Jakarta, Beritamerdekaonline.com – Penunjukan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Dewan Pembina Pemuda Masjid Dunia memberi warna baru bagi dinamika organisasi pemuda Islam lintas negara. Bukan hanya soal kepercayaan terhadap sosok individu, melainkan juga simbol keterhubungan antara kepemudaan, spiritualitas, dan kepemimpinan politik di tingkat regional.

Rapat formatur yang digelar di Singapura beberapa waktu lalu memutuskan nama Bahlil bersama sejumlah tokoh Asia Tenggara lain sebagai bagian dari Dewan Pembina. Sosok-sosok itu antara lain mantan Presiden Singapura Halimah Yacob, Yang Dipertua Negeri Malaka Mohd Ali Rustam, hingga Menteri Senior Kamboja Othsman Hassan. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa wadah ini tak hanya mengikat pemuda, tetapi juga melibatkan tokoh berpengaruh lintas profesi.
Presiden Pemuda Masjid Dunia, Said Al Idrus, menegaskan penunjukan tersebut mencerminkan kebutuhan organisasi terhadap figur yang mampu merangkul generasi muda dengan jejaring internasional. Bahlil dipandang memiliki kapasitas itu karena perjalanan panjangnya dalam organisasi kepemudaan Islam dan dunia usaha.
Dukungan pun datang dari Forum Moeda Indonesia (FORMID). Bendahara Umum FORMID, Yoga Mirza Pratama, menilai figur Bahlil menjadi representasi pemuda Islam yang mampu menyeimbangkan spiritualitas, kepemimpinan, dan keterlibatan aktif dalam pembangunan.
“Bang Bahlil memiliki portofolio lengkap sehingga wajar mendapatkan amanah ini,” kata Yoga, di Jakarta, Selasa (30/9/2025).
Latar belakang Bahlil memperkuat penilaian tersebut. Sebelum dikenal sebagai pengusaha dan pejabat negara, ia merupakan kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Bahkan, ia pernah dipercaya sebagai Bendahara Umum Pengurus Besar HMI, sebuah posisi strategis dalam organisasi mahasiswa Islam terbesar di Indonesia. Tidak berhenti di sana, kiprahnya juga menyentuh basis masyarakat ketika menjabat sebagai Sekretaris Wilayah Pemuda Masjid Papua.
Riwayat panjang ini membuatnya dinilai memiliki pemahaman mendalam tentang dinamika pemuda Islam, baik di tingkat lokal maupun nasional. Ketika kini ia menduduki posisi strategis di lingkup internasional, harapan besar pun muncul agar kehadirannya mampu memperkuat solidaritas pemuda masjid lintas batas negara.
Lebih jauh, penunjukan ini sekaligus membuka ruang diplomasi baru. Kehadiran tokoh dari berbagai negara di tubuh Dewan Pembina menandakan Pemuda Masjid Dunia tidak semata mengurusi aktivitas keagamaan, melainkan juga menjadi kanal dialog budaya, sosial, hingga ekonomi. Di sinilah posisi Bahlil, yang terbiasa membangun jejaring lintas sektor, dianggap akan memberi nilai tambah.
Dengan demikian, pengangkatan Bahlil Lahadalia bukan sekadar penghargaan bagi rekam jejaknya, tetapi juga momentum memperkuat peran pemuda Islam dalam membangun jejaring kawasan. Langkah ini diharapkan menghadirkan kontribusi nyata, bukan hanya bagi komunitas masjid, tetapi juga bagi harmoni masyarakat Asia Tenggara dan dunia Islam secara lebih luas.

Tinggalkan Balasan