SEMARANG, Berita Merdeka Online – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, mengusulkan pendirian tiga sekolah menengah atas (SMA) negeri baru kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Usulan tersebut mencakup wilayah Kecamatan Tugu, Genuk, serta Candisari atau Gajahmungkur yang hingga kini belum memiliki sekolah negeri setingkat SMA atau SMK.
“Kita usulkan tiga sekolah, terutama di kecamatan yang belum memiliki SMA negeri, yaitu Tugu, Genuk, dan antara Gajahmungkur dan Candisari,” ujar Agustina, beberapa waktu lalu.
Agustina menjelaskan, khusus untuk wilayah Candisari dan Gajahmungkur, Pemkot Semarang mengusulkan penggunaan gedung SMP Negeri 5 Semarang yang akan direnovasi.
Renovasi akan dilakukan oleh Pemkot, sedangkan pembangunan unit SMA akan dilakukan oleh Pemprov Jateng.
Rencana ini menjadi angin segar bagi warga Kota Semarang. Pasalnya, selama 26 tahun terakhir tidak ada penambahan SMA negeri. Terakhir, SMA Negeri 16 dibangun di Kecamatan Mijen pada tahun 1999.
Menurut Agustina, Pemkot juga menerapkan pola pembangunan terintegrasi, di mana lokasi SMA baru nantinya akan berdekatan atau menyatu dengan bangunan SMP yang sudah ada.
“Harapannya tiga lokasi ini bisa disetujui dan dibangun semua,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bambang Pramusinto, menyebut bahwa sejak awal 2024, pihaknya telah mengajukan pembangunan SMA di lima kecamatan blank spot, yakni Candisari, Gajahmungkur, Gayamsari, Semarang Timur, dan Tugu. Namun usulan tersebut belum sepenuhnya terealisasi.
“Kami akan kembali mengirimkan permohonan ke provinsi. Nantinya, Pemkot hanya menyiapkan lahan, dan pembangunan fisiknya menjadi tanggung jawab Pemprov,” jelas Bambang.
Saat ini, Kecamatan Tugu dinilai paling siap karena telah memiliki lahan yang tersedia dan kajian kelayakan (feasibility study) telah selesai dilakukan.
Ketua DPRD Kota Semarang, Kadarlusman, turut mendorong percepatan pembangunan SMA negeri di wilayah yang belum terlayani. Menurutnya, sistem zonasi membuat banyak warga kecewa karena sulit diterima di sekolah negeri, meskipun lokasinya dekat.
“Misalnya warga Tugu yang dekat dengan SMA N 8, tapi masuk zona Kendal. Mereka merasa dirugikan karena kesulitan mendapatkan akses pendidikan negeri di kota sendiri,” ujar politisi yang akrab disapa Pilus itu.(day)




Tinggalkan Balasan