KOBA, BANGKA TENGAH | BERITA MERDEKA ONLINE – Isu keterlibatan oknum berseragam loreng dalam aktivitas tambang timah ilegal di kawasan Eks Kobatin, Koba, Bangka Tengah, semakin memanas. Kabar ini makin menguat setelah pihak internal Polisi Militer Kodam (Pomdam) II/Sriwijaya membenarkan adanya dugaan keterlibatan oknum anggota TNI.

Salah satu sumber dari internal Pomdam II Sriwijaya, yang enggan disebut namanya, mengungkapkan bahwa pihaknya memang telah mencium indikasi tersebut. Saat ini, mereka hanya tinggal menunggu komando untuk turun ke lapangan.

Anggota Polisi Militer Kodam Sriwijaya sedang berdiskusi terkait penertiban tambang ilegal di Eks Kobatin.

 

“Memang benar ada informasi soal oknum loreng yang terlibat. Kami sekarang hanya menunggu perintah untuk menurunkan tim ke lokasi. Kalau sudah turun, pasti kami tindak tegas,” ujar sumber tersebut kepada Berita Merdeka Online, Senin (8/7/2025).

Baca Juga:

Pangdam Sriwijaya Siap Tindak Tegas Beking Tambang Ilegal

Namun, di sisi lain, pihak Korem 045/Garuda Jaya (Gaya) yang menaungi wilayah tersebut justru memilih berhati-hati. Salah satu sumber di Korem membantah jika keterlibatan oknum berasal dari satuan mereka.

“Kami belum menemukan data bahwa ada anggota kami yang main di sana. Tapi tetap akan kami telusuri untuk memastikan kabar ini benar atau tidak,” tegasnya.

Sebelumnya, Panglima Kodam II/Sriwijaya, Mayjen TNI Ujang Darwis, sudah lebih dulu menegaskan sikapnya. Ia menekankan bahwa jika terbukti ada anggota TNI yang bermain mata dengan penambang ilegal, pihaknya tidak akan segan-segan mengambil tindakan tegas.

Baca Juga:

Warga Desak Pangdam-Kapolda Bongkar Tambang Ilegal Eks Kobatin

“Jangan harap akan kami biarkan. Kalau terbukti, langsung tindak. Ini wilayah milik negara, harus dijaga, bukan dirusak,” tegas Pangdam saat dikonfirmasi wartawan.

Isu ini mencuat seiring maraknya aktivitas tambang timah ilegal di Blok Kolong Merbuk, Kenari, dan Pungguk yang luasnya lebih dari 250 hektare. Wilayah ini sebenarnya sudah berstatus sah sebagai Wilayah Izin Usaha Pertambangan Khusus (WIUPK) PT Timah. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan aktivitas tambang liar tetap berjalan leluasa.

Dua nama yang kerap disebut dalam pusaran praktik ilegal ini adalah Rekky dan Iswadi. Di kalangan warga setempat, Rekky dikenal dengan julukan Preman Kampung, sedangkan Iswadi dijuluki Sultan Koba karena diduga meraup keuntungan besar dari hasil timah ilegal.

Baca Juga:

Meresahkan Masyarakat, Diskotik Milenium dan 2 Tempat ini Akan Dilaporkan MPC Pemuda Pancasila Kota Pangkalpinang

Sebelumnya, sejumlah warga Koba mendesak Pangdam Sriwijaya dan Kapolda Babel turun tangan menertibkan kawasan Eks Kobatin. Mereka resah karena tambang liar ini tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga menimbulkan konflik sosial dan ekonomi.

“Kami warga Koba sudah capek melapor ke polisi, ke Polsek, ke Polres. Tapi seolah tak ada tindakan. Harapan kami sekarang hanya pada Pangdam dan Kapolda,” kata salah satu warga yang enggan disebut namanya.

Hingga kini, aktivitas tambang liar di Kolong Merbuk, Kenari, dan Pungguk masih terus berjalan. Bahkan menurut pantauan lapangan, ratusan ponton rajuk tower masih beroperasi meski statusnya ilegal. (s4F)