SEMARANG, Berita Merdeka Online – Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, melepas Kirab Nostalgia Dugderan di Alun-Alun Masjid Agung Semarang pada Jumat (18/9) sore. Kegiatan tersebut menghadirkan sekitar 1.000 peserta dari berbagai komunitas dan latar belakang etnis serta agama.

Kirab Nostalgia Dugderan digelar di tengah pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional XXXI sebagai upaya memperkenalkan salah satu tradisi budaya Kota Semarang kepada peserta dan tamu dari berbagai daerah.

Agustina turut menabuh bedug dan membagikan roti ganjel rel kepada masyarakat yang hadir. Menurutnya, kegiatan tersebut sengaja dikemas untuk menghadirkan kembali suasana Dugderan sekaligus menunjukkan keberagaman yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kota Semarang.

“Sebenarnya kirab ini digelar jelang Ramadan, tapi kita perkenalkan saat MTQ untuk memperkenalkan tradisi dan keberagaman Kota Semarang kepada masyarakat dari luar daerah,” kata Agustina.

Ia menjelaskan, Dugderan pada dasarnya merupakan tradisi untuk menyambut datangnya bulan Ramadan bagi umat Islam. Namun dalam pelaksanaannya, tradisi tersebut melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang.

“Walaupun sebenarnya kirab Dugder ini diniatkan untuk membuka masa puasa bagi teman-teman yang muslim, tetapi semuanya etnis ikut dan meramaikan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang Indriyasari mengatakan, sekitar 1.000 peserta mengikuti Kirab Nostalgia Dugderan. Mereka berasal dari berbagai komunitas di Kota Semarang.

“Peserta total ada kurang lebih 1.000, terdiri dari komunitas-komunitas yang ada di Kota Semarang. Tentunya perwakilan dari Arab, Cina, Jawa, Eropa juga ada di sini semuanya,” kata perempuan yang akrab disapa Iin tersebut.

Iin mengatakan, keterlibatan berbagai komunitas merupakan bagian dari upaya menghadirkan kembali suasana kirab Dugderan sekaligus memperlihatkan keberagaman Semarang kepada para tamu yang datang dalam rangka MTQ Nasional XXXI.

“Mereka kangen dengan kirab, mereka ingin menampilkan untuk tamu-tamu ini. Jadi, ini memang bukan kirab, tetapi mengenang kembali kirab yang kita adakan,” ujarnya.

Agustina menambahkan, pelaksanaan kegiatan juga melibatkan berbagai unsur masyarakat dan pemerintahan, termasuk Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Forkopimda, organisasi perangkat daerah hingga jajaran kecamatan.

Menurutnya, keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa tradisi Dugderan tidak hanya menjadi bagian dari budaya masyarakat Muslim, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan bagi masyarakat Kota Semarang yang beragam.

“Ini memberi tanda kepada kita bahwa Kota Semarang memang sudah sejak lama hidup dari keberagaman,” katanya.

Kirab Nostalgia Dugderan diharapkan menjadi media promosi budaya dan pariwisata Kota Semarang. Pemkot Semarang juga berharap masyarakat dari luar daerah semakin mengenal tradisi tersebut sebelum pelaksanaan kirab Dugderan yang sesungguhnya pada tahun berikutnya.(day)Kirab Nostalgia Dugderan


Eksplorasi konten lain dari Berita Merdeka Online

Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.