Oleh : Cut Raudhatul Mahasiswa Prodi Tadris Bahasa Indonesia Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe
Beritamerdekaonline.com – Tradisi peusijuk merupakan salah satu bentuk adat istiadat yang masih sangat kental dijalankan oleh masyarakat Aceh Utara, khususnya di wilayah Lhoksukon, di mana praktiknya tidak hanya menjadi simbol budaya semata tetapi juga sebagai bentuk pengamalan nilai religius yang menyatu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Dalam pelaksanaannya, tradisi ini memiliki beberapa tahapan penting yang tidak terpisahkan, mulai dari persiapan, pelaksanaan inti, hingga penutup berupa doa bersama, yang semuanya memiliki makna mendalam dan mencerminkan harapan akan keberkahan, keselamatan, serta kesejahteraan bagi individu yang melaksanakan tradisi tersebut.

Untuk memperkuat pemahaman mengenai tradisi ini, berikut disajikan beberapa contoh dokumentasi visual yang menggambarkan praktik peusijuk yang umum
dilakukan di Aceh Utara, khususnya di Lhoksukon, beserta penjelasan lengkapnya:
1. Prosesi Peusijuk oleh Tengku atau Imam Gampong
Pada gambar ini terlihat seorang tengku atau imam gampong yang sedang memimpin jalannya prosesi peusijuk, yang merupakan bagian paling inti dalam tradisi ini, di mana seorang tokoh agama memiliki peran penting sebagai perantara doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT. Dalam praktiknya di Lhoksukon, masyarakat sangat menghormati keberadaan tengku karena dianggap memiliki pengetahuan agama yang lebih dalam, sehingga doa yang dipimpin diharapkan membawa keberkahan yang lebih besar
Prosesi ini biasanya dilakukan dengan cara memercikkan air yang telah dicampur
dengan tepung tawar menggunakan daun peusijuk ke arah orang atau benda yang akan didoakan, seperti pengantin, kendaraan baru, atau rumah baru. Sambil melakukan prosesi tersebut, tengku akan membacakan doa-doa keselamatan, yang
mencerminkan harapan agar segala aktivitas yang akan dijalani ke depan terhindar dari marabahaya dan diberikan kelancaran.
Caption: Prosesi peusijuk yang dipimpin oleh tengku/imam gampong sebagai bentuk doa keselamatan dan keberkahan dalam masyarakat Aceh Utara.
2. Ketan Bulukat dan Tumpoe sebagai Simbol Kebersamaan
Gambar ini menunjukkan hidangan khas yang selalu hadir dalam tradisi
peusijuk, yaitu ketan (bulukat) dan tumpoe, yang tidak hanya berfungsi sebagai makanan tetapi juga memiliki nilai simbolik yang sangat kuat dalam budaya Aceh. Ketan yang lengket melambangkan eratnya hubungan kekeluargaan dan
kebersamaan, sedangkan tumpoe melengkapi makna tersebut sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat yang diberikan.
Di wilayah Lhoksukon, penyajian makanan ini biasanya dilakukan oleh pihak keluarga yang mengadakan acara sebagai bentuk penghormatan kepada tamu dan juga sebagai bagian dari sedekah. Setelah prosesi peusijuk selesai, makanan ini akan disantap bersama-sama, yang semakin mempererat
hubungan sosial antar masyarakat.
Caption: Ketan bulukat dan tumpoe sebagai hidangan wajib dalam tradisi peusijuk yang melambangkan kebersamaan dan rasa syukur.
3. Perlengkapan Daun Peusijuk (Tujuh Macam Daun)
Pada gambar ini terlihat berbagai jenis daun yang digunakan dalam prosesi
peusijuk, yang biasanya terdiri dari tujuh macam daun berbeda yang memiliki makna simbolis tersendiri. Masyarakat Aceh percaya bahwa daun-daun tersebut
melambangkan kesejukan, ketenangan, dan perlindungan dari segala hal buruk.
Di Lhoksukon, pemilihan daun tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan mengikuti tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Daun-daun ini kemudian digunakan sebagai alat untuk memercikkan air tepung tawar ke objek peusijuk, yang menjadi simbol pemberian berkah dan doa keselamatan.
Caption: Perlengkapan daun peusijuk yang terdiri dari tujuh jenis daun sebagai simbol kesejukan, keselamatan, dan keberkahan.
4. Peusijuk pada Kendaraan Baru dan Pengantin
Gambar ini memperlihatkan penerapan tradisi peusijuk dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, khususnya pada saat seseorang membeli kendaraan baru atau ketika pasangan akan melangsungkan pernikahan. Di Lhoksukon, kedua momen ini dianggap sangat penting sehingga perlu didoakan agar mendapatkan keselamatan dan keberkahan.
Pada peusijuk kendaraan, prosesi dilakukan dengan memercikkan air tepung tawar ke kendaraan sebagai simbol perlindungan selama digunakan. Sedangkan
pada pernikahan, peusijuk dilakukan kepada kedua mempelai sebagai doa agar kehidupan rumah tangga mereka harmonis, damai, dan penuh berkah.
Caption: Pelaksanaan peusijuk pada kendaraan baru dan pengantin sebagai bentuk doa keselamatan dan harapan kehidupan yang lebih baik.
Penutup
Melalui dokumentasi visual dan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tradisi peusijuk di Aceh Utara, khususnya Lhoksukon, bukan hanya sekadar adat istiadat, melainkan juga merupakan bagian dari identitas budaya yang sarat akan nilai religius, sosial, dan filosofis. Keberadaan tradisi ini yang masih terus
dijalankan hingga saat ini menunjukkan bahwa masyarakat Aceh tetap menjaga warisan leluhur mereka, sekaligus menjadikannya sebagai pedoman dalam
menjalani kehidupan yang penuh dengan nilai kebersamaan dan keimanan.




Tinggalkan Balasan