Bengkulu, Beritamerdekaonline.com – Keluhan kesehatan yang dialami sejumlah siswa penerima Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN 18 Kabupaten Kepahiang akhirnya menemukan titik terang. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium yang dilakukan oleh Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Laboratorium Kesehatan Daerah, gangguan kesehatan yang dialami para siswa diduga kuat berkaitan dengan kontaminasi bakteri Staphylococcus aureus pada nasi yang disajikan dalam menu MBG.

‎Hasil Uji Laboratorium Keluar, Gangguan Kesehatan Siswa Penerima MBG di SDN 18 Kepahiang Dipicu Kontaminasi pada Nasi.


‎Menanggapi hasil tersebut, Ketua Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas (HMD-Gemas) Wilayah Regional Bengkulu, Wehelmi Ade Tarigan, S.H., M.M., menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan tidak ditemukan zat berbahaya maupun bahan beracun pada lauk-pauk yang disajikan kepada siswa.

‎Menurut Wehelmi, hasil uji BPOM mengungkap adanya kontaminasi bakteri Staphylococcus aureus serta kandungan nitrit dalam jumlah yang sangat kecil pada sampel nasi. Ia menjelaskan bahwa kondisi tersebut diduga terjadi akibat kesalahan dalam proses pemorsian makanan.

‎“Alhamdulillah, hasil pemeriksaan menunjukkan tidak ditemukan zat berbahaya pada makanan. Namun, ditemukan bakteri Staphylococcus aureus dan kandungan nitrit dalam jumlah sangat kecil pada nasi. Ini diduga terjadi karena nasi yang masih panas langsung dimasukkan ke dalam wadah makanan sehingga menimbulkan uap dan kondensasi air yang kemudian memengaruhi kualitas nasi,” ujar Wehelmi, di Bengkulu, Rabu (17/6/2026).

‎Ia menambahkan bahwa kadar nitrit yang ditemukan hanya sekitar 0,1 miligram per kilogram, sehingga berdasarkan informasi dari pihak kesehatan tidak berada pada tingkat yang membahayakan bagi manusia. Meski demikian, bagi anak-anak yang kondisi fisiknya kurang fit, konsumsi makanan yang terkontaminasi dapat menimbulkan gejala seperti mual dan ketidaknyamanan pada saluran pencernaan.

‎Wehelmi menegaskan bahwa kejadian tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius bagi seluruh pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar lebih disiplin dalam menerapkan standar operasional prosedur (SOP) pengolahan makanan.

‎“Ini bukan sesuatu yang boleh diabaikan. Justru harus menjadi pelajaran penting bagi seluruh SPPG agar lebih memperhatikan tahapan pengolahan dan penyajian makanan. Nasi yang baru matang sebaiknya didinginkan terlebih dahulu hingga uap panas hilang sebelum dimasukkan ke dalam wadah,” katanya.

‎Ia juga mengaku bersyukur karena hasil pemeriksaan tidak menunjukkan adanya kasus keracunan makanan akibat zat berbahaya. Namun demikian, pihaknya tetap berkomitmen melakukan perbaikan guna mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.

‎Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang, Dr. H. Tajri Fauzan, S.KM., M.Si., menjelaskan bahwa pihaknya telah menerima dua jenis hasil pemeriksaan laboratorium, yakni pemeriksaan sampel muntahan siswa yang dilakukan oleh Laboratorium Kesehatan Daerah Bengkulu dan pemeriksaan sampel makanan yang dilakukan oleh BPOM.

‎Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, ditemukan adanya bakteri Staphylococcus aureus pada sampel muntahan siswa. Temuan serupa juga ditemukan pada sampel makanan yang diperiksa oleh BPOM.

‎“Hasil pemeriksaan laboratorium terhadap muntahan menunjukkan adanya bakteri Staphylococcus aureus. Kemudian hasil pemeriksaan BPOM terhadap sampel makanan juga menunjukkan adanya cemaran bakteri yang sama. Artinya, terdapat keterkaitan yang kuat antara makanan yang dikonsumsi dan gangguan kesehatan yang dialami siswa,” jelas Tajri.

‎Ia mengatakan bahwa hasil investigasi menunjukkan adanya hubungan epidemiologis yang kuat antara konsumsi makanan yang terkontaminasi dan gejala yang muncul pada siswa SDN 18 Kepahiang. Dari hasil penelusuran, sumber kontaminasi diduga berasal dari nasi yang terpapar bakteri akibat proses penanganan makanan yang kurang higienis.

‎Menurutnya, kontaminasi tersebut kemungkinan berasal dari penjamah makanan atau petugas yang terlibat dalam proses pengolahan dan penyajian makanan. Faktor seperti kebersihan tangan yang kurang terjaga atau penggunaan masker yang tidak sesuai prosedur dapat menjadi penyebab masuknya bakteri ke dalam makanan.

‎“Kesimpulan sementara menunjukkan bahwa nasi terkontaminasi oleh penjamah makanan. Bisa berasal dari tangan yang kurang bersih atau prosedur penggunaan alat pelindung diri yang tidak diterapkan secara optimal. Karena itu, aspek higiene dan sanitasi menjadi perhatian utama dalam evaluasi ini,” ungkapnya.

‎Sebagai tindak lanjut, Dinas Kesehatan Kabupaten Kepahiang telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi kepada pengelola SPPG. Di antaranya adalah melakukan pembinaan higiene dan sanitasi terhadap seluruh pengelola dan penjamah makanan, melaksanakan pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi petugas dapur, serta memastikan penerapan prosedur keamanan pangan dalam setiap tahapan pengolahan dan penyajian makanan.

‎Selain itu, pengelola juga diminta meningkatkan pengawasan internal terhadap kualitas makanan, memperbaiki sanitasi lingkungan dan sarana pengolahan makanan, serta menyediakan sistem keamanan pangan atau food security untuk mendukung pemeriksaan sampel makanan secara berkala.

‎Tajri menegaskan bahwa pengawasan terhadap pelaksanaan program MBG akan terus diperketat guna memastikan keamanan pangan bagi para siswa. Pihaknya juga akan melakukan evaluasi terhadap sarana pendukung, termasuk ketersediaan air bersih dan fasilitas sanitasi di dapur penyedia makanan.

‎“Inti dari hasil pemeriksaan ini adalah pentingnya menjaga higiene dan sanitasi. Ke depan, seluruh rekomendasi akan kami pantau pelaksanaannya agar kualitas dan keamanan makanan bagi siswa benar-benar terjamin,” tegasnya.

‎Dengan keluarnya hasil laboratorium tersebut, diharapkan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis dapat menjadikan kejadian ini sebagai evaluasi bersama untuk meningkatkan standar keamanan pangan, sehingga manfaat program bagi anak-anak sekolah dapat terus berjalan dengan aman, sehat, dan berkualitas.


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.