Foto: Ketika Menag RI Nazarudin Umar berswa foto bersama tokoh lintas agama di Jakarta 

Beritamerdekaonline.com, Jakarta – Menteri Agama Nazaruddin Umar menekankan pentingnya memahami ajaran agama secara menyeluruh, humanis, dan tidak provokatif, terutama dalam menyikapi perbedaan keyakinan, etnis, serta tradisi budaya di tengah masyarakat majemuk.

Hal tersebut disampaikannya dalam forum akhir tahun Kementerian Agama yang digelar di Jakarta, Senin (22/12/2025).

Di forum itu, Menag menyoroti masih maraknya kesalahpahaman dalam menafsirkan ajaran agama akibat keterbatasan bahasa serta pemotongan konteks ajaran.

Ia menegaskan bahwa seluruh manusia berasal dari keturunan Nabi Adam dan memiliki kedudukan yang sama sebagai ciptaan Tuhan. Karena itu, tidak ada alasan untuk memandang orang lain dengan kebencian hanya karena perbedaan ajaran atau latar belakang etnis.

“Semua manusia adalah milik Tuhan. Tidak boleh ada sikap diskriminatif atau kebencian terhadap sesama manusia,” ujar Nazaruddin Umar.

Menag juga mengulas perbedaan istilah dalam Al-Qur’an seperti al-din, al-millah, dan al-mu’min yang kerap disamakan dalam terjemahan bahasa Indonesia. Menurutnya, keterbatasan bahasa menyebabkan makna ajaran menjadi sempit dan berpotensi disalahpahami.
“Al-din bersifat universal dan mencakup seluruh nilai kebaikan. Sedangkan al-millah lebih bersifat lokal dan kultural. Ketika semuanya diterjemahkan hanya sebagai ‘agama’, maka kedalaman maknanya hilang,” jelasnya.

Hal serupa, lanjutnya, juga terjadi pada konsep cinta dalam Al-Qur’an. Dalam bahasa Arab terdapat banyak istilah cinta dengan makna dan konteks yang berbeda, mulai dari cinta biologis hingga cinta spiritual tanpa syarat.

Namun, dalam bahasa Indonesia semuanya diterjemahkan menjadi satu kata, yakni “cinta”, sehingga nuansa makna tersebut tidak tersampaikan secara utuh.

Dalam kesempatan itu, Menag juga meluruskan pernyataannya yang sebelumnya dipersoalkan sebagian pihak terkait isu toleransi beragama, khususnya mengenai aktivitas ibadah non-Muslim di lingkungan masjid. Ia menegaskan tidak pernah mengizinkan ibadah agama lain dilakukan di dalam masjid.

“Saya hanya menyampaikan konteks sejarah dan hadis Nabi Muhammad SAW tentang sikap toleransi dan kemanusiaan, termasuk bantuan kepada pemeluk agama lain untuk pembangunan rumah ibadah mereka melalui dana hibah, bukan zakat,” tegasnya.

Menurut Nazaruddin Umar, menolak atau menyembunyikan fakta sejarah dan hadis sahih justru berpotensi menimbulkan konflik dan kesalahpahaman di tengah masyarakat. Karena itu, ia mengingatkan agar ajaran agama disampaikan secara lengkap, tidak dipotong-potong, dan tidak ditafsirkan secara emosional.

Ia juga menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang gemar memelintir pernyataan dan mencari perbedaan tanpa mengkaji sumber aslinya. Menag pun mengajak masyarakat untuk lebih bijak, tenang, dan kritis dalam menyikapi perbedaan pendapat, terutama dalam isu-isu keagamaan yang sensitif.

“Silakan berbeda pendapat, tetapi mari kita periksa bersama kebenarannya berdasarkan sumber yang jelas. Jangan sampai emosi dan potongan informasi justru memecah persatuan,” pungkasnya. (@m)


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.