Bengkulu, Beritamerdekaonline.com – Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Bengkulu menggencarkan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya resistensi antimikroba atau Antimicrobial Resistance (AMR), terutama akibat penggunaan antibiotik yang tidak tepat dan tanpa resep dokter.

Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Senam AMR yang melibatkan sekitar 800 peserta di Plaza Stadion Sawah Lebar, Kota Bengkulu, Minggu (8/11/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-62 sekaligus mengajak masyarakat membangun pola hidup sehat melalui olahraga dan pemahaman penggunaan obat secara bijak.

Kegiatan tersebut melibatkan Pemerintah Provinsi Bengkulu, Pemerintah Kota Bengkulu, unsur kesehatan, serta berbagai elemen masyarakat. Selain menjaga kebugaran, kegiatan ini dimanfaatkan sebagai sarana menyampaikan informasi mengenai ancaman resistensi antimikroba yang dapat berdampak terhadap efektivitas pengobatan penyakit infeksi.
Kepala Balai POM Bengkulu, Kodon Tarigan, mengatakan Senam AMR merupakan inisiatif BPOM Bengkulu dalam menghadirkan metode edukasi kesehatan yang lebih menarik, mudah diterima, dan dekat dengan aktivitas masyarakat.
Menurutnya, pendekatan melalui olahraga diharapkan mampu memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya penggunaan antibiotik sesuai aturan medis.
“Senam AMR ini merupakan senam yang kita ciptakan sendiri, inisiatif kita sendiri dan sudah kita laporkan ke pusat. Mudah-mudahan nanti ini bisa dikembangkan secara nasional,” ujar Kodon.
Ia menjelaskan, gerakan Senam AMR tersebut diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan dalam peringatan HKN, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai salah satu media kampanye kesehatan di berbagai daerah di Indonesia.
Kodon menambahkan, keterlibatan 800 peserta menunjukkan dukungan berbagai pihak terhadap upaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai resistensi antimikroba.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian BPOM adalah kebiasaan menggunakan antibiotik tanpa pemeriksaan dan resep dokter. Padahal, penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat mendorong terjadinya resistensi, yakni kondisi ketika mikroorganisme penyebab infeksi menjadi kebal terhadap obat antimikroba.
Akibatnya, obat yang sebelumnya efektif untuk mengatasi infeksi dapat kehilangan kemampuannya sehingga pengobatan menjadi lebih sulit.
Untuk menekan risiko tersebut, pemerintah daerah bersama BPOM telah mendorong penerapan ketentuan distribusi antibiotik melalui surat edaran kepada apotek dan fasilitas pelayanan kesehatan. Antibiotik tidak boleh diberikan secara bebas dan harus disertai resep dokter.
Kodon mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Bengkulu dan Pemerintah Kota Bengkulu dalam memperkuat pengawasan serta kepatuhan terhadap ketentuan penggunaan antibiotik.
Ia berharap masyarakat semakin memahami bahwa antibiotik harus digunakan berdasarkan pemeriksaan dan petunjuk tenaga medis, bukan atas inisiatif sendiri.
Sementara itu, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda Provinsi Bengkulu, Khairil Anwar, mengapresiasi BPOM Bengkulu, Dinas Kesehatan, dan seluruh unsur kesehatan yang telah bersinergi menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Menurut Khairil, peningkatan derajat kesehatan masyarakat membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah tidak cukup hanya menyediakan fasilitas dan pelayanan kesehatan, tetapi juga harus memastikan masyarakat memiliki kesadaran untuk melakukan pencegahan penyakit.
Ia menegaskan bahwa pemeriksaan kesehatan sejak dini merupakan langkah penting agar potensi gangguan kesehatan dapat diketahui dan ditangani sebelum berkembang menjadi penyakit yang lebih serius.
Salah satu program pemerintah untuk mendukung upaya tersebut adalah Cek Kesehatan Gratis (CKG). Melalui program ini, masyarakat diharapkan dapat mengetahui kondisi kesehatannya lebih awal sehingga penanganan medis dapat dilakukan sesuai kebutuhan.
Namun, Khairil mengungkapkan masih terdapat tiga dari 10 kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu yang capaian program CKG-nya tergolong rendah, termasuk Kota Bengkulu.
Karena itu, ia meminta Dinas Kesehatan Kota Bengkulu bersama seluruh pemangku kepentingan meningkatkan sosialisasi dan pelayanan agar partisipasi masyarakat terus bertambah serta target nasional dapat tercapai.
“Kita sama-sama mengejar target nasional, sehingga sejak dini kesehatan masyarakat bisa kita pantau. Jangan tunggu masyarakat menderita penyakit yang parah baru kita ambil tindakan, tetapi sejak awal sudah bisa terdeteksi dan diobati,” kata Khairil.
Ia menambahkan, deteksi dini memberikan kesempatan bagi tenaga kesehatan untuk melakukan penanganan lebih cepat sebelum penyakit berkembang semakin parah. Dengan demikian, proses pengobatan dapat dilakukan lebih efektif dan kualitas kesehatan masyarakat dapat terus ditingkatkan.
Khairil juga mengajak masyarakat berpartisipasi dalam seluruh rangkaian peringatan HKN ke-62 di Provinsi Bengkulu. Menurutnya, gerakan membangun masyarakat sehat tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan keluarga, komunitas, serta seluruh lapisan masyarakat.
Rangkaian peringatan HKN ke-62 tingkat Provinsi Bengkulu akan berlanjut dengan berbagai kegiatan dan dijadwalkan mencapai puncaknya pada 15 November 2026 di Sport Center Bengkulu.
Pemerintah Provinsi Bengkulu berharap momentum tersebut dapat memperkuat kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat, melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala, serta menggunakan obat secara tepat dan bertanggung jawab.
Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.




Tinggalkan Balasan