong pembentukan forum komunikasi antara investor, pemerintah, dan masyarakat adat; penguatan regulasi yang melindungi hak masyarakat lokal; serta pelatihan keterampilan agar warga dapat berperan aktif dalam proyek-proyek investasi.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara pemerintah, masyarakat adat, dan investor dapat menciptakan pembangunan inklusif yang memperhatikan kearifan lokal sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. (Car)