Serba Serbi Word Celan-Up Day Tahun 2025 Di Kabupaten Solok
Oleh: Ikhsan Nazwir ( Wartawan Berita Merdeka Online )
Arosuka, Berita Merdeka Online – Setiap tahun, World Clean-Up Day (WCD) diperingati sebagai bentuk kepedulian global terhadap permasalahan sampah yang kian mengancam keberlangsungan bumi. Namun tahun ini, di Kabupaten Solok, peringatan WCD bukan sekadar seremonial tahunan atau aksi bersih-bersih belaka. Ia hadir sebagai gerakan kolektif yang menggugah, menyentuh akar budaya masyarakat Minangkabau yang sejak lama menjunjung tinggi nilai gotong royong dan tanggung jawab sosial.
Di tengah tantangan lingkungan yang semakin kompleks, mulai dari pencemaran sungai, krisis sampah plastik, hingga deforestasi, gerakan seperti Solok Bersih menjadi oase harapan. Ketika ratusan warga di Danau Kembar turun tangan memungut sampah dan ribuan bibit pohon ditanam di Gunung Talang, kita menyaksikan bahwa masyarakat tidak kekurangan kepedulian, yang seringkali kurang justru adalah sistem yang mampu merawat kepedulian itu agar berkelanjutan.
Masalah lingkungan bukan hanya soal sampah yang berserakan, tetapi juga soal cara berpikir, pola konsumsi, dan tata kelola sampah yang belum tuntas. Budaya “kumpul-angkut-buang” yang diwariskan dari masa ke masa telah terbukti tidak cukup. Kita perlu revolusi pola pikir: dari konsumtif ke produktif, dari buang ke pilah, dari pasif ke partisipatif.
Pernyataan Bunda Lingkungan Hidup Kabupaten Solok, Nia Jon Firman Pandu, agar masyarakat mulai memilah sampah dari rumah, adalah panggilan nyata untuk transformasi budaya. Sampah bukan lagi beban jika dikelola dengan benar. Ia bisa menjadi sumber daya, bahkan peluang ekonomi, apalagi di tengah geliat UMKM dan kreativitas anak muda yang mulai melirik daur ulang sebagai ladang inovasi.
Kolaborasi: Kunci Keberlanjutan
Yang tak kalah penting adalah model kolaborasi yang terbangun dalam gerakan Solok Bersih. Hadirnya berbagai elemen, mulai dari pemerintah daerah, sektor swasta seperti PT Tirta Investama (AQUA), lembaga nagari, hingga komunitas lokal, membuktikan bahwa menjaga lingkungan adalah kerja kolektif. Tidak bisa dibebankan hanya kepada Dinas Lingkungan Hidup atau segelintir aktivis.

Serba Serbi Word Celan-Up Day Tahun 2025 Di Kabupaten Solok
Namun kolaborasi ini perlu diarahkan tidak hanya pada kegiatan seremonial tahunan, tetapi juga pada penguatan sistem dan regulasi. Mulai dari pengelolaan bank sampah berbasis nagari, insentif bagi pelaku usaha daur ulang, kurikulum lingkungan di sekolah, hingga optimalisasi TPA ramah lingkungan.
Gerakan ini juga penting sebagai bentuk tanggung jawab antar-generasi. Kita bukan sekadar mewarisi alam, tetapi juga bertanggung jawab meninggalkan lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang. Anak cucu kita tidak hanya mewarisi tanah dan air, tetapi juga cara kita memperlakukan bumi hari ini.
World Clean-Up Day bukan akhir, melainkan awal. Momentum ini seharusnya menjadi pemicu untuk membangun budaya bersih yang permanen, melekat dalam keseharian masyarakat Solok. Sebuah budaya yang tidak memerlukan event besar untuk bergerak, karena kesadaran sudah menjadi bagian dari identitas kolektif.
Jika ingin melihat wajah Indonesia Bersih 2029, tengoklah Solok hari ini. Semangat yang dibangun di Danau Kembar dan Gunung Talang adalah refleksi bahwa perubahan besar dimulai dari komunitas kecil, dari aksi nyata, dari gotong royong yang tak lekang oleh zaman.
Saatnya menjadikan WCD bukan sekadar hari, tapi gerakan. Bukan sekadar bersih, tapi juga lestari. Bukan sekadar tren, tapi komitmen jangka panjang menuju Solok yang sehat, hijau, dan berdaya saing. (Nz.Koto)




Tinggalkan Balasan